Pembahasan mengenai kerja sama antara Amerika Serikat (AS) dan Inggris dalam pengembangan aset kripto menghadapi hambatan signifikan. Perbedaan pendekatan antara kedua negara muncul terutama dalam mengujicobakan versi blockchain dari sekuritas keuangan.
AS dan Inggris telah mendirikan satuan tugas sejak September lalu yang bertujuan memperlancar regulasi untuk perusahaan yang ingin mengakses pasar kedua negara. Inisiatif ini juga diarahkan untuk memperkuat kolaborasi terkait aset digital, terutama stablecoin yang didukung oleh mata uang nyata.
Namun, ketidaksepakatan muncul saat membahas penggunaan “sandbox” regulasi oleh Inggris sebagai metode pengujian inovasi. Di Inggris, sandbox digunakan oleh Financial Conduct Authority (FCA) untuk menguji produk keuangan baru dalam lingkungan terbatas yang terkontrol.
Sementara itu, otoritas AS seperti Securities and Exchange Commission (SEC) menyatakan keberatannya terhadap penggunaan sandbox. Mereka mempertanyakan kelayakan komersial partisipan dan dampaknya terhadap inovasi dalam jangka panjang. SEC memilih pendekatan berbeda melalui “exemptive relief”, yang didukung oleh industri kripto AS sebagai jalur regulasi yang lebih fleksibel.
FCA menegaskan bahwa sandbox memberi kesempatan kepada perusahaan untuk mencoba ide-ide baru secara nyata tetapi dalam batasan yang aman. Hal ini membantu pemahaman risiko dan peluang yang muncul dari teknologi baru tersebut. Metode ini juga dimaksudkan untuk menjaga kepercayaan dan integritas pasar modal serta sistem pembayaran digital.
Beberapa regulator di Inggris seperti Bank of England menunjukkan sikap hati-hati dalam percepatan pengembangan industri aset digital. Mereka lebih cenderung menghindari langkah yang bisa memicu risiko sistemik atau merugikan investor, meskipun negara ingin memperluas pasar digitalnya.
Perbedaan ini mencerminkan ketegangan regulasi global yang harus dihadapi karena AS cenderung lebih pro-kripto di bawah kepemimpinan Presiden Trump. Pemerintah AS telah melonggarkan aturan untuk mendorong adopsi teknologi kripto, berbeda dengan sikap sebagian regulator Inggris.
Dalam pertemuan awal tahun ini, kedua delegasi juga mendiskusikan pentingnya mencapai kesepakatan mengenai “resiprositas”, yaitu pengakuan regulasi bagi perusahaan yang sudah terdaftar di satu pasar agar dapat beroperasi dengan kemudahan terbatas di pasar lainnya. Hal ini bertujuan memperlancar transaksi tokenisasi aset lintas yurisdiksi.
Tokenisasi merupakan inovasi yang memungkinkan aset finansial seperti saham dan obligasi diterbitkan dalam bentuk digital di blockchain. Pendukung tokenisasi meyakini manfaatnya dalam efisiensi dan pengurangan biaya. Namun, regulator mengingatkan adanya risiko baru yang mungkin mengancam integritas pasar dan perlindungan investor.
Satuan tugas transatlantik yang membahas masa depan pasar ini berencana memberikan rekomendasi rinci sebelum musim panas. Tujuannya adalah menemukan titik temu sekaligus mendukung kemajuan teknologi keuangan tanpa mengorbankan keamanan dan stabilitas.
Dengan perkembangan cepat teknologi blockchain dan aset digital, kolaborasi lintas negara seperti AS dan Inggris menjadi penting. Namun, perbedaan pendekatan tetap memerlukan diskusi mendalam agar regulasi dapat sejalan dan efektif, memperkuat ekosistem keuangan global yang inklusif dan inovatif.







