
Amerika Serikat kembali menunjukkan sikap yang lebih lunak terhadap China setelah beberapa kebijakan ketat yang sempat diberlakukan. Pada akhir tahun lalu, pemerintahan Donald Trump secara kontroversial mengizinkan ekspor chip AI canggih H200 buatan Nvidia ke China.
Keputusan ini mendapat tentangan kuat dari kalangan Republik dan Demokrat yang khawatir chip tersebut akan mempercepat pengembangan teknologi militer China. Namun, pemerintah AS tampaknya mulai melunak dengan kebijakan perdagangan dan keamanan yang lebih longgar dari sebelumnya.
Penarikan Perusahaan dari Daftar Hitam Pentagon
Baru-baru ini, AS juga menarik kembali beberapa perusahaan China dari daftar hitam yang sebelumnya diumumkan Pentagon. Daftar tersebut berisi perusahaan-perusahaan yang diduga membantu militer Beijing. Namun, dokumen resmi yang memuat penghapusan tersebut hanya terunggah sebentar sebelum dihapus kembali dari publikasi resmi.
Di antara perusahaan yang dihapus adalah CXMT dan YMTC, dua produsen chip besar yang tengah memperluas kapasitas produksi mereka. Penghapusan ini menimbulkan kritik dari kelompok pendukung kebijakan keras terhadap China di Washington. Mereka menilai kemampuan teknologi chip tersebut sangat berpotensi meningkatkan kekuatan militer China.
Surat Pentagon yang dikirim ke Federal Register menyatakan permintaan penghapusan pemberitahuan tersebut tanpa menyebutkan alasan spesifik. Pentagon dan Gedung Putih memilih tidak memberikan komentar resmi atas langkah ini. Sementara itu, Kedutaan Besar China di Washington juga belum berkomentar.
Kritik dan Kekhawatiran dari Para Ahli
Menurut Chris McGuire, mantan pejabat Dewan Keamanan Nasional di bawah Presiden Joe Biden, penghapusan CXMT dan YMTC dari daftar hitam merupakan sebuah kesalahan besar. Beberapa perusahaan lain yang juga dihapus dari daftar adalah produsen mobil BYD, perusahaan bioteknologi WuXi AppTec, dan perusahaan teknologi robotika AI RoboSense Technology Co Ltd.
Para pendukung kebijakan keras terhadap China menilai bahwa kemampuan teknologi yang makin berkembang dari perusahaan-perusahaan tersebut dapat dimanfaatkan militer Beijing. Mereka menyoroti pentingnya pengawasan ketat dan kewaspadaan terhadap perkembangan teknologi China agar tidak merugikan keamanan nasional AS.
Trump Mengedepankan Diplomasi dan Diplomasi Ekonomi
Keputusan melunak terhadap China ini terjadi setelah terjalinnya gencatan senjata perdagangan antara Trump dan Presiden China, Xi Jinping, dalam pertemuan di Busan pada Oktober lalu. Setelah itu, pemerintahan Trump mulai memberikan lampu hijau untuk ekspor chip AI Nvidia ke China dan menunda sejumlah aturan pembatasan teknologi yang akan diterapkan kepada perusahaan-perusahaan China.
Reuters melaporkan bahwa AS juga menunda beberapa langkah keamanan nasional yang terkait dengan pembatasan operasi China Telecom dan penjualan peralatan teknologi untuk pusat data AS. Langkah ini dinilai sebagai upaya diplomasi agar ketegangan antara kedua negara mereda.
Selain itu, Trump diperkirakan akan melakukan kunjungan ke China pada April, meskipun tanggal pastinya belum ditentukan. Kunjungan ini diharapkan menjadi momentum memperbaiki hubungan ekonomi dan politik kedua negara yang sempat memanas dalam beberapa tahun terakhir.
Apa Itu ‘Daftar Hitam’ Pentagon?
Daftar hitam Pentagon sebenarnya tidak langsung memberlakukan sanksi kepada perusahaan China yang masuk. Namun, perusahaan-perusahaan tersebut akan dibatasi untuk mendapatkan kontrak dan pengadaan dari lembaga-lembaga pemerintahan AS pada masa depan.
Penempatan perusahaan dalam daftar ini juga menjadi sinyal kepada pemasok dan pemerintah AS tentang penilaian militer AS terkait risiko keamanan dari perusahaan-perusahaan tersebut. Sebagian perusahaan besar seperti Tencent Holdings dan CATL sudah termasuk dalam daftar ini.
Sebagian perusahaan yang dimasukkan daftar hitam mengajukan gugatan hukum menentang keputusan tersebut. Alibaba, salah satunya, menyatakan pihaknya tidak terlibat dalam aktivitas militer dan menolak dimasukkan ke dalam daftar. Mereka menegaskan akan mengambil langkah hukum jika perlu.
Proses Peninjauan Daftar dan Dampaknya
Menurut Eric Sayers, peneliti kebijakan pertahanan di American Enterprise Institute, perubahan dalam daftar hitam ini kemungkinan terkait dengan proses persetujuan antar lembaga pemerintahan AS. Penambahan perusahaan baru kemungkinan besar tetap berlaku, sementara penghapusan beberapa perusahaan masih dalam proses peninjauan.
Kemungkinan besar daftar ini akan terus mengalami pembaruan sesuai dinamika hubungan dan kebijakan pertahanan antara AS dan China. Langkah ini memperlihatkan bagaimana isu keamanan nasional dan hubungan ekonomi sering kali berjalan berdampingan dan saling memengaruhi.
Dengan keputusan terbaru ini, hubungan AS-China menunjukkan tanda-tanda penyesuaian strategi yang lebih pragmatis. Namun, kekhawatiran akan kemampuan teknologi militer China tetap menjadi perhatian utama pemerintah AS dan kalangan politik di Washington.
Baca selengkapnya di: www.cnbcindonesia.com




