Bitcoin kembali menembus level $73,000 setelah mengalami lonjakan tajam yang menandai kembalinya volatilitas tinggi di pasar cryptocurrency. Pergerakan harga ini terjadi meskipun ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih belum terselesaikan dan pasar Wall Street menunjukkan sikap berhati-hati.
Harga Bitcoin naik hingga 8,9% dan sempat mencapai sekitar $74,000, level tertinggi dalam sebulan terakhir. Lonjakan ini merupakan kenaikan satu hari terbesar sejak hari Rabu sebelumnya, mencerminkan ketidakpastian yang masih melingkupi aset digital setelah penurunan tajam di awal Oktober. Sementara itu, Ethereum juga melonjak hingga 13% dengan perdagangan di kisaran hampir $2,200.
Faktor Pendorong Kenaikan Bitcoin
Salah satu penyebab kenaikan adalah aliran masuk dana yang signifikan ke ETF Bitcoin di Amerika Serikat. Dalam dua hari terakhir, dana ETF Bitcoin berhasil menarik lebih dari $680 juta, menurut data Bloomberg. Julio Moreno, kepala riset di CryptoQuant, menyatakan bahwa permintaan kuat di pasar futures perpetual mendorong kenaikan harga. Open interest yang melonjak menunjukkan para trader membuka posisi long baru.
Menurut laporan dari perusahaan data blockchain Glassnode, pasar mulai bergerak menjauh dari harga yang didasarkan pada krisis menuju fase konsolidasi. Harga kini lebih banyak didorong oleh posisi pasar ketimbang hedging panik. Situasi ini berbeda dengan volatilitas rendah yang berlangsung selama berbulan-bulan sebelum Oktober.
Reaksi Pasar Terhadap Konflik Timur Tengah
Sebelumnya, Bitcoin sempat turun ke sekitar $63,000 setelah serangan AS dan Israel ke Iran. Namun sentimen pasar membaik saat tanda-tanda konflik mungkin hanya berlangsung singkat mulai muncul. Kenaikan harga aset kripto ini juga diiringi dengan stabilnya harga minyak dan kenaikan saham global.
Meskipun demikian, kondisi pasar cryptocurrency masih cukup rentan. Harga Bitcoin masih sekitar 40% lebih rendah dari puncak Oktober, menandakan ketegangan yang belum benar-benar mereda. Analis Alex Kuptsikevich memperingatkan bahwa volatilitas saham yang meningkat memaksa investor institusional mengurangi leverage mereka, membuat Bitcoin tetap berisiko terhadap fluktuasi tajam.
Peran Bitcoin Sebagai Aset Digital di Tengah Krisis
Crypto sering dianggap sebagai versi digital dari emas, yaitu aset safe haven saat terjadi gejolak. Namun, narasi ini sempat goyah ketika Bitcoin turun tajam sementara emas menguat. Tren terbaru menunjukkan Bitcoin berhasil melampaui kinerja emas dalam beberapa hari terakhir. Sejak Jumat lalu sebelum konflik di Iran meningkat, Bitcoin naik sekitar 12% sementara emas justru turun sekitar 2%.
Frank Chaparro dari GSR menilai bahwa modal berpotensi berputar kembali ke crypto karena emas mungkin sedang mengalami masa jeda. Dengan latar belakang ketegangan geopolitik, sanksi, perang, dan tekanan fiskal yang meningkat, posisi Bitcoin yang sempat melemah bisa berubah cukup cepat saat sentimen membaik.
Dinamika Pasar dan Ketidakpastian ke Depan
Pasar cryptocurrency menghadapi dilema karena volatilitas yang tinggi dan ketegangan militer yang belum mereda. Konflik Israel dan Iran sudah memasuki hari kelima dengan serangan udara dan tembakan rudal yang terus berlangsung. Ribuan korban sudah berjatuhan di seluruh kawasan, termasuk enam tentara AS.
Situasi yang masih rapuh ini membuat prediksi harga Bitcoin tetap berhati-hati. Kuptsikevich menilai bahwa pasar belum mencapai titik bawah dan Bitcoin masih rentan terhadap gejolak pasar saham yang mempengaruhi perilaku investor institusional. Oleh karena itu, kenaikan yang terjadi saat ini belum tentu berkelanjutan tanpa adanya stabilitas geopolitik yang lebih jelas.
Peluang dan Tantangan Pasar Cryptocurrency Saat Ini
- Aliran Dana ETF: Masuknya modal besar melalui ETF Bitcoin mendukung likuiditas dan memberi sinyal perbaikan sentimen institusional.
- Volatilitas Tinggi: Lonjakan harga bisa membuka peluang trading dua arah namun meningkatkan risiko pasar yang mudah berubah arah.
- Faktor Geopolitik: Konflik Timur Tengah masih menjadi katalis utama yang dapat mempercepat perubahan harga aset digital.
- Perbandingan dengan Emas: Bitcoin mulai mengungguli emas, menandakan perubahan preferensi investor terhadap aset safe haven.
- Peran Para Short Seller: Tekanan short squeeze mempercepat kenaikan harga karena posisi jual yang terlalu agresif gagal mempertahankan harga rendah.
Perkembangan terbaru menunjukkan Bitcoin bukan hanya pulih dari tekanan besar, tetapi juga menarik kembali minat investor institusional dan ritel. Namun, pasar masih harus menghadapi risiko eksternal dan kondisi makro yang bergejolak. Dampak lanjutan dari faktor-faktor ini akan sangat menentukan arah harga Bitcoin dan keseluruhan pasar kripto dalam beberapa waktu mendatang.







