Penurunan harga Bitcoin ke level sekitar $64,000 bukanlah tanda keruntuhan pasar, melainkan dampak dari berbagai kejutan makroekonomi yang terjadi secara beruntun. Analis menyebut penurunan ini berkaitan dengan tekanan eksternal seperti kebijakan perdagangan dan suku bunga yang memberikan beban besar pada pasar yang sudah leverage tinggi.
Bitcoin tercatat mengalami penurunan hingga 6,4% dalam sepekan, dengan harga mencapai $63,822 terakhir kali menurut CoinGecko. Angka tersebut menandai penurunan sekitar 50% dari level tertinggi sepanjang masa di harga $126,080 yang terjadi lima bulan lalu. Dana investasi terkait aset digital juga mencatatkan keluarnya modal selama lima pekan berturut-turut.
Faktor Penyebab Tekanan pada Bitcoin
Para ahli menyoroti beberapa faktor utama yang menyebabkan koreksi ini, di antaranya:
- Kebijakan tarif global meningkat, khususnya keputusan untuk menaikkan tarif menjadi 15%, yang menimbulkan ketidakpastian di pasar risiko.
- Sikap Federal Reserve yang cenderung mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama, berdasarkan data dari CME’s FedWatch yang menunjukkan kemungkinan tidak ada pemangkasan suku bunga hingga 96%.
- Tingginya tingkat leverage di dalam pasar Bitcoin, yang memperberat volatilitas saat terjadi tekanan jual.
- Arus keluar dana investasi (ETF) yang berkelanjutan selama lima minggu, mencapai total $4 miliar, menandakan penurunan kepercayaan investor.
Rachael Lucas, analis dari BTC Markets, menegaskan bahwa penurunan ini bukan satu peristiwa tunggal melainkan akibat menumpuknya berbagai tekanan makro di pasar yang sudah rentan. Meskipun Bitcoin sering disebut sebagai “emas digital,” dia menekankan bahwa saat ini Bitcoin masih berperilaku seperti aset berisiko yang rentan terhadap perubahan sentimen global.
Dampak dan Implikasi untuk Siklus Bitcoin
Pembahasan mengenai siklus empat tahun Bitcoin mulai mereda di tengah kondisi pasar saat ini. Lucas mengungkapkan bahwa jika siklus masih berlaku, tahun puncak sudah tercapai pada 2025 dan tahun berikutnya akan menjadi fase koreksi serta pembangunan dasar sebelum akumulasi berikutnya pada tahun 2027 hingga 2028.
Nick Ruck dari LVRG Research menguatkan pandangan bahwa penurunan harga Bitcoin sejauh ini tidak menandai putusnya siklus atau dasar fundamental aset tersebut. Dia menyebut adanya eskalasi tarif, sentimen risiko yang negatif terhadap saham dan kripto, serta aliran ETF yang terus keluar sebagai penyebab utama tekanan harga.
Sementara itu, Justin d’Anethan dari Arctic Digital menambahkan bahwa ketidakpastian terkait ekspektasi pemangkasan suku bunga, kekhawatiran terhadap potensi penutupan pemerintah AS, dan kenaikan tarif memberikan tekanan tambahan. Dia juga menyebut kondisi ini dapat memaksa para penambang menjual Bitcoin demi menjaga kelangsungan operasi karena imbalan produksi yang semakin menipis.
Pandangan Jangka Pendek dan Prospek Stabilitas
Kondisi jangka pendek terlihat kurang optimis dengan prediksi koreksi yang masih akan berlanjut. Namun, para ahli tetap melihat fondasi struktural Bitcoin tetap kuat dan siklus historis yang telah terbukti akan mendukung pemulihan.
Nick Ruck memproyeksikan stabilisasi harga Bitcoin di kisaran pertengahan $60,000 sebelum perlahan-lahan kembali pulih. Menurutnya, level harga riil selama koreksi sering menjadi titik dukungan kuat sebelum Bitcoin melanjutkan tren kenaikan yang didorong oleh narasi kelangkaan dan adopsi institusional.
Sementara itu, d’Anethan memperkirakan harga terwujud di angka $55,000 masih memungkinkan mencapai level tersebut mengingat ketidakpastian yang berlangsung. Namun, ia menilai penurunan ke bawah $60,000 bisa menjadi peluang yang baik bagi investor untuk melakukan rata-rata pembelian.
Tekanan Likuidasi dan Volatilitas
Penurunan Bitcoin ke bawah $65,000 juga memicu likuidasi besar-besaran yang mencapai sekitar $500 juta. Hal ini menambah volatilitas pasar dan mempercepat tekanan jual dalam jangka pendek. Volume perdagangan pun menurun ke level terendah sejak Juli, menunjukkan kondisi market yang berhati-hati dan berhenti sejenak menunggu arah baru.
Dalam keseluruhan konteks ini, volatilitas harga Bitcoin tidak mencerminkan kerusakan fundamental aset digital tersebut melainkan reaksi alami pasar terhadap gejolak eksternal yang kompleks. Investor dan pengamat perlu memantau dinamika makro ini agar dapat mengambil keputusan yang tepat pada fase koreksi yang tengah berjalan.
