Tether ‘Santai’ Hadapi Kejatuhan Crypto, Berkat Diversifikasi Aset Hard seperti Emas & Bitcoin

Tether, raksasa stablecoin di pasar kripto, menunjukkan ketahanan luar biasa meski harga aset digital mengalami penurunan tajam. Pada konferensi Digital Assets at Duke, Bo Hines, CEO anak perusahaan Tether, USAT, menyatakan bahwa Tether adalah perusahaan kripto yang paling sedikit merasakan tekanan di tengah kejatuhan pasar yang menyakitkan.

Kunci ketahanan Tether adalah diversifikasi aset pendukung tokennya. Hines menjelaskan bahwa perusahaan memperkuat cadangan dengan “aset nyata” seperti Bitcoin, emas, dan tanah yang memiliki nilai intrinsik. Pendekatan ini berbeda dari model konservatif yang hanya bergantung pada surat utang pemerintah.

USDT, stablecoin andalan Tether, mencatat kapitalisasi pasar sebesar $184 miliar pada pertengahan Februari, menurut data DefiLlama. Sementara itu, USAT, entitas Tether yang berbasis di AS, baru memulai sirkulasi token sebesar $20 juta. Ekspansi bisnis Tether bahkan melampaui pengelolaan stablecoin, menjadikannya salah satu perusahaan paling menguntungkan berdasarkan produktivitas karyawan.

Menurut laporan S&P Global, proporsi aset berisiko tinggi, termasuk emas dan Bitcoin, yang mendukung USDT meningkat dari 17% menjadi 24% dalam beberapa bulan terakhir. Sebaliknya, porsi surat utang AS turun dari 81% menjadi 75%. Pergeseran ini mencerminkan strategi untuk memperkuat portofolio dengan aset bernilai yang dapat bertahan saat volatilitas pasar meningkat.

Tether kini termasuk salah satu pemilik emas terbesar di dunia, bersaing dengan negara dan bank multinasional, sebagaimana dilaporkan Bloomberg. Selain itu, perusahaan ini telah menjadi pemegang saham terbesar ketiga di Adecoagro, produsen susu dan beras terbesar di Argentina. Langkah ini memperlihatkan diversifikasi investasi ke sektor riil.

Perusahaan juga memperluas lingkup bisnis dengan kegiatan menambang Bitcoin dan merilis perangkat lunak untuk pengembang dompet kripto. Tether mengelola bisnis tokenisasi aset bernama Hadron sekaligus mengoperasikan aplikasi pesan terdesentralisasi, Keet. Tahun lalu, perusahaan meluncurkan aplikasi kebugaran dan menanam modal di perusahaan robotika humanoid Generative Bionics.

Tether bahkan mencoba mengakuisisi klub sepak bola Italia, Juventus, dengan tawaran tunai penuh, meski akhirnya ditolak oleh pihak klub. Bo Hines menyebut Tether sebagai “perusahaan teknologi paling produktif di dunia saat ini,” menandai transformasi dari sekadar penerbit stablecoin menjadi entitas teknologi multifaset.

Meski mengadopsi strategi baru yang agresif, Tether menghadapi kritik. S&P Global menurunkan peringkat stabilitas perusahaan karena ketergantungannya pada cadangan berisiko tinggi. Hal ini mengindikasikan potensi kerentanan Tether apabila kondisi pasar terus memburuk.

Secara keseluruhan, Tether memanfaatkan diversifikasi aset dan inovasi bisnis untuk menghadapi tantangan pasar kripto. Pendekatan ini menjadikannya entitas yang relatif lebih stabil dibanding mayoritas perusahaan kripto lain di tengah periode volatilitas yang tinggi. Sikap ini menarik perhatian para pelaku pasar yang mencari alternatif stabil dalam ekosistem blockchain.

Exit mobile version