Bitcoin Mengarah ke Penurunan Terburuk Sejak Runtuhnya Pasar Kripto Juni 2022 yang Membayangi Pemulihan

Bitcoin mencatat penurunan signifikan dan diperkirakan mengalami bulan terburuk sejak runtuhnya industri kripto pada pertengahan 2022. Harga Bitcoin sempat turun hingga 3,1% ke level $62.557 dan bergerak sekitar $63.500 di pagi hari waktu New York.

Penurunan ini menyumbang penurunan sekitar 19% sepanjang bulan berjalan, yang mencerminkan performa terburuk Bitcoin sejak bulan Juni 2022, saat kegagalan proyek stablecoin TerraUSD memicu rangkaian kebangkrutan, termasuk hedge fund Three Arrows Capital dan pemberi pinjaman BlockFi.

Rekor Penurunan Berturut-turut dan Sentimen Pasar
Bitcoin kini tengah mengalami penurunan untuk bulan kelima berturut-turut, sebuah tren yang terakhir terjadi pada 2018, saat pasar kripto menghadapi guncangan akibat meluasnya tren Initial Coin Offering (ICO) yang gagal. Penurunan ini dipicu oleh suasana risk-off secara global, terutama setelah pengumuman rencana kenaikan tarif global menjadi 15% oleh Presiden Donald Trump.

Kebijakan tarif ini mengguncang pasar risk assets, termasuk Bitcoin. Rachael Lucas, analis kripto dari BTC Markets, menilai Bitcoin masih diperdagangkan sebagai aset berisiko, bukan sebagai "emas digital." Ketika ketakutan makroekonomi meningkat, modal justru berpindah ke aset safe haven tradisional.

Dampak dan Kontroversi 2022 yang Terus Bergema
Runtuhnya pasar kripto tahun lalu belum selesai. Terraform Labs, pengelola TerraUSD, mengajukan gugatan atas tindakan Jane Street Group yang dituduh menggunakan informasi non-publik untuk mempercepat keruntuhan Terra. Jane Street membantah klaim tersebut dan menyebut gugatan itu sebagai upaya putus asa untuk mendapatkan dana.

Sentimen hati-hati masih sangat dominan di pasar kripto. Selama empat bulan terakhir, Bitcoin telah melewati beberapa level support penting dan terus menurun. Pratik Kala, manajer portofolio di Apollo Crypto, menyoroti tekanan berat pada para penambang Bitcoin. Bitdeer Technologies, misalnya, mengambil keputusan untuk melikuidasi seluruh Bitcoin yang dimiliki.

Tekanan Panjang pada Penambang dan Pergerakan Harga Selanjutnya
Dengan biaya rata-rata penambangan di kisaran $80.000, banyak penambang yang beroperasi di bawah titik impas. Kondisi ini memicu penjualan bersih dari para penambang yang diperkirakan akan berlanjut dalam jangka dekat. Pada hari Senin lalu, dana yang tercatat pada ETF Bitcoin spot yang terdaftar di AS mengalami outflow sebesar lebih dari $200 juta.

Permintaan asuransi untuk perlindungan penurunan harga saat ini dua kali lebih besar daripada taruhan bullish dalam perdagangan opsi. Level support berikutnya diperkirakan berada di kisaran $60.000, yang sempat disentuh Bitcoin beberapa waktu lalu.

Analisis Moving Average dan Risiko Penurunan Lebih Dalam
Tony Sycamore, analis dari IG Australia, mencatat bahwa Bitcoin semakin mendekati moving average 200 minggu pada level $58.503. Level ini menjadi kunci dalam menentukan stabilitas harga ke depan. Jika Bitcoin tetap bertahan di atas level ini, ada peluang harga bisa stabil lebih dulu.

Sebaliknya, penurunan di bawah zona $58.000 hingga $60.000 berpotensi membuka jalan bagi koreksi harga yang lebih dalam. Tekanan tidak hanya dirasakan oleh Bitcoin saja, tetapi juga seluruh pasar kripto secara umum.

Dampak terhadap Pasar Kripto Secara Luas
Total kapitalisasi pasar seluruh aset kripto mengalami penurunan lebih dari $120 miliar dalam dua hari terakhir, menurut data CoinGecko. Ether, aset digital terbesar kedua, juga tertekan dengan penurunan hingga 3,3% di posisi $1.802.

Riwayat volatilitas Bitcoin dan tekanan di pasar secara keseluruhan menunjukkan bahwa tantangan besar masih membayangi aset digital ini dalam waktu dekat. Faktor makroekonomi global dan dinamika pasar kripto perlu terus dimonitor sebagai indikator potensi pergerakan harga berikutnya.

Terkait