Air Tertua di Dunia Berusia 1,5 Miliar Tahun Ditemukan, Tapi Kenapa Tak Boleh Diminum Meski Terasa Pahit dan Asin?

Author: Qoo Media


Penemuan Air Paling Tua di Dunia

Penelitian terbaru berhasil mengungkap keberadaan air tertua di dunia yang ditemukan di bawah permukaan tanah di Ontario, Kanada. Air ini telah terkunci dalam batuan selama sekitar 1,5 miliar tahun, bahkan kemungkinan lebih tua dari itu, sehingga sangat berbeda dengan air yang biasa ditemukan di permukaan.

Para ilmuwan menggunakan metode analisis gas mulia, seperti Xenon, untuk mengukur usia air tersebut secara akurat. Gas mulia yang bersifat inert menjadi indikator yang tepat karena tidak bereaksi dengan unsur lain, sehingga mampu mencatat sejarah isolasi air dari siklus air modern di permukaan bumi. Berdasarkan isotop yang dikaji, ditemukan bahwa tidak ada unsur air modern yang bercampur dalam sampel tersebut.

Kondisi Air yang Terisolasi Miliaran Tahun

Air yang ditemukan ini diyakini berasal dari atmosfer purba yang berbeda jauh dengan kondisi atmosfer saat ini. Proses pelapukan dan sedimentasi selama miliaran tahun menahan air tersebut tetap terperangkap dalam batuan. Penelitian juga mengungkap bahwa air ini tidak mengandung oksigen dan tidak ada kehidupan mikroorganisme di dalamnya selama proses isolasi berlangsung.

Ahli geologi dari Universitas Toronto, Barbara Sherwood Lollar, yang memimpin penelitian ini, menjelaskan bahwa air kuno ini sangat berbeda dengan air di lingkungan modern. Rasa air tersebut ketika dicicipi secara tidak sengaja oleh para peneliti terasa pahit dan asin. Oleh sebab itu, air tersebut tidak layak untuk dikonsumsi oleh manusia, bahkan tidak dianjurkan untuk diminum.

Alasan Air Paling Tua Ini Tidak Bisa Diminum

Ada beberapa faktor utama yang membuat air paling tua ini tidak dapat diminum:

  1. Kandungan Garam dan Mineral Tinggi
    Selama berjuta-juta tahun terperangkap dalam batuan, air ini bereaksi dengan mineral di sekitarnya sehingga mengandung kadar garam yang sangat tinggi. Rasa asin yang menyengat menjadi bukti bahwa air ini tidak layak sebagai konsumsi manusia.

  2. Tidak Ada Oksigen dan Kehidupan Mikroba
    Air ini sangat berbeda dari air permukaan yang selalu bersirkulasi dan mengandung oksigen. Ketiadaan oksigen mengindikasikan air ini berada dalam kondisi lingkungan yang ekstrem dan tidak mendukung kehidupan biologis seperti manusia atau mikroorganisme.

  3. Isolasi dari Siklus Hidrologi Modern
    Proses isolasi air selama miliaran tahun membuatnya terputus secara kimiawi dan fisik dari siklus air yang ada di bumi saat ini. Hal ini menyebabkan komposisi kimiawi air sangat berbeda dan bahkan berpotensi berbahaya untuk dikonsumsi.

Metode Penelitian yang Digunakan untuk Menentukan Usia Air

Penggunaan isotop gas mulia dalam studi ini sangat krusial untuk mendapatkan data usia air secara akurat. Gas mulia seperti Xenon tidak bereaksi dengan zat lain, sehingga tidak berubah selama periode waktu yang sangat panjang. Ini memungkinkan para peneliti menghitung berapa lama air itu benar-benar terperangkap dalam batuan.

Metode ini juga menyingkirkan teori adanya campuran air modern dengan air purba di lokasi penelitian, memastikan bahwa air yang dianalisis benar-benar murni dari zaman dahulu kala. Fakta ini semakin memperkuat hipotesis bahwa air tersebut telah terisolasi selama lebih dari satu miliar tahun.

Potensi dan Implikasi Penemuan Ini bagi Ilmu Pengetahuan

Penemuan ini memberikan wawasan baru tentang sejarah bumi dan bagaimana air bisa bertahan dalam kondisi ekstrem. Ini juga membuka peluang untuk memahami lingkungan purba yang mungkin menjadi habitat awal kehidupan. Walaupun air ini tidak bisa diminum, keberadaannya menjadi alat penting untuk meneliti proses geologi dan evolusi atmosfer bumi turun-temurun.

Air tertua ini juga bisa menjadi "laboratorium alami" yang menjelaskan bagaimana air dan gas-gas yang terperangkap dalam batuan berinteraksi selama ribuan hingga jutaan tahun. Data dari studi ini dapat dipakai untuk perbandingan dengan kondisi air di planet lain yang diperkirakan memiliki kehidupan.

Dengan banyak temuan menarik yang berasal dari air purba ini, penelitian lebih lanjut masih sangat diperlukan untuk menggali potensi pemanfaatannya, terutama dalam bidang geologi dan astrobiologi. Meski tidak bisa diminum, air paling tua di dunia ini tetap menjadi penemuan monumental yang menambah khasanah ilmu pengetahuan tentang sejarah planet Bumi.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.cnbcindonesia.com
Terbaru