Bitcoin menunjukkan tanda pemulihan kuat pada metrik hashrate setelah mengalami penurunan tajam beberapa bulan terakhir. Hashrate yang mencerminkan total daya komputasi jaringan Bitcoin kembali naik secara drastis dari di bawah 850 EH/s menjadi lebih dari 1 ZH/s pada Februari, menandakan pemulihan bentuk V yang hampir menghapus penurunan sebelumnya.
Penurunan drastis hashrate disebabkan oleh gelombang dingin ekstrem yang melanda Amerika Serikat, menyebabkan gangguan pasokan listrik. Sekitar 1,3 juta mesin penambang terpaksa dimatikan saat jaringan listrik menghadapi tekanan akibat suhu beku, salju lebat, dan lonjakan permintaan pemanas. Akibatnya, produksi blok Bitcoin melambat drastis selama periode tersebut.
Kebangkitan kembali hashrate mengindikasikan bahwa para penambang mulai mengoperasikan mesin mereka kembali dengan optimisme baru terhadap prospek jangka panjang Bitcoin. Mempool, melalui salah satu pengembangnya bernama Mononaut, mencatat bahwa tingkat kesulitan penambangan Bitcoin meningkat sekitar 15%, yaitu kenaikan terbesar dalam sejarah secara absolut, sehingga membatalkan penyesuaian turun sebelumnya.
Meski hashrate membaik, harga Bitcoin belum menunjukkan pergerakan signifikan di atas angka $70.000. Analisis dari Hedgeye mengungkapkan biaya penambangan satu Bitcoin mencapai sekitar $84.000 per unit selama Februari, mengindikasikan bahwa banyak penambang masih menghadapi risiko kerugian operasional. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah pemulihan hashrate akan diikuti oleh kenaikan harga yang signifikan.
Secara historis, pemulihan hashrate berbentuk V sering kali bertepatan dengan lonjakan harga Bitcoin yang kuat. Contohnya terjadi pada pertengahan 2021, ketika larangan penambangan Bitcoin di China menyebabkan hashrate turun lebih dari 50%. Setelah itu, jaringan menunjukkan pemulihan siginifikan dan harga Bitcoin melonjak dari sekitar $30.000 menjadi lebih dari $60.000 dalam beberapa bulan.
Menurut Satoxis, salah satu tokoh veteran komunitas Bitcoin, peningkatan hashrate yang tajam setelah penurunan merupakan sinyal kuat bahwa kepercayaan para penambang tetap utuh. Ia menambahkan bahwa secara historis, hashrate sering kali menjadi indikator awal sebelum harga Bitcoin mengikuti arah pergerakan tersebut.
Data CryptoQuant yang melacak aliran keluar dana dari dompet penambang juga mendukung pandangan optimis ini. Rata-rata aliran keluar selama 7 hari dari dompet penambang menurun ke level terendah sejak Mei tahun lalu, menunjukkan penambang semakin menahan Bitcoin hasil tambangnya di tengah harapan kenaikan harga di masa depan.
Berikut ringkasan faktor utama yang tercatat terkait pemulihan hashrate dan dampaknya:
1. Penurunan 30% hashrate akibat gelombang dingin ekstrem di AS, menyebabkan padam listrik lokal.
2. Pemulihan hashrate cepat dari di bawah 850 EH/s ke lebih dari 1 ZH/s dalam waktu singkat.
3. Kenaikan tingkat kesulitan penambangan sekitar 15% mengindikasikan aktivitas penambang meningkat.
4. Harga Bitcoin stabil di bawah $70.000 meskipun hashrate pulih, dengan biaya mining lebih tinggi dibanding harga pasar.
5. Data historis menunjukkan korelasi kuat antara pemulihan hashrate berbentuk V dengan kenaikan harga Bitcoin.
6. Aliran dana dari dompet penambang ke pasar menurun, memperlihatkan keyakinan penambang pada prospek jangka panjang.
Pemulihan hashrate ini menjadi sinyal penting dalam memahami kondisi fundamental jaringan Bitcoin. Meskipun harga kini belum sepenuhnya merespon kenaikan daya komputasi, dinamika ini menunjukkan potensi pemulihan pasar yang dapat terwujud jika tren positif tersebut berlanjut. Para pelaku pasar dan pengamat blockchain memantau dengan seksama perkembangan ini sebagai indikator awal perubahan sentimen dalam ekosistem Bitcoin.





