Perusahaan publik kedua terbesar yang memegang Bitcoin, MARA Holdings, baru-baru ini mengubah kebijakan pengelolaan Bitcoin mereka. MARA kini memperbolehkan penjualan Bitcoin yang dimiliki langsung di neraca keuangannya, sebuah langkah yang menandai perubahan signifikan dari strategi “full HODL” sebelumnya.
Dalam laporan tahunan 10-K yang diajukan ke SEC pada Maret, MARA menyatakan bahwa mereka mulai menjual Bitcoin hasil operasi sejak paruh kedua tahun sebelumnya. Kebijakan terbaru memberikan fleksibilitas untuk membeli atau menjual Bitcoin berdasarkan kondisi pasar dan prioritas alokasi modal. Ini berarti MARA bisa melakukan likuidasi cadangan Bitcoin, meskipun belum ada penjualan besar yang diumumkan.
MARA saat ini menguasai 53.822 BTC dengan nilai sekitar 3,59 miliar dolar AS pada harga 66.565 dolar per BTC. Jumlah ini menjadikannya pemegang Bitcoin perusahaan publik terbesar kedua setelah MicroStrategy, yang memiliki 720.737 BTC. Sekitar 72% dari Bitcoin MARA tersimpan dalam posisi jangka panjang tanpa batasan, sementara sisanya sudah dialokasikan untuk aktivitas seperti pinjaman dan jaminan kredit.
Secara rinci, dari total Bitcoin “aktif” tersebut, 9.377 BTC dipinjamkan sehingga menghasilkan pendapatan bunga sebesar 32,1 juta dolar pada tahun lalu. Selain itu, 5.938 BTC dijaminkan guna memperoleh fasilitas kredit senilai 350 juta dolar. Sangat menonjol bahwa MARA memiliki likuiditas sebesar 547 juta dolar dalam bentuk kas, menjadikan total aset likuid mereka mencapai sekitar 5,3 miliar dolar.
Perubahan kebijakan ini menjadi respons dari kondisi pasar yang semakin tidak menentu dan kerugian besar yang dialami MARA pada kuartal terakhir tahun lalu. Mereka mencatat kerugian bersih 1,7 miliar dolar, didorong oleh penyesuaian nilai aset akibat penurunan harga Bitcoin sekitar 30%. Selain itu, MARA juga mengalami kerugian penurunan nilai aset digital sebesar 422,2 juta dolar AS.
Secara strategis, MARA sedang melakukan diversifikasi bisnis dengan menjalin kemitraan untuk mengembangkan pusat data kecerdasan buatan dan komputasi berperforma tinggi. Penggunaan infrastruktur energi mereka akan diarahkan ulang untuk mendukung transformasi tersebut. Dana hasil dari penjualan Bitcoin bisa menjadi sumber pembiayaan tanpa perlu menambah penerbitan saham, sehingga menghindari dilusi bagi pemegang saham.
Sementara itu, MicroStrategy tetap mempertahankan posisi Bitcoin sebagai aset utama dalam neracanya dan malah terus menambah kepemilikan Bitcoin. Pihak manajemen perusahaan menegaskan bahwa penjualan Bitcoin hanya akan dilakukan dalam situasi ekstrem yang mengancam likuiditas, bukan sebagai alat pengelolaan modal secara oportunistik. CEO Michael Saylor bahkan menyatakan komitmen membeli Bitcoin setiap kuartal secara terus-menerus.
Kebijakan MARA ini tidak serta-merta mengindikasikan perubahan sikap seluruh industri Bitcoin korporasi. Namun, simbolisme langkah ini cukup besar karena sebelumnya Bitcoin perusahaan dianggap sebagai cadangan investasi jangka panjang yang tetap. Pendekatan terbaru menunjukkan bahwa Bitcoin dapat difungsikan sebagai instrumen neraca yang lebih dinamis dan fleksibel.
Ke depan, pelaku pasar akan mengamati dengan seksama laporan-laporan triwulanan dan pengajuan dokumen SEC lain, termasuk data aliran on-chain. Tindakan tersebut akan menjadi ujian nyata apakah kebijakan likuidasi Bitcoin MARA benar-benar akan diaplikasikan dan bagaimana dampaknya terhadap harga serta stabilitas pasar Bitcoin. Perkembangan ini membuka peluang untuk melihat apakah MicroStrategy akan mengikuti langkah serupa dalam waktu dekat.









