
Presiden Donald Trump baru-baru ini mengeluarkan peringatan tegas kepada industri perbankan agar tidak menghalangi akses perbankan bagi sektor kripto. Pernyataan ini muncul saat pembahasan RUU CLARITY Act terhenti di Senat, sementara Trump menyalahkan bank-bank besar atas kebuntuan tersebut.
Saham kripto justru mengalami kenaikan signifikan ketika kabar ini muncul. Kapitalisasi pasar kripto naik sebesar 2,6%, menembus angka lebih dari 2,4 triliun dolar AS. Bitcoin sendiri melonjak di sesi pagi perdagangan Eropa, naik hingga 6% dan menembus harga lebih dari 71.000 dolar AS.
Mengapa CLARITY Act Terhenti?
CLARITY Act adalah sebuah RUU yang bertujuan mengatur ulang kerangka regulasi aset digital di Amerika Serikat. RUU ini telah disetujui oleh DPR pada tahun lalu, namun menghadapi hambatan di Senat hingga menyebabkan keterlambatan pengesahannya. Trump menilai stagnasi ini sebagai kegagalan keamanan nasional.
Dalam unggahan di platform sosial media Truth Social, Trump menegaskan bahwa bank-bank justru mendapat keuntungan besar di saat kripto dipersaingkan. Ia memperingatkan agar bank-bank tidak melemahkan agenda kripto pemerintahannya yang krusial demi mempertahankan dominasi keuangan AS, khususnya dalam menghadapi persaingan dari China.
Sebut Hukuman atas Penolakan Bank
Bank-bank menolak beberapa ketentuan dalam CLARITY Act, khususnya yang memperbolehkan bursa kripto memberikan imbal hasil kepada pengguna yang memegang stablecoin. Lembaga keuangan tradisional khawatir hal ini dapat menyebabkan aliran dana keluar dari rekening bank tradisional ke platform digital dengan tingkat pengembalian lebih tinggi.
Sebelumnya, pemerintah juga telah meloloskan Genius Act yang membuka kerangka pengeluaran aset digital, namun belum secara tegas memperbolehkan pemberian imbal hasil oleh penyedia layanan. CLARITY Act bertujuan melengkapi celah tersebut, sehingga keberatan bank menjadi sangat terasa.
Langkah Regulasi yang Dilakukan Pemerintah
Selain berupaya melalui legislasi, pemerintahan Trump juga menggerakkan strategi membongkar kebijakan sebelumnya yang dikenal dengan Operation Choke Point 2.0. Kebijakan ini, yang diterapkan pada era pemerintahan Biden, diduga membuat bank enggan melayani klien kripto dengan alasan pengelolaan risiko.
Dalam pergerakan terbaru, Office of the Comptroller of the Currency (OCC) telah mencabut Interpretive Letter #1179. Pencabutan ini menghapus kewajiban bank untuk meminta persetujuan terlebih dahulu sebelum melakukan kegiatan yang terkait dengan kripto. Meski begitu, laporan industri menunjukkan ketidaksiapan bank tetap bertahan meski regulasi sudah longgar.
Dampak dan Tantangan Industri Kripto
Ketidakpastian regulasi perbankan ini berpotensi membebani perusahaan kripto dengan biaya operasional yang lebih tinggi dan risiko penyelesaian transaksi. Di saat Amerika Serikat bergulat dengan akses perbankan kripto, beberapa negara lain justru mulai mengintegrasikan teknologi blockchain dalam sistem bank sentral mereka, seperti Bank of Japan yang tengah menjajaki sistem penyelesaian berbasis blockchain.
Bitcoin telah menunjukkan pemulihan harga signifikan, dan pasar kripto secara umum tampak menunjukkan ketahanan meskipun sentimen pasar global sedang berhati-hati. Kenaikan Bitcoin lebih dari 6% bahkan bisa menjadi sinyal positif untuk tren kenaikan jangka menengah, asalkan mampu mempertahankan harga di atas 70.000 dolar AS.
Fakta Penting Mengenai CLARITY Act dan Situasi Perbankan
- CLARITY Act bertujuan mengatur pemberian yield atas stablecoin yang saat ini ditentang oleh bank.
- Genius Act yang sudah disahkan membuka kerangka regulasi penerbitan, tapi belum mengatur yield secara detail.
- OCC mencabut surat interpretasi yang membatasi aktivitas perbankan kripto.
- Bank masih enggan menyalurkan layanan kripto meskipun regulasi lebih longgar.
- Trump menilai penundaan RUU adalah ancaman bagi dominasi finansial AS dan keamanan nasional.
Kebuntuan dalam pengesahan CLARITY Act dan sikap skeptis bank terhadap layanan kripto menjadi sorotan utama pemerintahan Trump. Pemerintah bertekad mendorong RUU ini demi membuka akses perbankan kepada industri kripto yang dinilai strategis dalam menjaga posisi Amerika serikat di pentas global aset digital. Sementara itu, dinamika pasar kripto terus berkembang seiring sentimen global yang tetap mengarah pada penguatan aset digital sebagai penyimpan nilai alternatif.









