Ketegangan perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran membuka peluang kenaikan harga bagi Bitcoin. Dua skenario utama disebut dapat mendorong rally harga Bitcoin sebagai respons terhadap konflik tersebut.
Analis dari London Crypto Club menyebutkan bahwa serangan bersama yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dapat menjadi katalis narasi yang sudah lama dinanti Bitcoin. Pada saat yang sama, Bitcoin saat ini diperdagangkan 47% di bawah puncak tertingginya di Oktober lalu yang mencapai $126.000, sementara aset seperti emas dan saham mencetak rekor tertinggi baru.
Skenario 1: Konflik Berkepanjangan dan Hedging Bitcoin
Skenario pertama yang diusulkan adalah perang yang berlarut-larut. Dalam kondisi tersebut, para investor cenderung beralih ke Bitcoin sebagai aset pelindung risiko. Hal ini akibat ketidakpastian ekonomi dan politik yang semakin dalam. Bitcoin diprediksi akan berkinerja lebih baik dibandingkan pasar secara keseluruhan, sejajar dengan aset safe-haven seperti emas.
Skenario kedua mengasumsikan adanya resolusi cepat konflik. Para investor diperkirakan akan melakukan pembelian besar-besaran Bitcoin setelah adanya pengumuman kesepakatan damai, menciptakan premi harga yang menguntungkan bagi aset tersebut. Kedua skenario ini mengindikasikan potensi kenaikan didukung oleh faktor fundamental.
Peran Federal Reserve dan Dampaknya pada Likuiditas
Analisis menunjukkan bahwa Federal Reserve kemungkinan akan menambah pasokan uang untuk mendukung pembiayaan perang. Kebijakan tersebut biasanya meningkatkan likuiditas dan mendorong harga aset berisiko, termasuk Bitcoin. Dalam situasi perang, pasar umumnya mengalami penurunan risiko yang bersifat sementara karena diikuti dengan penciptaan utang dan defisit yang lebih besar.
Menurut Brickell dan Mills, dinamika pasar sangat dipengaruhi oleh tingkat suku bunga dan ketersediaan likuiditas. Penurunan harga karena gejolak perang biasanya bersifat sementara dan diikuti oleh kenaikan harga akibat peningkatan uang beredar.
Pandangan Pelaku Pasar Lainnya
Chief Investment Officer Maelstrom, Arthur Hayes, mendukung pandangan ini dengan mengaitkan kondisi tersebut pada sejarah militasi AS di Timur Tengah. Hayes menyampaikan bahwa setiap intervensi militer besar di kawasan ini berakhir dengan Federal Reserve yang mencetak uang lebih banyak. Proses tersebut memberikan dorongan signifikan bagi harga Bitcoin dan aset digital lainnya.
Data historis yang dikutip Hayes menunjukan bahwa kampanye militer, peningkatan belanja federal, dan penurunan suku bunga oleh Fed selalu menjadi katalis pasar yang positif. Ia menganjurkan agar investor melakukan pembelian Bitcoin dan altcoin berkualitas tinggi seperti HYPE segera setelah Fed memangkas suku bunga atau melakukan injeksi likuiditas demi mendukung kebijakan pemerintah terkait Iran.
Fakta dan Data Pendukung
- Bitcoin melonjak ke atas $69.000 setelah serangan terhadap Iran, meskipun kemudian turun sedikit ke bawah $67.000.
- Investor membeli Bitcoin senilai $458 juta melalui exchange-traded funds pada awal Maret, mencerminkan minat pasar yang kuat.
- Suku bunga dan kebijakan moneter tetap menjadi faktor utama dalam pergerakan pasar cryptocurrency dan aset berisiko lainnya.
Dua skenario yang diuraikan memberikan gambaran bagaimana perang di Timur Tengah bisa memengaruhi pasar Bitcoin dalam jangka pendek maupun panjang. Penambahan likuiditas dan peningkatan ketidakpastian global mendorong investor untuk mempertimbangkan Bitcoin sebagai instrumen diversifikasi dan pelindung nilai di tengah gejolak geopolitik.






