
Bitcoin dan pasar kripto menghadapi potensi gejolak akibat penantian laporan inflasi AS untuk Januari yang tertunda. Harga Bitcoin saat ini bergerak di kisaran $68.000, namun gagal menetapkan level dukungan yang kuat setelah penyesuaian pasar terkait ekspektasi makroekonomi yang berubah.
Laporan Consumer Price Index (CPI) menjadi fokus utama karena akan menentukan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Data inflasi ini sangat dinantikan setelah laporan tenaga kerja yang menunjukkan penambahan 130.000 nonfarm payroll dan tingkat pengangguran turun menjadi 4,3%.
Penundaan rilis data CPI membuat pasar semakin waspada terhadap sinyal yang akan mengonfirmasi apakah inflasi AS masih jauh dari target 2% The Fed. Trader bersiap menghadapi skenario di mana inflasi tetap tinggi sehingga memperpanjang kemungkinan suku bunga acuan tetap tinggi dalam jangka waktu lebih lama.
Selain itu, dinamika politik juga turut menambah ketidakpastian. Presiden AS mengajukan Kevin Warsh, seorang pendukung Bitcoin, untuk menggantikan Jerome Powell sebagai Ketua Federal Reserve mulai akhir Mei. Pergantian ini berpotensi mengubah kebijakan moneter yang berdampak pada sentimen risiko dan pergerakan harga aset kripto.
Potensi Dampak Data Inflasi pada Harga Bitcoin
- Jika CPI menunjukkan inflasi lebih tinggi dari 2,5%, Bitcoin kemungkinan akan jatuh di bawah level psikologis $60.000. Zona ini menjadi fondasi penting karena banyak institusi memberikan perintah beli saat harga menyentuh batas tersebut.
- Bila inflasi lebih rendah dari perkiraan, pasar bisa mendorong harga Bitcoin naik mendekati level resistensi $74.400. Kondisi ini mewakili tekanan beli yang kuat di sisi atas pasar.
Alat CME FedWatch memperkirakan 95% kemungkinan The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75% dalam waktu dekat. Hal ini mencerminkan ekspektasi bahwa perubahan kebijakan moneter akan berhati-hati menanggapi data ekonomi terbaru.
Perkataan Tim Sun, Peneliti Senior dari HashKey Group, menggarisbawahi paradoks pasar saat ini. Kabar baik terkait pertumbuhan ekonomi atau inflasi yang masih lengket justru membawa sentimen negatif karena menghambat pelonggaran likuiditas.
Beberapa analis menyatakan tanda-tanda pemulihan selama musim dingin kripto yang mulai pada Januari tahun lalu, namun tetap menekankan bahwa pergerakan harga jangka pendek sangat bergantung pada hasil rilis data inflasi minggu ini.
Investor dan pelaku pasar kripto harus memantau laporan CPI dengan cermat karena data tersebut tidak hanya mempengaruhi harga Bitcoin, tetapi juga dapat menjadi indikator penting bagi arah kebijakan moneter dan kondisi ekonomi global selanjutnya. Ketidakpastian ini menuntut strategi yang adaptif dalam menghadapi potensi volatilitas yang mungkin terjadi.





