
Arthur Hayes, co-founder BitMEX, mengemukakan bahwa eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Iran bisa memaksa Federal Reserve (The Fed) mencetak uang tambahan untuk menutupi biaya militer. Kebijakan ini diperkirakan akan mendorong harga Bitcoin secara signifikan dalam jangka waktu tertentu.
Menurut Hayes, pola historis menunjukkan bahwa konflik di Timur Tengah sejak tahun 1985 sering diikuti dengan penurunan suku bunga atau pelonggaran kuantitatif (quantitative easing) oleh The Fed. Langkah-langkah ini biasanya mendukung aset berisiko seperti cryptocurrency. Bitcoin, menurut dia, berpotensi mendapatkan dorongan dari kebijakan tersebut karena menjadi salah satu aset keras yang dianggap sebagai pelindung nilai terhadap inflasi dan pelemahan mata uang fiat.
Hubungan Antara Perang, Kebijakan Moneter, dan Bitcoin
Hayes menulis bahwa keterlibatan militer AS di Timur Tengah dalam jangka panjang biasanya diiringi oleh kebijakan moneter yang mempermudah likuiditas. Contohnya, The Fed mungkin menurunkan suku bunga atau memperluas program pembelian aset untuk mendukung pembiayaan perang atau aktivitas geopolitik lainnya. Hal ini akan menurunkan nilai dolar AS dan mendorong harga aset keras seperti emas, perak, sekaligus Bitcoin.
Dalam esainya yang berjudul iOS Warfare, Hayes menyatakan, “Semakin lama AS terlibat dalam kegiatan yang sangat mahal di Iran, semakin besar kemungkinan The Fed menurunkan harga dan meningkatkan jumlah uang beredar untuk mendukung petualangan Amerika di Timur Tengah.” Pernyataan ini menggarisbawahi hubungan organik antara peperangan, kebijakan moneter, dan pasar crypto.
Data Pendukung dan Tren Historis
Beberapa konflik regional di Timur Tengah di masa lalu telah menyebabkan The Fed melakukan pelonggaran kebijakan moneter. Dampaknya terlihat pada kenaikan nilai aset-aset seperti emas yang kerap dipandang sebagai tempat berlindung saat gejolak geopolitik. Emas bahkan sempat menembus harga tertinggi sepanjang masa baru-baru ini. Bitcoin saat ini mulai dipandang sebagai alternatif baru untuk melindungi nilai kekayaan dari risiko inflasi.
Meski begitu, harga Bitcoin penting diperhatikan secara hati-hati karena catatan historisnya menunjukkan bahwa Bitcoin lebih sering mengikuti siklus pasar saham daripada pergerakan emas. Sebagai contoh, ketika terjadi instabilitas politik di Venezuela, harga emas melonjak melewati 5.500 dolar AS per ons, sedangkan Bitcoin mengalami penurunan ke level terendah beberapa bulan.
Potensi Dampak dari Perang Iran dan Kebijakan The Fed
Ketidakpastian akibat perang di Iran berpotensi memicu lonjakan harga minyak dan gangguan rantai pasokan global. Fenomena ini bisa memaksa The Fed menyuntikkan likuiditas yang besar ke pasar, mirip dengan langkah-langkah krisis sebelumnya. Hal ini diperkirakan akan menyebabkan inflasi harga aset dan memberikan momentum kenaikan pada Bitcoin.
Hayes mengilustrasikan hubungan tersebut secara sederhana: Perang Amerika Serikat yang berkepanjangan di Iran → Pencetakan uang oleh The Fed meningkat → Harga Bitcoin naik signifikan. Ia menggambarkan Bitcoin sebagai "emas digital" di tengah era defisit fiskal tanpa batas.
Rekam Jejak Prediksi Arthur Hayes
Arthur Hayes kerap membuat prediksi berani terkait pengaruh kebijakan The Fed terhadap harga Bitcoin. Di akhir 2025, ia memperkirakan Bitcoin bakal menembus angka 200.000 dolar AS pada Maret berikutnya, di dorong oleh program pembelian aset The Fed yang disamakan dengan quantitative easing tersembunyi. Namun, prediksi ini belum sepenuhnya terwujud. Hayes menilai penurunan harga Bitcoin disebabkan oleh krisis kredit yang dipicu oleh kemajuan kecerdasan buatan, memprediksi bahwa dampaknya pada pekerjaan akan memaksa The Fed melakukan intervensi besar.
Walau beberapa prediksi jelas meleset, langkah Hayes mendapatkan perhatian karena beberapa prediksinya cukup tepat. Sebagai contoh, ia berhasil memproyeksikan Bitcoin melewati 100.000 dolar AS pada 2024, didukung momentum pasca-halving dan pengesahan ETF crypto. Namun, proyeksi bailout pasar Jepang oleh The Fed pada awal 2026 gagal sepenuhnya terjadi. Ia sendiri mengakui tingkat akurasi prediksinya sekitar 25 persen selama 2023-2024 disebabkan oleh waktu reaksi pasar yang tertunda.
Prediksi Bitcoin Jangka Panjang dan Implikasinya
Lebih jauh, Hayes memproyeksikan harga Bitcoin bisa mencapai 3,4 juta dolar AS pada 2028 jika The Fed menjalankan pencetakan uang secara agresif. Target antara untuk akhir 2026 berada di kisaran 500.000 sampai 750.000 dolar AS. Proyeksi ini menekankan keyakinannya bahwa Bitcoin sangat sensitif terhadap likuiditas global.
Para investor dan pengamat pasar kini sangat memantau perkembangan geopolitical dan kebijakan moneter yang mungkin menjadi pemicu berikutnya untuk pergerakan harga Bitcoin. Meskipun tidak bisa dianggap sebagai aset safe-haven tradisional, crypto ini semakin diperhatikan dalam konteks diversifikasi dan hedge terhadap risiko ekonomi makro dan konflik regional.
Hayes melihat hubungan erat antara perang, kebijakan moneter, dan pasar cryptocurrency sebagai faktor penting yang wajib diperhitungkan oleh para pemangku kepentingan dalam mengantisipasi dinamika harga Bitcoin ke depan. Siklus geopolitik di Timur Tengah dan respons kebijakan The Fed menjadi kunci utama yang bisa mendorong Bitcoin melejit atau berkinerja berbeda dari aset tradisional lainnya.









