Industri taksi otomatis tanpa sopir atau robotaxi di Amerika Serikat menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Perusahaan teknologi terkemuka seperti Waymo, anak usaha Alphabet, sedang melakukan ekspansi besar-besaran ke berbagai kota utama di AS. Ekspansi ini meningkatkan kekhawatiran mengenai masa depan profesi driver online yang diprediksi akan mengalami tekanan berat.
Waymo memperluas layanan robotaxi ke 10 kota besar termasuk Dallas, Houston, San Antonio, dan Orlando. Langkah ini menegaskan dominasi Waymo di pasar robotaxi di AS, yang kini menjadi titik perhatian bagi para pekerja driver online. Berdasarkan survei American Automobile Association pada 2025, enam dari sepuluh driver online di AS menyatakan ketakutan mereka terhadap kehadiran teknologi ini.
Dominasi Waymo dan Persaingan Pasar Robotaksi
Waymo menjadi pelopor robotaxi yang paling agresif dalam membuka layanan komersial. Selain kota-kota baru, Waymo juga beroperasi di Miami, Austin melalui kemitraan Uber, Atlanta, Phoenix, Los Angeles, dan San Francisco Bay Area. Perusahaan menggunakan sistem pengemudi otomatis generasi kelima pada model sedan Jaguar I-PACE, sementara sistem generasi keenam juga mulai diuji pada mobil listrik Ojai dari Geely di California.
Total kendaraan robotaxi Waymo yang beroperasi mencapai lebih dari 3.000 unit. Waymo mengklaim telah menyediakan layanan lebih dari 400.000 perjalanan berbayar per minggu di seluruh AS dan melewati angka 20 juta perjalanan selama masa operasionalnya. Pendanaan sebesar US$16 miliar yang didapatkan Waymo pada Februari 2026 memberi valuasi perusahaan hingga US$126 miliar, dengan Alphabet sebagai pemegang saham mayoritas.
Namun, ekspansi ini diikuti oleh persaingan sengit dari Tesla, Zoox milik Amazon, Waabi, dan Nuro, yang juga berambisi menguasai pasar robotaxi di AS. Selain itu, perusahaan robotaxi asal Cina seperti Apollo Go dan WeRide sedang memperluas layanan ke pangsa pasar internasional. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi robotaxi bukan lagi sekadar inovasi massal, tetapi juga ancaman signifikan bagi pekerjaan pengemudi manusia.
Dampak dan Tantangan Regulasi
Kehadiran robotaxi juga memunculkan kritik dan tantangan serius terkait keamanan dan responsif kendaraan otomatis. Waymo menghadapi penyelidikan dari regulator nasional atas perilaku kendaraan mereka khususnya di sekitar lingkungan sekolah dan bus sekolah. Insiden kemacetan yang disebabkan kendaraan Waymo saat pemadaman listrik di San Francisco menjadi sorotan publik.
Selain itu, adanya "asisten jarak jauh" yang membantu pengemudi robotaxi dalam situasi sulit memunculkan pertanyaan soal transparansi operasional dan keandalan sistem otomatis. Senator Edward Markey, misalnya, meminta perusahaan seperti Waymo dan pengembang robotaxi lainnya untuk mengungkapkan bagaimana mereka mengelola intervensi manusia dalam operasional kendaraan otonom.
Masa Depan Profesi Driver Online di Amerika
Jika teknologi robotaxi terus berkembang dan regulasi makin mendukung, keberadaan driver online sebagai sumber penghasilan masyarakat dapat tergantikan. Ini merupakan tantangan berat khususnya bagi puluhan juta pengemudi yang saat ini bergantung pada pekerjaan tersebut. Mereka harus bersiap menghadapi gelombang perubahan besar dalam ebisnis transportasi dan layanan pengantaran.
Berikut ini beberapa tanda makin parahnya tekanan bagi driver online di AS akibat kemunculan robotaxi:
- Ekspansi luas layanan robotaxi ke berbagai kota utama.
- Dominasi perusahaan besar seperti Waymo dan Tesla.
- Kenaikan jumlah kendaraan otonom di jalan mencapai ribuan unit.
- Survei menunjukkan tingkat kecemasan tinggi di kalangan driver online.
- Regulasi dan kebijakan mulai mengakomodasi keberadaan kendaraan otonom.
- Teknologi bantuan jarak jauh menggantikan peran manusia secara bertahap.
Teknologi robotaxi menawarkan solusi transportasi yang lebih efisien dan potensi pengurangan kecelakaan akibat pengemudi manusia. Namun, dampak sosial dan ekonomi harus jadi perhatian terutama pada pekerja sektor ride-hailing dan jasa antar yang mungkin kehilangan lapangan kerja.
Perusahaan robotaxi terus berinvestasi besar untuk meningkatkan performa dan keamanan kendaraan mereka. Waymo misalnya, memperbarui generasi perangkat pengemudinya, serta membangun jaringan layanan yang luas dan andal. Adaptasi pengguna juga menjadi faktor penting untuk keberhasilan teknologi ini di masa depan.
Melihat tren ini, ekosistem transportasi di AS kemungkinan akan berubah drastis dalam beberapa tahun mendatang. Kiamat bagi driver online bukan sekadar megahnya robotaxi, tetapi bagaimana kondisi regulasi dan kebutuhan pasar yang mengarah pada otomatisasi total jasa transportasi. Masyarakat, pemerintah, serta pelaku bisnis perlu menyiapkan strategi adaptasi agar tidak tertinggal dalam revolusi mobilitas ini.
Baca selengkapnya di artikel sumber: www.cnbcindonesia.com