
Permasalahan baru muncul dalam operasional taksi robot Waymo di jalan raya. Penumpang sering kali lupa menutup pintu dengan rapat saat keluar, sehingga layanan taksi otomatis tidak bisa melanjutkan perjalanan.
Untuk mengatasi kondisi ini, Waymo bekerja sama dengan platform on-demand seperti DoorDash. DoorDash dikenal sebagai layanan pesan antar makanan dan pengiriman paket yang kini juga membantu menutup pintu taksi robot milik Waymo dalam situasi darurat.
Pengemudi DoorDash di wilayah Atlanta, AS, akan menerima notifikasi jika ada mobil taksi robot dengan pintu yang terbuka. Mereka kemudian bertugas menutup pintu tersebut agar perjalanan dapat dilanjutkan. Bayaran yang diberikan mencapai US$ 11,25 atau sekitar Rp 190 ribu per tugas.
Selain DoorDash, Waymo juga bermitra dengan Honk, layanan asisten jalan raya. Pekerja Honk mendapatkan bayaran lebih tinggi, sekitar US$ 24 atau sekitar Rp 400 ribu, untuk menutup pintu taksi robot yang tertinggal terbuka oleh penumpang.
Permasalahan ini menyoroti keterbatasan teknologi kendaraan otonom saat ini. Meskipun klaim dapat beroperasi tanpa pengemudi manusia, layanan Waymo masih membutuhkan intervensi orang lain dalam kondisi tertentu. Hal ini terlihat dari ketergantungan mereka pada operator manusia yang tersebar di berbagai lokasi, termasuk Filipina.
Kepala keselamatan Waymo, Mauricio Pena, menegaskan bahwa pekerja manusia tidak mengendalikan kendaraan dari jarak jauh secara langsung. Mereka hanya memberikan panduan saat kendaraan menghadapi situasi yang kompleks di jalan. Waymo tetap memegang kendali penuh atas sistem mengemudi dinamis.
Saat ini, Waymo menjalankan layanan robotaxi di beberapa kota besar di Amerika Serikat. Kota-kota seperti Phoenix, San Francisco, Los Angeles, dan Austin sudah menjadi area operasional. Rencana ekspansi juga mencakup Boston, Dallas, Washington DC, dan bahkan kota internasional seperti London.
Data menunjukkan bahwa pada awal tahun ini armada kendaraan otonom Waymo diperkirakan mencapai 2.500 unit. Namun, bisnis ini masih mengalami kerugian cukup besar. Tahun lalu, Waymo membukukan kerugian sebesar US$ 7,5 miliar atau setara Rp 126 triliun.
Waymo merupakan anak perusahaan Alphabet, perusahaan induk Google. Dalam struktur Alphabet, Waymo dikategorikan sebagai bisnis “Other Bets” atau “pertaruhan lainnya” yang masih berusaha mengembangkan teknologi otonom yang aman dan bisa diterima secara luas.
Berikut adalah informasi penting terkait kolaborasi Waymo dan pekerja manusia dalam menjaga operasional taksi robot:
1. Masalah utama: Penumpang lupa menutup pintu mobil taksi robot.
2. Mitra: DoorDash dan Honk sebagai pihak eksternal yang membantu.
3. Bayaran DoorDash: US$ 11,25 (Rp 190 ribu) per tugas menutup pintu.
4. Bayaran Honk: US$ 24 (Rp 400 ribu) untuk tugas serupa.
5. Fungsi pekerja manusia: Memberi panduan, bukan mengendalikan kendaraan.
6. Lokasi operasional utama: Phoenix, San Francisco, Los Angeles, Austin.
7. Rencana ekspansi: Boston, Dallas, Washington DC, London.
8. Armada: Sekitar 2.500 unit taksi otonom.
9. Kerugian tahunan: US$ 7,5 miliar (Rp 126 triliun).
10. Hubungan perusahaan: Waymo adalah bagian dari Alphabet/Google.
Kolaborasi ini menunjukkan bahwa meskipun teknologi otonom semakin maju, sentuhan manusia masih diperlukan untuk memastikan kelancaran dan keamanan layanan di lapangan. Bayaran besar yang diterima pekerja menutup pintu taksi robot juga menjadi fenomena baru yang menarik dalam dunia kerja modern.
Dengan hadirnya profesi baru ini, industri transportasi otonom membuka peluang kerja yang tidak terduga sebelumnya. Pekerja yang bertugas menutup pintu taksi robot mendapat penghasilan yang cukup menjanjikan, bahkan bisa menembus Rp 400 ribu sekali pekerjaan.
Fenomena ini juga mengingatkan bahwa teknologi otonom masih dalam tahap pengembangan dan evaluasi. Pengaruh intervensi manusia terbukti penting agar kendaraan tetap berjalan optimal dan aman, terutama dalam situasi yang belum bisa sepenuhnya ditangani perangkat otomatis.
Peluang kerja baru seperti ini memberi gambaran tentang bagaimana teknologi dan tenaga manusia dapat saling melengkapi. Ke depannya, pengembangan fitur otomatis seperti penutupan pintu secara sempurna akan mengurangi ketergantungan pada tenaga manusia tersebut.
Sementara itu, penumpang kendaraan otonom diharapkan lebih berhati-hati untuk menutup pintu dengan benar agar pengalaman menggunakan layanan taksi robot menjadi lebih mulus dan efisien. Ini juga mendukung kelancaran sistem tanpa menggunakan bantuan tambahan.
Secara keseluruhan, kerja menutup pintu taksi robot menjadi profesi unik yang menggabungkan peran manusia dalam kemajuan teknologi transportasi masa depan. Bayaran tinggi dan metode kerja on-demand mencerminkan tren pekerjaan fleksibel seiring kemajuan teknologi otonom.
Baca selengkapnya di: www.cnbcindonesia.com




