MARA Tembus Revolusi Digital, Saham Melonjak Setelah Menandatangani Kesepakatan Pusat Data AI dari Situs Penambangan Bitcoin

MARA Holdings mengalami lonjakan harga saham setelah mengumumkan kerja sama dengan Starwood Property Trust untuk mengembangkan pusat data yang fokus pada kecerdasan buatan (AI). Kesepakatan ini melibatkan konversi sejumlah lokasi penambangan Bitcoin milik MARA menjadi kampus pusat data hyperscale yang dapat melayani beban kerja AI dan perusahaan.

Di bawah kesepakatan tersebut, MARA akan mengubah beberapa situs penambangan Bitcoin yang memiliki biaya energi rendah dan akses jaringan listrik kuat. Proyek-proyek ini akan dilakukan secara bertahap di setiap lokasi tanpa melibatkan aset yang sudah tergabung dalam patungan dengan pihak ketiga. Fred Thiel, CEO MARA, menyatakan bahwa transformasi ini akan mengubah kepastian pasokan energi menjadi kepastian kapasitas komputasi.

Harga saham MARA sempat turun 1,4% pada sesi perdagangan reguler dengan penutupan di angka $8,45. Namun, di sesi perdagangan setelah jam kerja, saham MARA melonjak hingga $9,62 atau naik sekitar 13,9%. Bahkan pada perdagangan lanjutan, harga saham mencapai level tertinggi $9,9, naik sekitar 16% dari penutupan reguler menurut data Google Finance.

Kerja sama ini menggabungkan infrastruktur energi intensif milik MARA dengan kemampuan pengembangan dan operasi dari Starwood. Tujuannya adalah untuk mengubah kampus-kampus tersebut menjadi pusat infrastruktur digital yang mampu mengalihkan daya komputasi antara penambangan Bitcoin dan beban kerja AI, disesuaikan dengan harga listrik dan permintaan pasar.

Menurut Ram Kumar, kontributor utama di OpenLedger, langkah ini strategis karena mengalihkan fokus MARA dari ketergantungan harga Bitcoin dan hashrate menuju monetisasi kapasitas komputasi yang lebih fleksibel. Namun, Kumar menambahkan bahwa tanpa adanya kontrak sewa hyperscale yang telah ditandatangani dengan rincian ekonomi, saham MARA masih akan dipengaruhi oleh fluktuasi harga Bitcoin karena penambangan adalah sumber pendapatan yang paling jelas dan teramati dalam jangka pendek.

Siwon Huh, peneliti dari perusahaan analitik kripto Four Pillars, memandang bahwa langkah ini dapat mengubah profil pendapatan jangka panjang MARA secara signifikan, tergantung pada perkembangan belanja AI di masa depan. Saat ini, MARA masih berada pada tahap kemitraan tanpa pengumuman penyewa AI yang resmi, berbeda dengan perusahaan sejenis seperti Core Scientific dan TeraWulf yang sudah mengamankan kontrak hosting jangka panjang untuk beban kerja AI.

Berikut beberapa poin penting mengenai kemitraan MARA dan Starwood:

1. Lokasi yang dipilih adalah situs penambangan dengan biaya listrik rendah dan akses jaringan kuat.
2. MARA berpotensi memiliki ekuitas antara 10% hingga 50% di masing-masing proyek joint venture.
3. Starwood bertindak sebagai manajer pengelola yang memimpin pengembangan, pencarian penyewa, dan pendanaan.
4. Kesuksesan bergantung pada perjanjian sewa jangka panjang dengan penyewa hyperscale dan finalisasi strategi pembagian daya antara penambangan dan AI.
5. Investor membutuhkan panduan jelas mengenai rasio distribusi daya untuk mengantisipasi permintaan pada kedua sektor.

Huh menekankan bahwa tanpa kontrak sewa yang mengikat, pembicaraan tentang perubahan fundamental dalam profil pendapatan MARA belum tepat waktu. Sementara itu, MARA harus memfinalisasi strategi pengadaan GPU dan alokasi daya agar dapat menghasilkan pendapatan signifikan dari layanan AI.

Kemitraan ini menunjukkan adaptasi MARA terhadap tren meningkatnya kebutuhan pusat data untuk AI sekaligus menjaga bisnis penambangan Bitcoin. Langkah ini dipandang sebagai upaya inovatif dalam mengoptimalkan aset energi dan teknologi yang dimiliki untuk menghadapi dinamika pasar kripto serta permintaan komputasi masa depan.

Berita Terkait

Back to top button