Salah satu game kejutan di Switch 2 kini ikut menguatkan satu gagasan yang makin sulit diabaikan: retro gaming bukan sekadar nostalgia, melainkan arah yang masih sangat relevan untuk game modern. Lewat pendekatan 2D-HD milik Square Enix, The Adventures of Elliot menunjukkan bahwa visual bergaya lama bisa tampil meyakinkan tanpa harus mengejar realisme penuh.
Yang menarik, game ini tidak datang sebagai RPG turn-based seperti sebagian besar rilisan 2D-HD Square Enix sebelumnya. The Adventures of Elliot justru mengambil jalur action-adventure tradisional, dengan nuansa yang mengingatkan pada seri Zelda lawas, dan hasilnya memberi bukti bahwa gaya visual tersebut bisa dipakai untuk genre yang lebih aktif.
Visual retro yang terasa modern
Square Enix selama beberapa tahun terakhir mendorong gaya 2D-HD, yaitu kombinasi sprite 2D di atas lingkungan 3D yang lebih kompleks. Pendekatan itu sudah terbukti bisa terlihat memukau dalam kondisi yang tepat, dan The Adventures of Elliot memperluas pembuktiannya ke arah yang lebih ambisius.
Dunia dalam game ini digambarkan luas dan penuh atmosfer, meski tidak selalu hadir dalam resolusi yang sangat tinggi. Namun justru dari keterbatasan itulah muncul kesan efisien, karena tampilannya tetap indah dan artistik tanpa harus menempuh jalur produksi yang mahal dan panjang.
Action-adventure dengan struktur klasik
Di game ini, pemain mengikuti Elliot, seorang petualang yang terseret ke dalam kisah RPG yang cukup klasik. Ada raja lokal, seorang penasihat licik yang mengincar kekuasaan, dan sebuah rencana yang melibatkan perjalanan waktu sebagai pemicu utama konflik.
Cerita kemudian membawa pemain melewati semacam wormhole untuk menjelajahi dunia dalam berbagai era. Pemain bergerak dari masa prasejarah hingga masa depan, sambil melihat bagaimana dunia berubah, memburuk, dan berkembang, termasuk naik turunnya posisi sihir dalam masyarakat.
Gameplay lama, tempo baru
Meski membawa nuansa klasik, gameplay The Adventures of Elliot tidak terasa kaku. Pergerakan dan pertarungan masih memakai pendekatan old-school, tetapi tempo permainannya lebih cepat berkat peningkatan kecepatan gerak.
Ada juga sistem yang memberi pemain perk yang bisa dibuka untuk senjata tertentu. Perk ini mengubah cara pakai senjata secara cukup signifikan, termasuk membuat serangan berat yang lebih lambat jadi lebih menguntungkan daripada serangan cepat, atau sebaliknya.
Sistem tersebut menjaga permainan tetap segar karena mendorong pemain menyesuaikan gaya bermain. Perubahan yang terjadi memang kecil, tetapi cukup berarti untuk membuat tiap senjata terasa punya identitas sendiri.
Kinerja yang mulus di Switch 2
Di Switch 2, game ini berjalan sangat lancar. Performa itu kemungkinan terbantu oleh fakta bahwa game ini tidak terlalu menuntut secara grafis, namun hasil akhirnya tetap dipandang positif karena menunjukkan pengelolaan yang cerdas.
Pendekatan itu menjadi penting di tengah tren industri yang sering mengejar game dengan biaya ratusan juta dolar dan masa produksi bertahun-tahun. The Adventures of Elliot menawarkan contoh berbeda: game yang tampak cantik, terasa artistik, dan bisa dibuat dengan pendekatan yang lebih terbatas.
Ada catatan lain yang juga muncul dari pengalaman awal bermain. Dialog dalam game ini ternyata lebih banyak dari yang diharapkan untuk genre seperti ini, dan sebagian percakapan terasa agak membosankan serta mudah ditebak.
Namun kesan terbesar tetap datang dari presentasi visual dan arah desainnya. Setelah sekitar lima jam bermain, game ini dipandang sebagai salah satu contoh bahwa studio besar tidak selalu harus mengejar fotorealisme untuk menghasilkan game yang kuat, karena perpaduan cara lama dan cara baru masih bisa bekerja sangat baik.
