Warga Ogah Beli HP China Murahan, Pedagang Tercekik Krisis Chip dan Harga Melambung, Nasib Industri Ponsel Lokal Jadi Taruhan Berat di Tengah Gempuran iPhone 17 Pro

Penjualan ponsel merek China di pasar domestik dan regional saat ini mengalami penurunan tajam. Krisis chip memori global menjadi salah satu penyebab utama yang sangat memukul industri ponsel kelas bawah dan kelas menengah. Warga tampaknya enggan membeli ponsel China, sehingga nasib pedagang terdampak menjadi cukup memprihatinkan.

Berdasarkan data dari firma riset Counterpoint, penjualan ponsel di China pada Januari mengalami penurunan sebesar 23% secara tahunan. Huawei masih menjadi penguasa pasar terbesar, meskipun penjualannya turun 27%. Sementara itu, brand lokal lain seperti Xiaomi bahkan mengalami penurunan hingga hampir 36%. Dalam situasi yang berat ini, Apple justru mencatat pertumbuhan positif dengan kehadiran iPhone 17 Pro di pasar China.

Krisis Chip Memori Sebagai Momok Industri Ponsel China

Krisis global chip memori DRAM dan NAND mengakibatkan kelangkaan komponen vital bagi ponsel murah. Produsen menghadapi kesulitan mendapatkan pasokan sesuai kebutuhan, yang berujung pada kenaikan biaya produksi. Perusahaan riset TrendForce memperkirakan harga kontrak DRAM akan melonjak lebih dari 90% pada kuartal pertama tahun ini. Sedangkan harga flash NAND diprediksi meningkat sekitar 55-60%.

Untuk ponsel kelas bawah dengan harga kurang dari US$200, kenaikan biaya komponen sudah mencapai 25% sejak awal tahun lalu. Hal ini jauh lebih besar dibanding kenaikan komponen pada segmen kelas menengah dan atas yang masing-masing sekitar 15% dan 10%. Lonjakan harga komponen ini mempersulit produsen ponsel murah mempertahankan harga jual yang kompetitif.

Pedagang Alami Dampak Langsung

Pedagang ponsel yang mengandalkan produk China mulai merasakan dampaknya. Penjualan yang menurun serta harga jual yang harus dinaikkan menyebabkan omzet mereka ikut menyusut. Pasar Asia Tenggara yang sangat mengandalkan ponsel murah di bawah US$200 kini mengalami perubahan drastis dalam dinamika harga dan permintaan.

Selain kenaikan harga, beberapa produsen memilih untuk memangkas fitur pada perangkat agar tetap bisa menjual dengan harga terjangkau. Namun pengurangan fitur ini nyatanya kurang diminati konsumen yang kini lebih selektif dan menginginkan kualitas lebih baik.

Perubahan Preferensi Konsumen di Pasar China

Di tengah krisis ini, Apple berhasil meningkatkan permintaannya dengan meluncurkan varian iPhone 17 Pro berwarna ‘Cosmic Orange’ yang viral di China. Produk ini memicu antusiasme tinggi di pasar, bahkan mendapat julukan ‘Hermes Orange’ oleh konsumen lokal. Model ini dianggap sebagai inovasi warna yang berani dan berhasil mengangkat kembali daya tarik merek Apple.

Keberhasilan Apple menjadi satu-satunya merek global yang mencatat pertumbuhan positif di pasar China memperlihatkan tren konsumen mulai beralih dari merek lokal ke produk premium yang lebih inovatif dan dipercaya dalam kualitasnya.

Proyeksi Industri dan Tantangan yang Masih Membayangi

Menurut Counterpoint, pengapalan ponsel global untuk tahun ini malah diprediksi mengalami penurunan sebesar 2,1%. Brand-brand China seperti Honor, Oppo, dan Vivo diperkirakan akan mencatat pertumbuhan negatif hingga mencapai hampir 4%. Kenaikan harga chip kemungkinan masih berlanjut hingga pertengahan tahun ini, membuat biaya produksi semakin tinggi.

Secara umum, rata-rata harga jual ponsel diperkirakan naik 6,9% dari tahun sebelumnya. Kenaikan harga ini menjadi tantangan nyata bagi pasar Asia Tenggara dan India yang sangat bergantung pada ponsel murah. Pedagang lokal dan konsumen pun harus beradaptasi dengan realitas bahwa ponsel murah kini semakin sulit ditemukan tanpa kompromi kualitas.

Upaya Industri Menghadapi Krisis

Industri ponsel China menghadapi dilema memilih antara menaikkan harga jual atau memangkas fitur untuk menjaga margin keuntungan. Pasar low-end yang biasanya memiliki margin tipis sulit menyerap kenaikan biaya produksi yang signifikan ini. Sementara itu, inovasi produk dan diversifikasi model menjadi kunci untuk mempertahankan daya saing.

Pendekatan brand global seperti Apple yang menawarkan produk unik dan berbeda ternyata mampu menggoyahkan dominasi pasaran merek China di tanah kelahirannya. Hal ini menawarkan pelajaran penting bagi para produsen lokal agar terus berinovasi dan menyesuaikan produk dengan kebutuhan konsumen yang dinamis.

Kondisi terkini menunjukkan bahwa krisis chip tidak hanya menghambat produksi HP di China tetapi juga berdampak serius pada ekosistem perdagangan dan preferensi konsumen. Pedagang harus terus memutar strategi agar bisnisnya tetap bertahan di tengah tekanan penurunan minat beli dan kenaikan biaya produksi yang belum tentu bisa dikompensasi sepenuhnya dari sisi harga jual.

Baca selengkapnya di: www.cnbcindonesia.com
Terkait