Bitcoin (BTC) mencatat pemulihan harga sekitar 9% antara tanggal 12 hingga 15 Februari, menandai rebound yang tampak memperlihatkan koreksi terburuk telah berlalu. Namun, data leverage, sinyal momentum, dan tren profit on-chain justru mengungkap risiko crash yang meningkat, bukan menurun.
Jumlah open interest di pasar futures Bitcoin naik dari $19,59 miliar menjadi $21,47 miliar selama 13-15 Februari. Kenaikan ini sebesar $1,88 miliar atau 9,6% menunjukkan posisi trader longs yang agresif menantikan kenaikan harga lebih lanjut.
Pada saat yang sama, funding rate berubah positif hingga mencapai +0,34%. Ini berarti trader longs membayar fee ke trader shorts, mengindikasikan keyakinan pasar terhadap tren naik Bitcoin masih dominan.
Rebound Bitcoin dalam Pola Bear Flag
Kenaikan harga tersebut terjadi dalam pola bear flag yang masih bertahan. Bear flag merupakan pola teknikal bearish yang terbentuk ketika harga naik perlahan setelah penurunan tajam, tapi tetap berada dalam struktur kelanjutan tren turun. Biasanya, pola ini menandai jeda sebelum penurunan lebih lanjut kembali terjadi.
Bitcoin baru-baru ini mengalami penolakan harga di puncak lokal dan mulai terkoreksi, yang membuat harga kembali bergerak ke batas bawah pola flag tersebut. Jika support ini gagal bertahan, dapat memicu gelombang penurunan berikutnya.
Sinyal Divergen RSI dan Momentum Melemah
Indikator momentum di grafik 12 jam menunjukkan divergensi bearish tersembunyi. Harga membentuk lower high sementara RSI mencetak higher high, tanda bahwa kekuatan beli naik sementara, tapi tren secara keseluruhan masih lemah.
Divergensi ini biasanya mengindikasikan bahwa tekanan jual mulai kembali menguat secara diam-diam. Setelah sinyal ini muncul, Bitcoin memang langsung masuk fase koreksi.
Lonjakan Profit Tak Terwujud (NUPL) 90%
Data on-chain memperkuat kekhawatiran ini. Net Unrealized Profit/Loss (NUPL) Bitcoin melonjak tajam dari 0,11 pada 5 Februari ke 0,21 pada 14 Februari, naik sekitar 90%. Ini berarti banyak investor kini memegang keuntungan di atas kertas.
NUPL mengukur rata-rata profit yang belum direalisasikan dari semua pemegang Bitcoin. Saat angka ini naik drastis, risiko aksi ambil untung alias profit-taking meningkat signifikan.
Menariknya, saat NUPL mencapai level serupa di awal Februari, harga Bitcoin segera terjun dari sekitar $73.000 ke level $62.800, turun hampir 14% dalam sehari. Pola serupa kini kembali muncul, yang membuka kemungkinan jual besar-besaran jika harga mulai melemah.
Level Support dan Target Penurunan Berikutnya
Bitcoin kini mendekati support penting di $66.270, yang merupakan batas bawah pola bear flag. Bila support ini tembus, pola kelanjutan bearish akan aktif dan target berikutnya mengarah ke zona Fib retracement 0,618 sekitar $58.880.
Penurunan ke $58.000 berarti koreksi hampir 14% dari harga saat ini. Bila tekanan jual makin kuat, Bitcoin bisa turun lebih dalam lagi ke sekitar $55.620. Sebaliknya, level resistance kunci terdekat ada di $70.840 untuk penstabilan jangka pendek.
Skenario Bullish dan Downside Risk
Kenaikan signifikan di atas $79.290 akan membatalkan pola bearish secara total dan menandai dominasi pembeli. Namun, sampai level ini tercapai, risiko penurunan tetap lebih besar.
Meski rebound beberapa hari lalu sempat mendongkrak sentimen, tekanan leverage tinggi, divergensi bearish, dan lonjakan 90% di profit on-chain mengindikasikan kondisi pasar Bitcoin sedang rentan terhadap koreksi besar berikutnya.
Investor disarankan waspada dan memantau level support kunci serta perubahan funding rate sebagai indikasi arah tren. Potensi crash ke zona $58.000 menjadi risiko nyata sepanjang pola bearish ini belum gagal.
Data dan analisis tersebut menunjukkan bahwa pergerakan harga Bitcoin saat ini bukan sekadar reli biasa. Kondisi pasar mengarah pada kemungkinan koreksi signifikan, yang bisa membuka peluang sekaligus risiko bagi pelaku pasar kripto.





