Bitcoin sempat mengalami penurunan signifikan sebesar 2,3% dalam sepekan terakhir, diperdagangkan di harga sekitar $68.674. Harga kripto ini turun lebih tajam dibandingkan indeks pasar saham utama seperti S&P 500 yang turun 1,28% dan Nasdaq sebesar 1,27%. Penurunan ini terjadi pada hari Senin pagi, meskipun pasar saham AS sedang libur karena peringatan Washington’s Birthday.
Penurunan Bitcoin mencapai titik terendah pada Jumat lalu, menyentuh $65.799, atau level terendah sejak awal Februari. Namun, harga sempat pulih 3,93% ke level sekitar $68.812 sebelum akhirnya mengalami koreksi kembali. Volatilitas harga ini diduga kuat terkait dengan likuidasi besar-besaran senilai $6,9 miliar yang terjadi di pasar kripto. Salah satu indikator awal tekanan tersebut datang dari World Liberty Financial (WLFI) yang menunjukkan sinyal kemunduran beberapa jam sebelum kejatuhan pasar.
Sentimen Pasar dan Prediksi Harga Bitcoin
Trader di pasar prediksi Polymarket telah memperkirakan risiko penurunan harga Bitcoin sepanjang bulan ini. Pada awal Februari, probabilitas Bitcoin turun di bawah $60.000 mencapai 99,9%, namun pada akhir pekan pandangan pasar berubah. Kini, kemungkinan Bitcoin menembus harga $85.000 dalam bulan ini hanya tinggal 5%, dari sebelumnya yang lebih optimistis. Perubahan ini mencerminkan kehati-hatian lembaga investasi dalam menghadapi volatilitas pasar yang didorong oleh faktor-faktor seperti teknologi AI dan posisi defensif di tengah ketidakpastian.
Reaksi dan Strategi Institusi Terhadap Volatilitas Bitcoin
Strategi perusahaan seperti MicroStrategy (NASDAQ: MSTR) mencuri perhatian karena memiliki simpanan Bitcoin senilai $50 miliar. Mereka mengumumkan rencana konversi utang obligasi senilai $6 miliar menjadi ekuitas dan mengklaim dapat bertahan meski Bitcoin turun hingga 88% ke $8.000. Sikap ini mengindikasikan kesiapan menghadapi turbulensi pasar yang mungkin terjadi dalam waktu dekat. Sementara itu, Metaplanet mencatat keuntungan operasional sebesar $40 juta, tetapi harus menanggung kerugian bersih sebesar $619 juta akibat perlakuan akuntansi mark-to-market terhadap aset Bitcoin mereka.
Kecenderungan Pembelian Retail dan Pasar ETF
Meski terjadi penurunan harga, CEO Coinbase Brian Armstrong menyoroti bahwa pengguna retail tetap menunjukkan kepercayaan terhadap Bitcoin dan Ethereum. Mereka konsisten melakukan pembelian di saat harga turun, sebuah perilaku yang dikenal sebagai "diamond hands." Hal ini juga tercermin dari aliran dana bersih masuk ke produk ETF Bitcoin sebesar $15,2 juta pada hari Jumat, menunjukkan minat institusional yang tetap ada meskipun pasar melemah.
Ancaman Teknologi dan Kinerja Kuartalan Bitcoin
Selain likuidasi dan volatilitas biasa, risiko baru mulai muncul dari ancaman komputasi kuantum. Para pengembang dan investor diingatkan agar cepat mengantisipasi potensi serangan terhadap keamanan Bitcoin. Analis seperti Nic Carter dan Willy Woo mengungkapkan bahwa ketidakpastian terkait “Bitcoin yang hilang” dan potensi pengambilalihan korporasi turut mempengaruhi sentimen pasar.
Dari sisi kinerja, Bitcoin sedang menuju kuartal terburuk sejak 2018, dengan penurunan sebesar 22,58% sejak awal tahun hingga pertengahan Februari. Ini merupakan pertama kalinya Bitcoin menutup dua bulan pertama tahun ini dengan tren negatif, yang bisa mempengaruhi psikologi trader yang mengandalkan momentum.
Perubahan Alokasi Dana dan Prospek Pasar Minggu Depan
Dana kripto mengalami arus keluar sebesar $173 juta minggu lalu, seiring pergantian modal ke altcoin seperti XRP dan Solana yang mengungguli Bitcoin pada performa mingguan. Fokus minggu depan adalah apakah Bitcoin mampu menembus kembali level $70.000 yang sempat dicapai pada pertengahan Februari. Dengan lonjakan leverage di pasar futures dan sentimen pasar yang masih berhati-hati, faktor makroekonomi maupun kejadian di dunia kripto dapat menjadi pemicu pergerakan harga selanjutnya.
Secara keseluruhan, meskipun harga Bitcoin mengalami koreksi dan adanya tekanan likuidasi, minat beli baik dari retail maupun institusi masih bertahan. Pemantauan dinamis terhadap risiko teknologi baru dan sentimen pasar menjadi kunci untuk memahami arah pergerakan Bitcoin kedepannya.
