Bitcoin pernah meraih popularitas besar di kalangan investor Wall Street yang menganggapnya sebagai aset stabil dan lindung nilai. Namun, kenyataannya kini menunjukkan bahwa dominasi modal institusional AS menciptakan kerentanan baru. Sejak 10 Oktober, dana pada Bitcoin spot ETF yang terdaftar di Amerika Serikat keluar sekitar $8,5 miliar. Eksposur futures di Chicago Mercantile Exchange (CME) juga turun hingga dua pertiga dari puncaknya menjadi sekitar $8 miliar. Harga Bitcoin di Coinbase, platform favorit institusi AS, terus diperdagangkan dengan diskon terhadap Binance yang berlokasi offshore, menandakan penjualan berkelanjutan dari pasar AS.
Pasar Bitcoin telah mengalami transformasi signifikan dalam dua tahun terakhir. Harga Bitcoin sebelumnya banyak ditentukan oleh trader ritel di bursa luar negeri. Kini, spot ETF di Amerika Serikat menyalurkan miliaran dolar, sementara CME menjadi pusat dominan untuk futures. Dana pensiun dan hedge fund menggantikan peran pembeli individu, menjadikan modal institusional AS sebagai penentu harga marginal. Ketika modal tersebut bertambah, harga Bitcoin naik hingga rekor tertinggi di awal Oktober. Namun saat modal tersebut berkurang, harga Bitcoin stagnan di kisaran $67.500 dan belum ada katalis jelas untuk menghidupkan kembali tren kenaikan.
Ketergantungan dan Dampaknya terhadap Harga Bitcoin
Masalah utama terletak pada gagalnya tesis institusional. Investor yang mengharapkan Bitcoin sebagai lindung nilai terhadap inflasi, pelemahan mata uang, atau tekanan pasar saham justru melihat harga Bitcoin bergerak sejalan atau bahkan lebih buruk daripada risiko yang dimaksud. Sementara itu, investor momentum bergeser ke aset lain seperti saham global dan emas. Penarikan modal ini menyebabkan pasar Bitcoin menjadi lebih tipis. David Lawant dari Anchorage Digital menyebutkan permintaan untuk eksposur pinjaman di CME “belum pernah serendah sejak periode sebelum ETF tahun lalu.” Kondisi ini mengurangi leverage yang berfungsi sebagai pembeli paksa saat harga naik dan penyeimbang alami ketika ada tekanan jual.
Selain itu, sebagian gelombang institusional ternyata bersifat mekanis. Hedge fund menjalankan strategi basis trade yang membeli spot Bitcoin sambil menjual kontrak futures dengan premium untuk mendapatkan selisih keuntungan tanpa memperhatikan arah harga. Strategi ini menguntungkan selama selisih lebih tinggi dari hasil Treasury. Namun, setelah 10 Oktober, spread tersebut turun sehingga strategi ini kehilangan daya tarik dan aliran modal berhenti. Meski demikian, mayoritas penurunan dana ETF lebih karena menurunnya minat terhadap Bitcoin secara umum, bukan hanya karena faktor arbitrase spesifik.
Dinamika Produk Terstruktur dan Volatilitas yang Baru
Integrasi Bitcoin dengan finansial AS memang membawa keuntungan seperti likuiditas lebih dalam dan legitimasi institusional yang sebelumnya tidak dimiliki. Namun, kini permintaan sedang berbalik arah dan pasar kehilangan kemampuan merespons berita positif. Masalah lebih dalam bersifat struktural. Institusionalisasi tidak menghilangkan volatilitas, melainkan mengalihkannya. Produk yang memboyong Wall Street ke Bitcoin — seperti ETF, overlay yang menghasilkan yield, dan strategi opsi — memang dirancang menstabilkan pengembalian dalam kondisi normal. Namun, produk-produk ini juga dapat mengonsentrasikan risiko dan menampakkan dampak terbesar ketika kondisi pasar berubah.
Produk terstruktur yang menjual opsi untuk menghasilkan yield menekan gejolak harga saat pasar tenang, tetapi malah memperbesar fluktuasi saat ada katalis nyata. Banyak investor ETF saat ini bertahan di bawah harga rata-rata pembelian mereka, yang berarti kenaikan harga sering dijual untuk menutup posisi tanpa keuntungan. Akibatnya, kenaikan harga Bitcoin tertahan dan momentum yang biasanya menguat pada siklus sebelumnya tidak muncul. Spencer Hallarn dari GSR menegaskan bahwa produk seperti BlackRock IBIT menciptakan stabilitas lokal saat harga bergerak dalam rentang, tetapi saat ada katalis kuat, produk itu malah memperbesar pergerakan harga.
Kondisi Pasar Bitcoin Saat Ini
Reaksi pasar kini jauh berbeda dari siklus sebelumnya. Ketika BlackRock mengumumkan produk terkait Uniswap, harga token melonjak sementara sebelum kembali turun. Sebelumnya, pengumuman semacam ini biasanya memicu tren positif yang lebih panjang. Menurut Zach Lindquist dari Pure Crypto, struktur pasar benar-benar berubah drastis sejak 10 Oktober dengan penurunan yang jauh lebih intens dan stabil dibandingkan penurunan di 2018 dan 2022. Perubahan ini menunjukkan bahwa pendekatan institusional membawa risiko tersembunyi yang baru dan membuat pasar Bitcoin menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan momentum kenaikan.
Investor dan analis kini mengawasi dengan ketat apakah permintaan spot nyata bisa kembali dan menghidupkan kembali pasar Bitcoin. Tanpa sentimen dan permintaan yang kuat, setiap kenaikan harga besar berpotensi menjadi titik jual untuk mengembalikan modal. Dengan pasar yang semakin tergantung pada modal dan produk institusional yang hasilkan stabilitas semu, Bitcoin menghadapi fase baru yang penuh ketidakpastian.
