Penjualan ponsel China mengalami tekanan besar karena beberapa merek lokal mulai ditinggalkan konsumen, terutama di pasar domestik mereka sendiri. Data dari Counterpoint Research menunjukkan bahwa pada kuartal keempat 2025, pabrikan seperti vivo, Huawei, dan Xiaomi mengalami penurunan penjualan lebih dari 10% year-on-year (YoY). Sementara itu, Oppo yang sempat mencatat pertumbuhan positif sekitar 10%, masih kalah jauh dibanding lonjakan penjualan iPhone hingga 28% YoY di China.
Penurunan ini mencerminkan perubahan perilaku konsumen di China yang semakin banyak beralih ke merek asing, terutama Apple. Seri iPhone 17 menjadi titik balik bagi Apple di China, mengangkat kembali popularitasnya setelah berbulan-bulan pendapatan yang terpuruk. Produk ini menawarkan desain baru yang menarik, termasuk warna oranye cerah atau yang disebut ‘Hermes orange’, yang berhasil mencuri perhatian pengguna muda dan influencer di media sosial.
Faktor Estetika dan Harga yang Kompetitif
Peningkatan minat masyarakat pada iPhone 17 Pro oranye bukan hanya karena fitur teknologinya, tetapi juga nilai estetika yang kuat. Sebagaimana diungkapkan oleh Nabila Popal, direktur riset IDC, perubahan desain yang mencolok menjadi alasan utama bagi banyak konsumen untuk segera meng-upgrade perangkat mereka. Selain itu, Apple secara strategis mematok harga iPhone 17 tepat di bawah batas skema subsidi yang diterapkan pemerintah China, yakni di angka 5.999 yuan.
Pemerintah China menyediakan insentif hingga 15% untuk pembelian smartphone dengan harga di bawah 6.000 yuan melalui program subsidi sebesar US$43 miliar. Kebijakan ini mendorong masyarakat menengah naik kelas untuk membeli perangkat premium seperti iPhone 17 standar tanpa harus menanggung beban harga yang tinggi. Kombinasi antara desain menarik, harga yang bersaing, dan dukungan subsidi membuat Apple berhasil meraih pertumbuhan pendapatan sebesar 38% YoY di China.
Ketegangan Geopolitik dan Persaingan Lokal
Tekanan geopolitik antara Amerika Serikat dan China juga turut mempengaruhi kondisi pasar ponsel. Merek-merek China menghadapi rintangan dalam menghadapi persaingan di segmen premium akibat investasi dan teknologi yang terbatas dibandingkan Apple. Meski merek lokal banyak mengutamakan fitur seperti kamera kompetitif dan layar lipat, hal itu belum cukup membendung dominasi Apple yang makin kuat di pasar premium.
CEO Apple, Tim Cook, secara terbuka mengaku bahwa pertumbuhan di China menjadi angin segar setelah kinerja penjualan cukup menantang selama beberapa kuartal sebelumnya. Apple bahkan mencatat lonjakan pengguna baru yang beralih dari sistem operasi Android ke iOS, mencerminkan tren adaptasi teknologi Apple yang semakin meluas di kalangan konsumen China.
Tabel Peringkat Pangsa Pasar Smartphone China Q4 2025
| Peringkat | Merek | Pangsa Pasar | Pertumbuhan YoY |
|---|---|---|---|
| 1 | Apple | 20% | +10% |
| 2 | Samsung | 19% | +5% |
| 3 | Xiaomi | 13% | Stabil |
| 4 | Vivo | 8% | -3% |
| 5 | Oppo | 8% | -4% |
Data tersebut mengindikasikan bahwa Apple telah merebut posisi teratas sebagai penguasa pasar smartphone global sekaligus di China, sementara merek lokal justru mengalami stagnasi atau kemunduran penjualan.
Perubahan Preferensi Konsumen dan Masa Depan Industri
Perubahan tren konsumsi ini merupakan sinyal peringatan bagi produsen ponsel asal China untuk berinovasi lebih agresif. Konsumen kini cenderung mengutamakan kombinasi desain menarik, harga yang terjangkau lewat subsidi pemerintah, dan sistem operasi yang kaya fitur dan stabil seperti iOS. Apple berhasil memanfaatkan celah ini dengan strategi produk yang tepat serta daya tarik merek kuat.
Meskipun sejumlah merek China telah mengembangkan teknologi seperti layar lipat dan fitur AI, inovasi tersebut belum mampu mengubah preferensi konsumen dalam jangka pendek. Pasar smartphone premium di China semakin didominasi oleh Apple, dan para pemain lokal harus memperbaiki strategi agar bisa bersaing kembali.
Dengan kondisi pasar smartphone China yang berubah dinamis, konsumen diperkirakan terus mencari merek yang memberikan nilai lebih dari segi desain, teknologi, dan harga. Peralihan besar-besaran ke perangkat Apple merupakan refleksi langsung dari kemampuan Apple menyesuaikan produk dan strategi pemasaran di tengah tantangan geopolitik dan persaingan sengit.
Baca selengkapnya di: www.cnbcindonesia.com