Bitcoin mengalami penurunan tajam lebih dari 5% dalam perdagangan semalam, menyebabkan harga melemah di bawah level psikologis $65.000. Penurunan ini dipicu oleh pengumuman Presiden Trump yang akan menaikkan tarif impor global menjadi 15%, yang memicu pergerakan risk-off di pasar aset digital.
Kekhawatiran atas kebijakan tarif impor telah menjadi pemicu utama gejolak di pasar kripto akhir-akhir ini. Trump secara berkala menimbulkan kepanikan dengan ancaman sanksi keuangan terhadap China, Uni Eropa, dan beberapa negara lain, yang menyebabkan likuidasi besar-besaran aset kripto.
Dampak Tarif dan Perdagangan terhadap Harga Bitcoin
Kebijakan Trump yang menggunakan Section 122 dari Trade Act 1974 untuk mengenakan tarif 15% atas impor, meskipun sebelumnya sempat ditolak Mahkamah Agung, telah memicu ketidakpastian regulasi. Kondisi ini membuat investor takut mengambil risiko dengan beralih dari aset kripto, sebagaimana dijelaskan oleh Jeff Mei, COO BTSE, bahwa kenaikan tarif mendadak mendorong penjualan aset kripto karena antisipasi penurunan pasar yang lebih dalam.
Ketidakpastian ini mengakibatkan rotasi risiko (risk-off) yang signifikan antar kelas aset. Indeks Fear & Greed jatuh ke posisi 5 dari 100, level terendah sejak Crash COVID pada Maret 2020. Secara keseluruhan, pasar kripto anjlok sekitar 3,2%, mencerminkan sentimen negatif yang meluas.
Pengaruh Geopolitik dan Pergeseran Preferensi Investor
Selain faktor tarif, kekhawatiran geopolitik juga menambah tekanan jual di pasar. Prediksi pasar memuat potensi serangan militer terhadap Iran, yang membuat para trader mengambil langkah konservatif dengan melikuidasi posisi spekulatif. Kondisi ini menciptakan lingkungan yang tidak kondusif untuk aset berisiko seperti Bitcoin.
Sementara itu, emas terus menguat dan sudah kembali menembus level $5.000, menunjukkan peran tradisionalnya sebagai tempat berlindung aset selama ketidakpastian ekonomi global. Indeks S&P500 sendiri berada sedikit di bawah level tertingginya, menandakan bahwa kripto saat ini merupakan korban terbesar dari situasi makroekonomi yang memburuk.
Tren Investasi dan Sentimen Pasar Kripto
Data dari CoinGlass menunjukkan adanya pengurangan minat baik di kalangan institusi maupun investor ritel. US spot Bitcoin ETF mencatat arus keluar bersih hampir $320 juta sepanjang pekan lalu, menandai pekan kelima berturut-turut dengan aliran dana negatif. Hal ini mengindikasikan permintaan yang menurun terhadap Bitcoin.
Sementara emas naik 2,6% selama minggu lalu, Bitcoin semakin kehilangan narasi sebagai “emas digital” di tengah volatilitas pasar yang sedang berlangsung.
Analisis Teknikal dan Prediksi Harga ke Depan
Markus Thielen, kepala riset di 10x Research, menyampaikan bahwa penurunan harga Bitcoin lebih disebabkan oleh likuiditas yang lemah daripada satu berita spesifik. Pasar tengah memasuki fase bear market yang ditandai dengan ketidakpastian dan minimnya keyakinan investor.
Support teknikal utama sekitar $67.000 telah runtuh, di mana sebelumnya trader membeli perlindungan saat harga turun. Standard Chartered pun memangkas prediksi harga Bitcoin untuk tahun depan menjadi hanya $50.000. Thielen memprediksi potensi penurunan lebih lanjut yang mungkin menguji level tersebut sebelum pasar menemukan titik terendahnya.
Prediksi bearish ini diperkuat oleh data Polymarket, yang menunjukkan 62% pelaku pasar memperkirakan Bitcoin akan turun di bawah $50.000 tahun ini. Sementara itu, para bullish harus mampu mendorong harga melewati $67.500 untuk mencegah likuidasi besar lanjutan setelah lebih dari $500 juta hilang dalam 24 jam terakhir.
Dengan situasi global yang penuh ketidakpastian dan tekanan dari kebijakan perdagangan serta konflik politik, Bitcoin menghadapi tantangan berat dalam beberapa waktu mendatang. Investor dan trader perlu mencermati dinamika pasar secara cermat, terutama dalam konteks sentimen risiko yang berubah-ubah dan faktor eksternal yang kompleks saat ini.







