
Fenomena El Nino diperkirakan akan kembali muncul dengan intensitas kuat di Samudra Pasifik. Ilmuwan menyebutkan bahwa bibit petaka untuk suhu Bumi yang panas mendidih telah mulai terlihat sejak awal tahun ini. Dua lembaga pemantau cuaca besar dunia, NOAA dan Biro Meteorologi Australia, sama-sama memperkirakan kemungkinan besar El Nino akan berlangsung pada tahun 2026.
Menurut perkiraan NOAA, kemungkinan pembentukan El Nino mencapai 50-60 persen pada musim panas wilayah utara Bumi di tahun tersebut. Sementara Biro Meteorologi Australia memperkirakan fenomena ini dapat dimulai sejak bulan Juni. Namun demikian, akurasi proyeksi ini masih dalam tahap pengembangan karena prediksi jangka panjang cenderung memiliki tingkat ketidakpastian yang tinggi.
El Nino dan Dampaknya terhadap Cuaca Global
El Nino merupakan salah satu fase dari siklus iklim yang dikenal sebagai El Niño-Southern Oscillation (ENSO). Fenomena ini terjadi akibat perubahan suhu dan tekanan atmosfer secara fluktuatif di kawasan timur Samudra Pasifik. Dampaknya terasa secara global, baik dalam bentuk pola curah hujan yang berubah, periode kekeringan panjang, hingga terjadinya gelombang panas ekstrem.
Saat fase El Nino berlangsung, suhu global cenderung meningkat hingga sekitar 0,2 derajat Celcius. Kenaikan suhu ini cukup signifikan karena dapat memicu berbagai bencana alam, seperti banjir dan kekeringan di berbagai belahan dunia. Pada saat yang sama, kondisi ini juga dapat mengganggu siklus cuaca normal yang selama ini terjadi.
Peralihan dari La Nina ke El Nino
Saat ini, dunia masih berada di bawah pengaruh La Nina, fase dingin dari siklus ENSO yang disebut-sebut telah melemah secara bertahap. NOAA memprediksi bahwa La Nina akan bertransisi ke fase netral dalam beberapa bulan mendatang. Peralihan ini menjadi tanda bahwa kemudian El Nino berpotensi muncul sebagai fase dominan di tahun-tahun berikutnya.
Data historis selama 11 tahun terakhir menunjukkan tren peningkatan suhu global yang mencapai rekor tertinggi. Pada tahun 2025, suhu dunia sudah mencatat angka terpanas meski ada efek penyeimbang dari La Nina. Tanpa adanya La Nina yang sifatnya menyejukkan, suhu global pada 2026 dan 2027 berpotensi naik lebih ekstrem.
Dampak Ekonomi dan Lingkungan
Kehadiran El Nino pada skala global sering kali berimbas pada sektor ekonomi dan lingkungan. Pola cuaca yang tak menentu dapat merusak produktivitas pertanian akibat kekeringan atau banjir yang meluas. Harga komoditas pangan bisa melonjak akibat gangguan panen, sementara kekurangan air bersih menjadi tantangan besar di berbagai wilayah terdampak.
Selain itu, gelombang panas yang memburuk juga memengaruhi kesehatan masyarakat dan keanekaragaman hayati laut serta darat. Suhu laut yang terlalu panas berisiko menyebabkan kematian massal terumbu karang dan ikan, yang pada gilirannya mengganggu ekosistem laut secara keseluruhan.
Langkah Antisipasi Menghadapi El Nino
Menghadapi prediksi ini, perlu dilakukan beberapa langkah antisipasi yang terstruktur, antara lain:
- Memperkuat sistem peringatan dini bencana untuk mitigasi kekeringan dan banjir di daerah rawan.
- Meningkatkan kesiapan sektor pertanian dengan varietas tanaman yang tahan kekeringan dan pergeseran musim tanam.
- Pengelolaan sumber daya air secara efisien untuk mengatasi periode kritis kekurangan air.
- Mengedukasi masyarakat dan pemerintah daerah mengenai potensi risiko dan tindakan mitigasi yang diperlukan.
Dengan pemahaman dini atas fenomena El Nino dan langkah antisipasi yang tepat, risiko kerugian dari perubahan iklim ekstrem dapat ditekan seminimal mungkin. Namun, peran aktif dan koordinasi lintas sektor menjadi kunci utama untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan stabilitas sosial ekonomi di masa mendatang.
Data memperlihatkan bahwa fenomena ini bukan hanya masalah iklim biasa, melainkan peringatan serius terhadap perubahan iklim dan dampaknya yang bisa dirasakan hingga ke tingkat global. Penelitian dan pemantauan terus dilanjutkan agar prediksi lebih akurat dan respons mitigasi lebih tepat sasaran.
Baca selengkapnya di: www.cnbcindonesia.com




