Michael Saylor, Executive Chairman MicroStrategy (kini Strategy), menegaskan bahwa perusahaan tidak menghadapi risiko likuidasi kecuali harga Bitcoin turun drastis hingga sekitar $8,000. Pernyataan ini mengundang perhatian karena menganggap level tersebut sebagai ambang “bencana” yang sangat rendah dibandingkan harga pasar saat ini.
Strategi pembelian Bitcoin oleh Strategy didanai melalui utang konversi jangka panjang dengan bunga rendah. Berbeda dengan trader ritel yang menggunakan margin dengan risiko likuidasi otomatis, Strategy menghindari mekanisme margin-call yang memaksa penjualan aset. Struktur utang ini membatasi risiko penjualan paksa akibat fluktuasi harga Bitcoin.
Saylor menyatakan bahwa jika Bitcoin turun ke $8,000, nilai kepemilikan Bitcoin Strategy kira-kira setara dengan total utang bersih perusahaan. Dengan 713,502 BTC yang dimiliki, nilai cadangan Bitcoin di harga tersebut mencapai sekitar $5.7 miliar. Pada tingkat ini, perusahaan secara teori dapat melunasi seluruh kewajibannya dengan menjual Bitcoin.
Namun, manajemen menegaskan bahwa daripada terpaksa menjual Bitcoin, mereka akan memilih opsi refinancing. Instrumen utang mereka memiliki jatuh tempo hingga tahun 2032, memberikan ruang waktu untuk menerbitkan utang baru atau melakukan penawaran saham guna mengelola kewajiban. Hal ini menjadikan tekanan likuidasi mendadak menjadi sangat kecil.
Berikut beberapa poin penting terkait risiko likuidasi Strategy:
- Utang konversi jangka panjang dengan suku bunga rendah tanpa klausul margin-call terkait harga Bitcoin.
- Cadangan Bitcoin berlebih sebagai jaminan yang jauh lebih besar dari utang bersih.
- Kemampuan refinancing utang sebelum jatuh tempo, menghindari penjualan Bitcoin di harga rendah.
- Pendapatan operasional dari bisnis perangkat lunak yang dapat mendukung biaya bunga utang.
Saylor menegaskan bahwa Bitcoin bukan sekadar instrumen spekulatif, melainkan aset bernilai jangka panjang yang melebihi risiko volatilitas sesaat. Ia mengibaratkan Bitcoin sebagai properti digital dengan pasokan terbatas 21 juta unit, dan faktor fundamental seperti pengurangan inflasi Bitcoin (halving) serta adopsi institusional yang terus meningkat mendukung kenaikan harga di masa depan.
Strategi yang diterapkan berbeda dengan pendekatan trader margin atau hedge funds yang rentan pemanggilan margin otomatis jika harga asset turun. Utang Strategy bersifat unsecured atau dijamin aset perusahaan secara keseluruhan, tidak hanya Bitcoin. Jadi, risiko forced liquidation ketika harga Bitcoin jatuh sangat kecil.
CEO Strategy, Phong Le, menambahkan bahwa jika harga Bitcoin anjlok 90% menjadi $8,000, perusahaan akan mengambil langkah restrukturisasi keuangan, termasuk penerbitan ekuitas atau utang baru. Namun, kemungkinan tersebut dinilai sangat rendah karena Bitcoin telah menunjukkan kemampuan pulih kuat setelah crash besar sebelumnya, seperti dari $3,000 menjadi $69,000 dalam beberapa tahun terakhir.
Investor juga mengapresiasi filosofi ini dengan memperlakukan saham Strategy sebagai proxy untuk eksposur Bitcoin. Saham tersebut sering diperdagangkan dengan premium atas nilai pasar Bitcoin yang dipunyai, mencerminkan kepercayaan pada strategi jangka panjang Saylor.
Secara ringkas, kombinasi utang jangka panjang tanpa margin-call, cadangan Bitcoin yang besar, serta opsi refinancing memberikan Strategy kemampuan menghadapi volatilitas pasar tanpa risiko likuidasi mendadak. Dengan keyakinan pada fundamental Bitcoin, Strategy menempatkan dirinya sebagai pionir dalam mengintegrasikan aset kripto ke dalam manajemen keuangan perusahaan secara hati-hati dan terukur.
