3 Alasan Bitcoin Siap Bangkit Setelah Penurunan Panjang, Apakah Bullish Multi-Bulan Akan Terjadi Lagi?

Bitcoin saat ini berada di titik krusial setelah mengalami penurunan yang cukup lama. Namun, berbagai sinyal makroekonomi dan on-chain menunjukkan potensi pembalikan kuat yang bisa mengawali tren kenaikan jangka menengah selama beberapa bulan ke depan.

Berikut tiga alasan utama mengapa banyak analis optimis mengenai kemungkinan tren naik Bitcoin dalam waktu dekat.

1. Pertumbuhan Sektor Manufaktur AS Mendorong Sentimen Risiko

Indeks ISM Manufacturing PMI AS mencatat ekspansi bulan kedua berturut-turut dengan angka 52,4%. Meskipun sedikit turun dari 52,6% bulan sebelumnya, hasil ini tetap melampaui ekspektasi pasar yang berada di angka 51,8%.

Rekor dua bulan di atas 50 menandai akhir dari penurunan tiga tahun di sektor manufaktur AS. Perbaikan ini menciptakan kondisi di mana para investor lebih berani mengambil risiko, sehingga membuka peluang aliran modal masuk ke aset seperti Bitcoin. Analis Joe Consorti menyoroti korelasi indeks ini dengan harga Bitcoin pada siklus sebelumnya dan menganggap ini sebagai sinyal awal dimulainya pasar bullish.

2. Indikator Inter-Exchange Flow Pulse Menunjukkan Pola “Golden Cross”

Indikator Inter-Exchange Flow Pulse (IFP) yang dipantau oleh CryptoQuant menunjukkan potensi pola “golden cross” yang mendekati. IFP mengukur aliran Bitcoin antar bursa spot dan derivatif sebagai cerminan sentimen pasar.

Ketika banyak Bitcoin mengalir ke bursa derivatif, sinyal bullish muncul karena para trader membuka posisi long. Sebaliknya, aliran ke bursa spot menandakan fase bearish ketika posisi long ditutup dan investor mengurangi eksposur risiko. Pola golden cross ini pernah mendahului penguatan harga Bitcoin yang signifikan antara 2023 sampai 2025, dan indikasi serupa sekarang mengisyaratkan kesiapan pasar untuk fase kenaikan baru.

3. Kelangkaan Lima Bulan Berturut-Turut Candle Merah

Bitcoin baru saja menutup bulan kelima berturut-turut dengan candle merah. Kejadian ini sangat langka dan baru terjadi kedua kalinya dalam sejarah, pertama kali pada 2018–2019 dengan enam bulan merah berturut-turut.

Setelah periode itu, Bitcoin malah mengalami lonjakan harga hingga lebih dari 300%, dari sekitar $3,400 naik ke $14,000. Meskipun sampelnya terbatas, keberadaan beberapa bulan candle merah secara beruntun sering berarti tekanan jual hampir habis. Kembalinya permintaan beli biasanya memicu pembalikan kuat dengan tren naik yang tahan lama.

Menurut analis Satoshi Flipper, masa turun panjang sudah hampir lewat, dan potensi kenaikan harga Bitcoin kini masih terbuka luas ke depan.

Berbagai sinyal ini mengindikasikan bahwa Bitcoin kemungkinan besar memasuki fase konsolidasi bawah yang dapat berbuah tren naik jangka menengah. Namun, sejumlah analis juga memperingatkan ada peluang koreksi lebih dalam. Harga dalam bulan depan akan bergantung pada apakah level support $62,300 mampu bertahan atau resistensi $79,000 mampu ditembus terlebih dahulu.

Dengan latar belakang faktor fundamental dan teknikal tersebut, Bitcoin menunjukkan potensi untuk bangkit kembali dan memasuki siklus bullish baru yang dapat berlangsung selama beberapa bulan ke depan. Pemantauan ketat terhadap level-level kunci dan indikator on-chain tetap penting untuk membaca arah pergerakan selanjutnya.

Terkait