Bitcoin sempat mencapai harga tertinggi sepanjang masa yang luar biasa, tetapi kini menghadapi tekanan besar di pasar. Seorang analis veteran memperingatkan potensi penurunan drastis hingga harga hanya $10.000.
Pergerakan ini dipicu oleh sejumlah faktor makroekonomi dan sentimen pasar yang mulai menimbulkan ketidakpastian pada aset kripto ini. Analisis terbaru menunjukkan adanya risiko jatuhnya harga Bitcoin jauh di bawah level saat ini.
Faktor Penyebab Penurunan Harga Bitcoin
Analis Matt Hougan dari Bitwise mengemukakan enam faktor utama yang mendorong penurunan pasar kripto baru-baru ini:
- Investor jangka panjang mulai melakukan likuidasi untuk mengantisipasi siklus empat tahunan yang historis mengindikasikan tahun turunnya pasar.
- Minat investor bergeser ke sektor lain seperti kecerdasan buatan dan logam mulia yang dianggap lebih prospektif.
- Pengaruh ancaman tarif dari pemerintahan Amerika Serikat di bawah Presiden Trump, yang menyebabkan kepanikan di pasar kripto.
- Penunjukan calon Ketua Federal Reserve yang memiliki pandangan hawkish dinilai dapat memperketat pasokan likuiditas.
- Kekhawatiran komunitas Bitcoin terkait ancaman komputasi kuantum yang dapat mengganggu keamanan jaringan.
- Perubahan sentimen risiko pasar secara keseluruhan yang memicu penarikan dana dari aset berkembang termasuk Bitcoin.
Peringatan Keras dari Strateg Bloomberg
Strateg Bloomberg Intelligence, Mike McGlone, mengeluarkan prediksi yang mengejutkan bahwa Bitcoin mungkin jatuh ke angka $10.000. Pernyataan ini muncul di tengah upaya pasar kripto pulih dari koreksi sebelumnya.
McGlone menilai bahwa paradigma “beli saat harga turun” yang selama ini menjadi strategi populer pada Bitcoin sejak tahun 2008 mungkin tidak berlaku lagi. Pasar digital saat ini menghadapi tekanan yang lebih kuat dibandingkan pasar saham yang sedang rally dengan volatilitas rendah.
Perbandingan dengan Pasar Saham dan Logam Mulia
Mike McGlone membandingkan harga Bitcoin yang dibagi sepuluh dengan indeks S&P 500. Pada tanggal terakhir pengamatan, indeks saham berada di sekitar 6.836 poin, sementara Bitcoin diperdagangkan di kisaran hampir $68.000.
Namun, McGlone memprediksi kemungkinan harga Bitcoin kembali ke angka sekitar $56.000 seiring koreksi pada indeks S&P 500 ke level 5.600. Bahkan, ada skenario terburuk yang mengarah pada harga senilai $10.000 bila pasar saham mencapai puncak tertingginya.
Pandangan Para Analis Lain
Analisis dari Standard Chartered yang dipimpin Geoff Kendrick juga cenderung bearish, meskipun tidak seburuk McGlone. Kendrick memperkirakan harga Bitcoin dapat turun hingga sekitar $50.000 dalam beberapa bulan mendatang.
Sebaliknya, para analis JPMorgan masih optimis terhadap Bitcoin, dengan prediksi bullish yang menyebutkan potensi harga mencapai $266.000 ke depan. Ini menunjukkan perbedaan pendapat yang cukup tajam di kalangan institusi keuangan besar.
Risiko dan Ketidakpastian pada Bitcoin
Bitcoin, sebagai mata uang kripto pertama yang lahir pasca krisis finansial global 2008, kini semakin terseret oleh dinamika pasar keuangan arus utama. Integrasi Bitcoin ke dalam sistem keuangan yang lebih luas menyebabkan pergerakan harga sangat dipengaruhi oleh faktor makroekonomi dan kebijakan pemerintah.
Ancaman teknologi baru seperti komputasi kuantum juga menjadi perhatian khusus yang dapat mengancam keamanan jaringan Bitcoin bila tidak diantisipasi dengan baik. Di sisi lain, perubahan prioritas investor ke aset non-kripto turut mempengaruhi permintaan dan harga.
Impak Ancaman Kebijakan dan Sentimen Pasar
Ancaman tarif dagang yang dilancarkan oleh Presiden Trump pada sektor teknologi dan perdagangan internasional menimbulkan kepanikan besar pada pasar digital. Karena Wall Street tutup pada beberapa hari berikutnya, kripto menjadi “korban tunggal” dalam tekanan pasar saat itu.
Penunjukan calon Ketua Federal Reserve yang diyakini akan mengambil kebijakan moneter ketat menambah tekanan jual pada Bitcoin. Kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan suku bunga dan meredam minat terhadap aset berisiko tinggi seperti kripto.
Fluktuasi pasar saham yang berpengaruh pada aliran modal global juga menjadi salah satu pendorong penarikan investasi dari aset kripto. Perubahan sentimen ini menandai pergeseran fase pasar dari “risk-on” ke “risk-off” yang memperparah tekanan harga Bitcoin.
Dengan banyaknya ketidakpastian ini, Bitcoin harus melalui fase volatilitas yang cukup signifikan. Para investor dan pelaku pasar harus mempertimbangkan risiko mendalam di tengah potensi koreksi harga yang tajam tersebut.
Pengawasan ketat terhadap perkembangan kebijakan moneter dan teknologi baru sangat penting bagi para pemantau pasar kripto ke depan. Stabilitas Bitcoin semakin bergantung pada respons pasar terhadap tantangan eksternal dan internal yang belum pernah terjadi sebelumnya.







