Data ketenagakerjaan Amerika Serikat terbaru menunjukkan penambahan 130.000 pekerjaan, hampir dua kali lipat ekspektasi pasar. Angka pengangguran juga turun menjadi 4,3%, menandakan pasar tenaga kerja yang kuat dan tangguh.
Kondisi pasar tenaga kerja yang solid sebenarnya positif bagi ekonomi secara umum. Namun, data tersebut memberikan sisi yang lebih hati-hati terhadap aset berisiko seperti Bitcoin.
Dampak pada Kebijakan The Fed dan Pasar Obligasi
Pasar sebelumnya memperkirakan potensi pemangkasan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang karena perlambatan pertumbuhan ekonomi. Kini, kekuatan pasar tenaga kerja mengurangi tekanan untuk pelonggaran kebijakan moneter tersebut.
Para investor kemudian menyesuaikan ekspektasi mereka terhadap kebijakan Federal Reserve. Imbasnya, imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun melonjak menuju 4,2%. Imbal hasil obligasi dua tahun pun meningkat, mencerminkan berkurangnya peluang pemangkasan suku bunga jangka pendek.
Pengaruh pada Kondisi Likuiditas dan Bitcoin
Kenaikan imbal hasil obligasi memperketat kondisi keuangan secara umum. Tingginya biaya pinjaman sekaligus meningkatkan suku bunga diskonto yang dipakai untuk menilai aset berisiko.
Bitcoin sangat sensitif terhadap perubahan likuiditas. Saat imbal hasil obligasi naik, modal cenderung mengalir ke aset-aset berisiko lebih rendah dan memberikan hasil seperti obligasi pemerintah.
Selain itu, kenaikan yield biasanya disertai penguatan dolar AS. Dolar yang kuat mengurangi likuiditas global dan membuat aset spekulatif seperti Bitcoin menjadi kurang menarik.
Respon dan Risiko Volatilitas Bitcoin
Meski sempat stabil sekitar level $70.000, data ketenagakerjaan ini meningkatkan risiko volatilitas kembali pada Bitcoin. “Laporan ini menjadi hambatan jangka pendek bagi Bitcoin,” ujar David Hernandez, spesialis investasi kripto dari 21shares.
Menurut Hernandez, peluang pemangkasan suku bunga pada Maret kini semakin kecil dan menegaskan posisi The Fed pada rentang suku bunga 3,50%–3,75%. Katalis pelonggaran uang murah yang dibutuhkan aset berisiko untuk pemulihan berkelanjutan kini semakin tertunda.
Sensitivitas Bitcoin terhadap Perubahan Makroekonomi
Crash pasar kripto baru-baru ini menegaskan betapa Bitcoin kini rentan terhadap pergeseran kondisi makro. Aliran dana besar melalui ETF, hedging institusional, dan posisi leverage dapat mempercepat pergerakan pasar saat kondisi keuangan makin ketat.
Pasar tenaga kerja yang kuat tidak menjamin harga Bitcoin pasti turun. Namun, hal ini melemahkan salah satu pendorong utama kenaikan Bitcoin, yaitu harapan pelonggaran kebijakan moneter.
Hernandez menambahkan, secara jangka pendek Bitcoin cenderung bersifat defensif dengan level kunci di $65.000. Jika data ketenagakerjaan ini hanya sementara dan bukan tanda pemanasan ekonomi berkelanjutan, kemungkinan The Fed dapat memangkas suku bunga di kemudian hari masih terbuka.
Lingkungan “Tinggi untuk Waktu Lama” dan Implikasinya
Laporan ketenagakerjaan terbaru semakin memperkuat skenario “suku bunga tinggi untuk jangka waktu lebih lama.” Meski ini bukan bencana langsung bagi Bitcoin, kondisi tersebut mempersulit tren kenaikan berkelanjutan.
Kecuali likuiditas membaik atau imbal hasil obligasi menurun, faktor makro saat ini lebih mengarah pada sikap berhati-hati dibandingkan mendukung pasar kripto.
Berbagai indikator ini menempatkan Bitcoin dalam posisi rentan menghadapi tekanan jangka pendek. Namun, dinamika kebijakan moneter masih dapat berubah, memungkinkan potensi peluang jika pasar tenaga kerja melambat.
Sumber data dan analisis ini diambil dari laporan pasar oleh Mohammad Shahid di beincrypto.com dan pernyataan pakar investasi kripto. Data tersebut penting untuk mengamati pergerakan Bitcoin dalam konteks ekonomi makro Amerika Serikat saat ini.
