Petaka Chip Memori 2026 Makin Meluas, Harga HP Dan Laptop Di RI Mulai Ikut Terjepit

Krisis chip memori yang kini mengguncang pasar global tidak lagi berhenti di ponsel pintar dan laptop. Di AS, sejumlah asosiasi industri sudah memperingatkan bahwa gangguan pasokan itu mulai menekan harga barang dan mengancam rantai pasok penting, sementara efeknya juga mulai dirasakan di Indonesia.

Pemicunya datang dari ledakan permintaan chip untuk pusat data AI. Para produsen komponen global disebut mengalihkan kapasitas ke sektor AI karena margin keuntungannya jauh lebih tinggi, sehingga produksi chip konvensional untuk perangkat elektronik konsumen dan mobil tersisih.

Di AS, surat yang dikirim kelompok produsen mobil, peritel, dan perusahaan elektronik ke Kementerian Perdagangan dan Kementerian Keuangan menilai ketidakseimbangan ini bisa memicu kenaikan harga yang signifikan dan berkelanjutan dalam jangka pendek. Surat itu juga menyebut gangguan pasokan penting AS sudah menjadi ancaman nyata.

Kelompok yang menandatangani surat tersebut antara lain Alliance for Automotive Innovation, National Retail Federation, Medical Device Manufacturers Association, The Internet & Television Association, dan Telecommunications Industry Association. Mereka menegaskan konsumsi sebagian besar kapasitas chip memori oleh data center AI telah mendorong lonjakan harga yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Mereka juga menyebut dampaknya sudah mulai terlihat dan berpotensi memburuk cepat jika situasi tidak diperbaiki. Reuters melaporkan pada Desember lalu bahwa kekurangan chip memori global yang akut membuat perusahaan AI dan elektronik konsumen berebut pasokan yang makin menipis.

Pemerintah AS sebenarnya telah mengalokasikan miliaran dolar dalam bentuk subsidi untuk mendorong produksi chip memori, termasuk di Micron. Namun, tekanan di pasar masih terasa kuat karena permintaan AI terus menyedot pasokan komponen yang selama ini menjadi tulang punggung banyak perangkat.

Dampak paling cepat terlihat pada produk elektronik harian dan infrastruktur digital. Kelompok pengusaha AS menyebut mereka sudah melihat kenaikan harga pada berbagai produk elektronik konsumen dan teknologi informasi, serta biaya yang jauh lebih tinggi untuk membangun, memelihara, dan meningkatkan infrastruktur internet dan telekomunikasi.

Risiko itu juga merembet ke sektor otomotif, perangkat medis, dan barang manufaktur lain. Reuters pekan ini melaporkan pasar smartphone global sedang menuju kontraksi tahunan paling tajam dalam sejarah, dengan pengiriman diproyeksikan turun 13,9% menjadi 1,08 miliar unit, menurut Counterpoint Research.

Tekanan terbesar terjadi pada smartphone kelas bawah. Produsen chip disebut mengalihkan kapasitas ke chip terkait AI, sehingga pembuatan perangkat kelas bawah menjadi kurang ekonomis dan pasokannya makin terbatas.

Di Indonesia, gejolak harga mulai terasa di pusat penjualan elektronik. Seorang pegawai toko di ITC Kuningan mengatakan kenaikan harga sudah terlihat sejak Maret hingga April 2026 dan memengaruhi hampir seluruh kategori perangkat elektronik.

Ia menyebut penyesuaian harga bisa terjadi dua minggu sekali, terutama karena mengikuti dolar dan chipset AI. Menurut dia, kenaikan tidak hanya terjadi pada HP, tetapi juga tablet, laptop, jam tangan pintar, hingga kartu memori.

Pegawai itu menyebut harga beberapa produk bahkan bisa melonjak berkali-kali lipat dalam skenario terburuk. Untuk lini menengah seperti Redmi, kenaikannya disebut berada di kisaran Rp100 ribu hingga Rp200 ribu, sedangkan seri flagship Xiaomi bisa naik sekitar Rp500 ribu sekali penyesuaian.

Keluhan serupa datang dari penjaga toko lain di ITC Kuningan. Ia mengatakan kenaikan harga terjadi pada barang baru maupun bekas, dan menyebut kondisi pasar kini “parah naiknya”.

Di Mal Ambassador, Jakarta Selatan, sejumlah penjaga toko laptop mengatakan harga perangkat yang sebelumnya berada di kisaran Rp7 juta hingga Rp8 juta kini telah menyentuh Rp9 juta lebih. Mereka memperkirakan kenaikan masih berlanjut sampai beberapa bulan ke depan.

Laptop murah yang dulu mudah ditemukan juga makin langka. Jika beberapa bulan lalu konsumen masih bisa menemukan laptop merek besar di harga Rp5 jutaan, kini pilihan itu hampir hilang, sementara merek seperti Lenovo, Asus, dan HP disebut paling murah sudah sekitar Rp7 jutaan.

Bahkan segmen premium ikut terdorong naik. Salah satu seri Asus Zenbook yang sebelumnya dijual sekitar Rp42 juta kini disebut sudah mencapai Rp47 juta, memperlihatkan bahwa krisis chip memori mulai menekan pasar dari bawah sampai atas.

Source: www.cnbcindonesia.com
Exit mobile version