Bitcoin Jatuh ke Bawah 65 Ribu Dolar dan Menuju Bulan Kelima Rugi Berturut-turut Di Tengah Ketidakpastian Pasar Global

Bitcoin semakin turun dan kini berada di bawah harga $65,000 setelah mencapai titik terendah tiga minggu pada hari Senin. Penurunan ini terjadi bersamaan dengan melemahnya pasar global yang dipicu oleh ketidakpastian perdagangan internasional.

Keputusan Mahkamah Agung yang membatalkan tarif Presiden Trump turut berkontribusi pada aksi jual ini. Presiden kemudian mengumumkan tarif global sebesar 10%, yang kemudian dinaikkan menjadi 15%, sehingga meningkatkan kekhawatiran investor terhadap pasar kripto.

Menurut catatan riset Bespoke Investment Group, ada keraguan di kalangan investor mengenai efektivitas Bitcoin sebagai alat penyimpan nilai. Tahun ini, Bitcoin sudah turun sekitar 24% dan masih jauh di bawah puncak tertinggi sepanjang masa pada bulan Oktober, yaitu turun sekitar 47%.

Token ini berpotensi mengalami kerugian untuk bulan kelima berturut-turut, sebuah tren yang jarang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Data dari CoinMarketCap mencatat harga Bitcoin pada sekitar $64,813, turun hampir 4% dari harga sebelumnya.

Analisis Pasar dan Kondisi "Crypto Winter"

Lelehan harga pada hari Senin menunjukkan bahwa kondisi "crypto winter" belum berakhir. Namun, para analis memprediksi bahwa penurunan kali ini tidak akan separah siklus sebelumnya. Ed Engel, analis dari Compass Point, menyebutkan bahwa meskipun terjadi penurunan, belum tampak banyak kebangkrutan di antara pemberi pinjaman dan broker utama di dunia kripto.

Pada tahun sebelumnya, penurunan harga Bitcoin sempat mencapai 77% dari puncaknya, disebabkan oleh keruntuhan banyak lembaga pinjaman dan perusahaan perdagangan yang memicu penjualan paksa. Namun, tahun ini kasus terbesar adalah kegagalan Blockfills, broker utama berukuran sedang, yang menghentikan penarikan dan penyetoran awal bulan ini.

Engel menilai dampak kegagalan Blockfills relatif kecil dan pasar secara umum belum mengalami efek domino seperti di masa lalu. Ia menegaskan bahwa tanpa adanya krisis kredit besar, pasar bearish saat ini diperkirakan tidak akan seburuk periode sebelumnya.

Perkiraan Harga dan Prospek ke Depan

Meski demikian, beberapa analis optimis harga Bitcoin akan membaik pada paruh kedua tahun ini. Geoff Kendrick dari Standard Chartered bahkan melakukan revisi target harga akhir tahun dari $150,000 turun menjadi $100,000. Ia mengamati bahwa pasar saat ini mengantisipasi tidak akan ada penurunan suku bunga The Federal Reserve sampai kepemimpinan baru di bulan Juni.

Kendrick menambahkan bahwa dalam kondisi sekarang, pemegang ETF cenderung menjual daripada membeli saat harga turun. Hal ini mencerminkan sikap hati-hati para investor terhadap volatilitas pasar yang masih tinggi.

Penurunan harga Bitcoin selama berbulan-bulan ini terjadi pada latar geopolitik dan ekonomi yang kompleks. Investor global terus memantau kebijakan perdagangan, keputusan moneter, serta sentimen pasar untuk menentukan langkah investasi selanjutnya. Meskipun menghadapi tekanan, pergerakan harga Bitcoin tetap menjadi indikator penting dalam ekosistem aset digital yang terus berkembang.

Terkait