Persaingan kamera ponsel flagship kini tidak lagi hanya soal jumlah megapiksel. Samsung Galaxy S26 Ultra menonjol karena menggabungkan sensor besar, bukaan lensa yang lebih lebar, zoom optik berlapis, dan fitur video yang lebih dekat ke alur kerja profesional.
Di tengah pasar yang dipenuhi kamera utama kuat tetapi sering kompromi pada zoom, low-light, atau video, Galaxy S26 Ultra justru mencoba unggul di beberapa area sekaligus. Kombinasi inilah yang membuatnya layak diperhatikan saat dibandingkan dengan kamera flagship lain.
Fokus pada cahaya dan detail
Kamera utama Galaxy S26 Ultra memakai sensor 200MP dengan aperture f/1.4. Bukaan ini lebih lebar daripada yang ditawarkan kebanyakan ponsel flagship pada kamera utama.
Samsung menempatkan keunggulan ini pada penangkapan cahaya sejak awal sebelum pemrosesan gambar bekerja. Hasil praktisnya adalah dasar yang lebih baik untuk ketajaman, akurasi warna, dan pengendalian noise dalam berbagai kondisi pemotretan.
Dibanding Galaxy S25 Ultra, lensa f/1.4 pada model ini disebut memasukkan 47% lebih banyak cahaya daripada lensa f/1.7. Angka itu memberi konteks mengapa kamera utama S26 Ultra diposisikan lebih siap untuk kondisi redup maupun adegan kontras tinggi.
Seperti banyak flagship lain, kamera ini tetap memakai mode default 12MP melalui penggabungan piksel. Namun, resolusi sensor yang tinggi memberi ruang lebih besar untuk fleksibilitas saat pengguna membutuhkan detail tambahan.
Samsung juga menyediakan mode 24MP melalui Camera Assistant. Mode ini berada di antara hasil 12MP dan 200MP penuh, sehingga lebih cocok untuk kebutuhan crop atau tekstur halus tanpa beban file maksimum.
Zoom jadi pembeda utama
Di sektor telefoto, Galaxy S26 Ultra membawa dua lensa sekaligus. Susunannya terdiri dari telefoto 10MP 3x dan telefoto 50MP 5x dengan aperture f/2.9.
Kombinasi ini memberi keunggulan yang tidak selalu dimiliki pesaing. Banyak kamera flagship mengandalkan sensor telefoto beresolusi lebih rendah, sehingga detail pada jarak zoom cenderung kalah ketika dibandingkan dengan sensor 50MP 5x milik S26 Ultra.
Aperture f/2.9 pada lensa 5x juga tergolong lebih terang dari yang umum di focal length tersebut. Samsung menyebut lensa ini menangkap 37% lebih banyak cahaya dibanding lensa setara pada Galaxy S25 Ultra.
Keuntungan itu terasa saat pencahayaan turun. Di situ, kualitas gambar zoom 5x tetap lebih usable tanpa harus terlalu bergantung pada pemrosesan agresif yang sering membuat hasil tampak artifisial.
Keberadaan lensa 3x dan 5x juga penting untuk jarak menengah. Dengan dua tingkat zoom optik, Galaxy S26 Ultra dapat menutup rentang pembesaran secara lebih alami dibanding ponsel yang lebih sering berpindah ke zoom digital.
Low-light bukan hanya soal kamera utama
Samsung menempatkan Nightography sebagai paket optimasi foto dan video dalam cahaya rendah. Pendekatan ini menggabungkan hardware dan pemrosesan, bukan hanya mengandalkan software setelah gambar ditangkap.
Pada sisi hardware, kamera utama f/1.4 dan telefoto f/2.9 sama-sama dirancang untuk memasukkan lebih banyak cahaya. Pada sisi pemrosesan, Snapdragon 8 Elite Gen 5 for Galaxy memanfaatkan NPU untuk reduksi noise dan menjaga detail secara real time.
Dampaknya disebut paling terlihat pada video. Saat banyak kamera flagship menghasilkan rekaman yang lebih berisik dalam kondisi temaram, pemrosesan Nightography pada Galaxy S26 Ultra diarahkan untuk menjaga hasil tetap bersih dan detail tanpa smoothing berlebihan.
Pendekatan ini juga berlaku pada kamera wide dan telefoto. Itu memberi fleksibilitas lebih besar dibanding sistem yang hanya benar-benar kuat di lensa utama saat malam hari.
Selfie dan video dibawa ke level berbeda
Untuk kamera depan, Samsung menyertakan Advanced Selfie berbasis AI ISP khusus. Pemrosesan ini dipisahkan dari pipeline gambar utama agar lebih fokus pada kebutuhan selfie dan portrait-distance shot.
Sistem itu dirancang untuk menganalisis warna kulit dan tekstur secara real time. Tujuannya adalah mempertahankan detail wajah yang natural, terutama pada kondisi low-light dan backlit yang biasanya menyulitkan kamera depan.
Di sisi video, Galaxy S26 Ultra mendukung codec APV atau Advanced Professional Video. Format ini disebut menyimpan lebih banyak informasi warna dan tonal dibanding H.264 dan H.265 yang masih umum dipakai sebagian besar smartphone.
Keuntungan APV muncul saat proses editing. Rekaman punya ruang lebih besar untuk color grading, penyesuaian exposure, dan pengolahan detail tanpa cepat rusak akibat kompresi berat.
Samsung juga menyertakan perekaman log video. Format gambar datar dengan kontras rendah ini memang ditujukan untuk proses grading lanjutan, sehingga alur kerjanya lebih dekat ke sistem kamera profesional.
Stabilisasi dan frame rate ikut menentukan
Galaxy S26 Ultra membawa Super Steady dengan Horizontal Lock. Fitur ini tidak hanya meredam guncangan, tetapi juga menjaga horizon tetap rata saat ponsel bergerak atau berputar.
Masalah horizon yang miring sering muncul pada video handheld, meski perangkat sudah punya stabilisasi optik. Di sini, Horizontal Lock menjadi pembeda karena fokusnya bukan cuma pada shake, tetapi juga rotasi.
Fitur itu berguna untuk walking shot, video aksi, dan pengambilan gambar sambil bergerak. Dalam praktiknya, ini memberi nilai tambah yang jelas dibanding sistem flagship lain yang lebih terbatas pada koreksi gerakan biasa.
Samsung juga mendukung perekaman 4K hingga 120fps. Kemampuan frame rate tinggi pada resolusi 4K ini memperkuat posisi Galaxy S26 Ultra, karena banyak kamera pesaing masih berhenti di 60fps.
Jika dilihat sebagai paket utuh, perbandingan Galaxy S26 Ultra dengan flagship lain tidak hanya bertumpu pada satu sensor utama. Kekuatan model ini justru terletak pada konsistensi lintas area, mulai dari penangkapan cahaya, zoom optik, video profesional, hingga stabilisasi yang lebih siap dipakai dalam pemotretan dan perekaman sehari-hari.
Source: www.sammobile.com






