
Popularitas Arkham Exchange sebagai platform perdagangan kripto sempat diterpa kabar akan menghentikan operasionalnya. Beredar laporan yang menyebut bahwa Arkham Exchange sedang berjuang dengan adopsi pengguna dan akan segera tutup, namun perusahaan tersebut menegaskan bahwa mereka tidak akan tutup.
Arkham Exchange merupakan bagian dari Arkham Intelligence, sebuah perusahaan analitik onchain yang didirikan pada 2020 dengan dukungan investor ternama seperti Tim Draper dan Sam Altman. Ekspansi Arkham ke layanan perdagangan kripto dianggap sebagai kelanjutan alami dari ekosistem berbasis data mereka.
Pada Oktober, Arkham mengumumkan rencana untuk meluncurkan platform derivatif kripto guna bersaing dengan pemain besar seperti Binance. Pada awal tahun ini, Arkham sudah menawarkan perdagangan spot di beberapa negara bagian Amerika Serikat dan meluncurkan aplikasi mobile pada Desember.
Meskipun demikian, volume perdagangan di Arkham masih tergolong rendah dibandingkan pemain utama. Data dari CoinGecko pada pertengahan Februari mencatat Binance memimpin dengan volume perdagangan 24 jam sebesar $9,27 miliar, diikuti Coinbase dengan $2,16 miliar. Sebagai perbandingan, Arkham hanya mencatat volume di bawah $695.416 dalam 24 jam terakhir.
Spekulasi penutupan Arkham Exchange didasari laporan dari CoinDesk yang mengutip sumber terkait, menyebutkan platform tersebut kesulitan menarik dan mempertahankan pengguna. Namun, CEO Arkham, Miguel Morel, menolak isu tersebut dengan tegas.
Morel menjelaskan kepada Cointelegraph bahwa Arkham tidak sedang menutup platformnya, melainkan melakukan transformasi dari model centralized exchange (CEX) ke decentralized exchange (DEX). Menurutnya, masa depan perdagangan kripto ada pada desentralisasi.
Centralized exchange (CEX) adalah platform yang dijalankan oleh perusahaan yang memegang dana pengguna dan mengatur transaksi, seperti yang dilakukan Binance dan Coinbase. Sementara itu, decentralized exchange (DEX) menggunakan smart contracts untuk memungkinkan pengguna berdagang langsung dari wallet mereka, seperti Uniswap dan dYdX.
Morel berpendapat bahwa platform CEX terlalu besar dan kurang responsif terhadap kebutuhan pasar. Ia menambahkan bahwa perdagangan desentralisasi, khususnya pada produk perpetual futures, menawarkan biaya lebih rendah, kecepatan lebih tinggi, dan memberikan pengguna kendali penuh atas aset mereka.
Transformasi ini menunjukkan arah strategis Arkham dalam menghadapi persaingan sengit di industri kripto yang dinamis. Dengan mengembangkan DEX, Arkham berharap dapat menawarkan pengalaman trading yang lebih efisien dan aman bagi para penggunanya tanpa bergantung pada pihak ketiga.
Peralihan ke DEX juga mencerminkan tren yang semakin kuat di pasar kripto, di mana pengguna semakin mengutamakan transparansi dan kontrol atas aset digital mereka. Langkah ini menjadi upaya Arkham untuk tetap relevan dan kompetitif di tengah gelombang inovasi teknologi blockchain.
Arkham Intelligence, dengan ekosistem data yang kuat, memiliki potensi untuk mengintegrasikan analitik canggih dalam platform decentralized trading, membuka peluang baru bagi para trader dan investor. Perubahan model ini akan menjadi titik penting dalam perjalanan Arkham sebagai pemain kripto yang menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar dan teknologi terkini.





