China sedang menghadapi tekanan demografis yang kini mulai mengubah arah industrinya. Di tengah penyusutan usia kerja dan angka kelahiran yang terus turun, robot humanoid diposisikan bukan lagi sebagai pelengkap, melainkan pengganti tenaga manusia di pabrik dan layanan.
Populasi usia pekerja di China diprediksi merosot 37 juta orang pada dekade berikutnya. PBB juga memperkirakan populasi usia kerja negara itu akan menyusut drastis menjadi sekitar 300 juta jiwa pada akhir abad ini.
Penyebabnya sudah lama menumpuk. Penurunan kelahiran, kenaikan harapan hidup, dan kebijakan satu anak selama beberapa dekade membuat China menjadi salah satu negara dengan penuaan penduduk tercepat di dunia.
Robot masuk ke celah tenaga kerja
Financial Times menyorot bagaimana China menggenjot penerapan robot humanoid ke peran manufaktur dan jasa. Langkah ini muncul sebagai respons struktural terhadap menyusutnya jumlah tenaga kerja, bukan sekadar eksperimen teknologi.
Kondisi itu berbeda dengan banyak negara Barat. Di sana, otomatisasi kerap memicu kekhawatiran soal pemangkasan karyawan, sementara di China teknologi ini dijawab sebagai solusi atas masalah kelahiran yang terus merosot.
Bukti paling konkret terlihat dari infrastruktur yang dibangun pemerintah. Platform Layanan Manajemen Siklus Hidup Penuh Robot Humanoid China diluncurkan pada Mei 2025 oleh Pusat Inovasi Robotika Humanoid Provinsi Hubei di bawah naungan Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China.
Lembaga itu telah mencatat lebih dari 28.000 robot yang mencakup 200 model. Menurut The Next Web, setiap unit mendapat kode digital unik, semacam identitas kependudukan untuk mesin.
Kode itu memuat 29 karakter yang berisi detail produsen, tingkat kemampuan AI, riwayat pelatihan software, hingga metrik kinerja waktu nyata dari tahap produksi sampai daur ulang. Sistem ini bukan hanya pendataan, tetapi juga pelacakan aktif untuk armada robot yang ingin diperluas cepat oleh kebijakan pemerintah.
Investasi besar, target besar
Ambisi itu ikut tercermin dari aliran modal. Investasi robotika China mencapai US$3,4 miliar pada lima bulan pertama 2025, melampaui total investasi sepanjang 2024 dan lebih tinggi 42% dibandingkan investasi AS pada periode yang sama.
Saat ini ada lebih dari 150 produsen aktif di pasar robot humanoid. Pemerintah menargetkan integrasi robot humanoid ke rantai pasok manufaktur pada 2027 dan pasar domestik senilai 300 miliar yuan pada 2035.
Barclays, dalam analisis yang dikutip The Next Web, memperkirakan kebutuhan penerapan robot bisa mencapai 24 juta unit pada pertengahan 2030-an. Angka itu setara sekitar 4% dari angkatan kerja China saat ini dan ditujukan untuk menutup 60% dari proyeksi kekurangan tenaga kerja.
Jarak antara ambisi dan kenyataan
Namun, adopsi di lapangan belum secepat target resmi. Laporan The Next Web menyebut hanya 23% pembeli saat ini yang puas dengan robot yang sudah mereka beli.
Laporan itu tidak menjelaskan sumber ketidakpuasan secara pasti. Masalahnya bisa berasal dari keandalan perangkat keras, kemampuan perangkat lunak, atau terbatasnya jenis tugas yang dapat dilakukan.
Status 28.000 robot yang terdaftar juga belum sepenuhnya jelas. Belum diketahui apakah seluruhnya sudah dipakai di produksi atau masih berupa prototipe dan mesin uji coba.
Jika masalah kepuasan bisa diatasi, permintaan berkelanjutan diperkirakan akan muncul lebih dulu di rantai pasok yang melayani lebih dari 150 produsen pesaing. Di saat yang sama, harga unit kelas industri buatan China untuk konfigurasi tertentu mulai turun hingga di bawah US$20.000, sehingga persaingan berikutnya akan banyak ditentukan oleh kualitas software dan kemampuan mempertahankan daya saing teknologi.
