Bitcoin pulih dari penurunan $60.000, hashrate naik 20% setelah penambang kembali online pasca badai dan regulasi keras

Bitcoin menunjukkan pemulihan signifikan setelah mengalami penurunan harga hingga menyentuh angka $60,000. Kembalinya para penambang yang sempat offline akibat gangguan cuaca ekstrem dan tekanan regulasi menjadi faktor utama di balik kebangkitan jaringan ini.

Dalam dua pekan terakhir, hashrate Bitcoin melonjak lebih dari 20%. Hashrate menggambarkan total kekuatan komputasi yang dipakai untuk menambang dan mengamankan jaringan Bitcoin. Lonjakan ini hampir mengembalikan kondisi seperti sebelum gangguan terjadi. Meski harga Bitcoin sempat anjlok, jaringan tetap mempertahankan kekuatan dan keamanannya.

Resiliensi Jaringan Bitcoin dari Segi Hashrate

Leo Wang, Wakil Presiden Canaan—pabrikan perangkat keras penambangan asal Singapura—menjelaskan bahwa penambangan Bitcoin sangat fleksibel terhadap fluktuasi harga dan situasi pasar. Dia menambahkan bahwa "jika dilihat dalam jangka panjang, jaringan Bitcoin tetap sangat kuat dalam hal hashrate dan dari sisi keamanan." Pernyataan ini menggarisbawahi betapa kapasitas jaringan tidak mudah goyah walaupun ada tekanan pasar signifikan.

Penurunan harga Bitcoin biasanya membuat aktivitas penambangan menjadi kurang menguntungkan. Banyak penambang dengan margin tipis terpaksa berhenti menambang karena biaya operasional melebihi pendapatan dari hasil penambangan. Namun, para penambang ini terlihat mulai beralih ke sektor yang lebih menguntungkan seperti layanan kecerdasan buatan dan komputasi performa tinggi.

Dampak Cuaca dan Regulasi Terhadap Penambang

Musim dingin keras yang melanda wilayah timur dan tengah Amerika Serikat menimbulkan pemadaman listrik masif serta lonjakan permintaan energi dari jaringan listrik utama. Kondisi ini membuat sebagian penambang Bitcoin harus mematikan operasinya sementara. Selain itu, beberapa miner memilih untuk menjual kelebihan energi ke jaringan yang sedang mengalami tekanan, mendapatkan penghasilan lebih tinggi dibanding menambang.

Scott Norris, Chief Mining Officer Omnes, menyampaikan bahwa “jaringan listrik mungkin meminta energi tersebut sehingga penambang harus berhenti, namun hal itu berarti jaringan membayar harga energi lebih tinggi daripada yang didapat penambang dari Bitcoin.” Hal ini mengindikasikan bahwa dinamika pasar energi dapat mempengaruhi aktivitas penambangan.

Selain faktor cuaca, regulasi yang semakin ketat di China dan Rusia juga berkontribusi pada penurunan hashrate. Kedua negara ini memperketat pengawasan terhadap kegiatan penambangan, bahkan Rusia mengusulkan sanksi keras bagi penambang yang mencuri listrik atau beroperasi di area terlarang. Tekanan ini membuat operasi penambangan di kedua negara menurun drastis.

Kondisi Keuntungan Penambang yang Bertahan

Mereka yang mampu bertahan online selama gangguan mendapat keuntungan tersendiri. Dengan berkurangnya jumlah kompetitor untuk menambang, profitabilitas penambang yang tetap beroperasi meningkat secara relatif. Kondisi ini memotivasi sebagian penambang aktif mempertahankan operasional sambil menunggu harga Bitcoin kembali naik.

Perkiraan Penyesuaian Kesulitan Penambangan

Setiap dua minggu, jaringan Bitcoin menyesuaikan tingkat kesulitan penambangan berdasarkan total hashrate. Penyesuaian terakhir mencatat penurunan kesulitan sebesar 11,4% akibat berkurangnya hashrate, namun dengan pemulihan saat ini, penyesuaian berikutnya diprediksi akan mengalami peningkatan signifikan. Wolfie Zhao, kepala riset TheMinerMag, menilai bahwa “penyesuaian kesulitan berikutnya kemungkinan kembali naik cukup tajam,” yang akan berpengaruh pada efisiensi dan persaingan antar penambang.

Pemulihan hashrate menjadi indikator positif bagi keberlanjutan jaringan bitcoin di tengah tantangan teknis dan regulasi. Aktivitas penambangan tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga keamanan dan validitas transaksi cryptocurrency ini. Volatilitas pasar dan perubahan kebijakan energi akan terus memengaruhi dinamika operasional para penambang ke depan.

Exit mobile version