Galaxy S26 Edge Dihentikan, Tapi DNA-nya Jadi “Senjata Rahasia” untuk Menghidupkan Kembali Seri Plus Samsung yang Terlupakan!

Samsung telah lama mengadopsi strategi peluncuran tiga perangkat utama untuk seri Galaxy S, yaitu model dasar, model Plus yang lebih besar, dan model premium Ultra. Namun, di tahun peluncuran Galaxy S25, Samsung menambahkan model keempat, Galaxy S25 Edge, yang hadir sebagai ponsel besar dengan desain sangat tipis, menempati posisi di tengah keluarga seri S25.

Awalnya, sempat muncul rumor bahwa Samsung mungkin akan menggantikan model Galaxy S26 Plus dengan Galaxy S26 Edge. Namun, kabar terbaru menunjukkan bahwa model Edge kemungkinan dibatalkan dan Samsung tetap melanjutkan model Plus. Keputusan ini dinilai cukup bijak, tetapi Samsung perlu memberikan alasan kuat kepada konsumen untuk memilih varian Plus. Di sinilah DNA dari model Edge bisa menjadi senjata rahasia untuk memperkuat posisi Plus di pasar.

Model Plus, Anak Tengah yang Canggung

Sejak dulu, model Plus selalu dianggap sebagai anak tengah yang kurang menonjol dalam keluarga Galaxy S. Secara fisik, model ini memang merupakan versi lebih besar dari model dasar, tetapi juga menawarkan baterai lebih besar, pengisian daya lebih cepat, layar lebih tajam, dan kapasitas penyimpanan yang lebih besar. Meski begitu, model Plus sering kali kalah populer dibandingkan saudara-saudaranya.

Menurut Anshel Sag, analis terkemuka dari Moor Insights & Strategy, model Plus "selalu tampil kurang baik dibandingkan model dasar dan flagship." Hal serupa terjadi juga pada model Plus dari Apple, yang menghadapi tantangan serupa. Salah satu penyebabnya adalah konsumen enggan membayar harga lebih tinggi untuk ponsel yang, meski fisiknya lebih besar, namun fitur dan pengalaman yang ditawarkan tidak jauh berbeda.

Pada saat peluncurannya, Galaxy S25 dijual seharga $799, sementara Galaxy S25 Plus dibanderol $999 atau naik $200 dari versi standar. Banyak konsumen merasa peningkatan ukuran layar dan fitur tak sebanding dengan kenaikan harga tersebut, terutama ketika model Ultra menawarkan fitur lebih lengkap dengan ukuran yang relatif sama.

Kegagalan Model Edge yang Terlalu Cepat

Galaxy S25 Edge memang dirancang untuk menonjol dengan profilnya yang sangat tipis dan kamera utama 200MP yang tinggi kualitasnya. Namun, perangkat ini justru kurang sukses di pasar. Model ini menawarkan baterai lebih kecil, pengisian daya lebih lambat, dan jumlah kamera lebih sedikit dibandingkan Galaxy S25 Plus, namun dijual dengan harga yang lebih mahal. Hal ini menciptakan persepsi negatif dan penjualan yang mengecewakan.

Sag menjelaskan bahwa Edge menghadapi masalah yang mirip dengan iPhone Air, yaitu banyak kompromi yang dibuat demi menciptakan bodi tipis sehingga mengorbankan daya tahan baterai dan fitur penting lainnya. “Persepsi negatif terhadap daya tahan baterai dan pengorbanan fitur pada ponsel tipis membuat Edge kurang diminati,” ujar Sag.

Akibatnya, Samsung memilih untuk membatalkan Galaxy S26 Edge. Sag menambahkan, agar ponsel ultra-tipis bisa sukses, Samsung harus dapat menghadirkan perangkat tanpa kompromi dan menjalankan pemasaran yang tepat untuk mengubah persepsi konsumen terhadap ponsel tipis.

DNA Edge Bisa Menguatkan Model Plus

Meskipun model Edge dibatalkan, banyak yang percaya bahwa konsep dan inovasi pada Edge bisa “hidup” kembali pada model Plus di masa depan. Model Plus bisa mendapatkan sejumlah perbaikan dan peningkatan dari eksperimen dengan Edge, seperti menghadirkan bodi yang lebih tipis tanpa mengorbankan kapasitas baterai maupun fitur kamera.

Samsung dianggap masih enggan untuk mengadopsi baterai jenis silikon-karbon yang memungkinkan baterai besar dengan profil lebih tipis. Jika Samsung memaksimalkan teknologi ini, model Plus bisa jadi menawarkan baterai sama atau lebih besar daripada sebelumnya, namun dengan ukuran yang lebih ramping. Sistem kamera tiga lensa juga tetap bisa dipertahankan agar daya tariknya meningkat.

Sag menegaskan, “Ketipisan bisa menjadi nilai jual utama, terlebih jika bisa meyakinkan konsumen soal ketahanan dan performa baterai.” Contoh yang bisa dijadikan inspirasi adalah Honor Magic 8 Pro Air yang sukses mengombinasikan baterai 5,500mAh, sistem kamera triple, chipset flagship, dengan bodi setipis 6.1mm.

Edge pernah dianggap sebagai “pipecleaner” dalam rantai pasokan Samsung dalam persiapan peluncuran Galaxy Z Fold 7 yang lebih canggih. Namun, bagi model Plus, DNA Edge dapat diterapkan untuk memperkuat posisinya sebagai opsi kelas menengah yang memiliki keistimewaan tersendiri.

Model Plus saat ini sudah menjadi ponsel besar dengan profil cukup tipis dan potensial untuk membawa inovasi baru yang ditawarkan oleh ide Edge. Samsung harus terus mengembangkan varian Plus yang lebih menarik dan fungsional agar tetap relevan dan kompetitif di pasar smartphone flagship yang semakin padat.

Dengan demikian, meski Galaxy S26 Edge nampaknya tidak akan hadir, warisan inovasi yang dibawanya dapat menjadi landasan penting bagi perkembangan Galaxy S Plus masa depan. Strategi Samsung untuk tetap fokus dengan tiga model utama sekaligus mengintegrasikan keunggulan Edge ke dalam Plus mungkin menjadi langkah paling masuk akal ke depan.

Terkait