Bitcoin mengalami penurunan nilai lebih dari 45% dalam enam bulan terakhir. Banyak investor kripto mencari penyebab, dan sebagian menuding adanya manipulasi pasar oleh Jane Street, sebuah perusahaan trading kuantitatif di Wall Street.
Tuduhan muncul di media sosial setelah gugatan federal yang menuduh Jane Street melakukan insider trading terkait runtuhnya sebuah perusahaan kripto besar pada 2022. Namun, benarkah dugaan ini menjadi faktor utama kejatuhan harga Bitcoin?
Tuduhan Manipulasi oleh Jane Street
Jane Street dilaporkan memegang sekitar $790 juta saham iShares Bitcoin Trust (IBIT). Tuduhan utamanya adalah perusahaan ini menjual sahamnya secara besar-besaran setiap pukul 10 pagi saat pasar AS buka. Penjualan terjadwal ini diduga menekan harga Bitcoin sehingga memicu likuidasi paksa bagi trader dengan leverage tinggi.
Tujuan yang diduga adalah membeli Bitcoin kembali dengan harga lebih murah keesokan harinya demi keuntungan. Jane Street juga dicurigai terlibat dalam crash pasar kripto pada 10 Oktober, sebuah peristiwa yang masih membekas di kalangan investor.
Fakta dan Data yang Berkaitan
Jane Street memang sempat digugat terkait kasus insider trading sebelum dan selama runtuhnya TerraUSD. Selain itu, regulator sekuritas India melarang aktivitas Jane Street di pasar lokal karena dugaan manipulasi indeks. Namun, perusahaan ini menghasilkan pendapatan utama dari aktivitas trading yang legal, termasuk penjualan dan pembelian aset sesuai strategi mereka.
Penjualan Bitcoin oleh pemegang jangka panjang juga signifikan, mencapai sekitar 143.000 Bitcoin selama 30 hari hingga awal Maret. Selain itu, penebusan dana ETF sering kali menimbulkan tekanan jual lebih besar daripada yang mampu dilakukan oleh perusahaan tunggal.
Mengapa Lalu Lintas Perdagangan Tidak Selalu Sama dengan Manipulasi Pasar
Adanya aktivitas jual beli besar oleh Jane Street tidak otomatis berarti manipulasi pasar. Perdagangan adalah bagian normal dari pasar keuangan, dan penurunan harga Bitcoin lebih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor fundamental dan perilaku pasar global.
Protokol Bitcoin sendiri tidak bisa diubah oleh aktor pasar manapun. Total suplai Bitcoin dibatasi maksimal 21 juta koin, dan sekitar 95% telah ditambang dan beredar. Mekanisme halving yang terjadi sekitar setiap empat tahun akan mengurangi jumlah Bitcoin baru yang tersedia, menjaga kelangkaan dan potensi kenaikan harga jangka panjang.
Strategi Investasi Menghadapi Volatilitas Bitcoin
Penurunan harga Bitcoin sudah menjadi fenomena yang berulang dan sering terjadi dalam sejarah aset ini. Pasar bearish sebelumnya pernah membuat harga turun antara 70% hingga 85 sebelum akhirnya pulih. Oleh karena itu, bersikap sabar dan membeli saat harga turun sering kali lebih menguntungkan dibandingkan panik menjual.
Investor disarankan untuk tidak terlalu cepat terpengaruh oleh teori konspirasi atau tuduhan tanpa bukti kuat. Mengandalkan analisis fundamental serta memahami siklus pasar kripto adalah kunci menjaga strategi investasi tetap sehat.
Pertimbangan Penting Sebelum Berinvestasi Bitcoin
Tim analis Motley Fool tidak memasukkan Bitcoin sebagai salah satu dari 10 saham terbaik untuk dibeli saat ini. Mereka menekankan pentingnya memilih investasi dengan fundamental kuat yang bisa memberikan imbal hasil besar dalam jangka panjang.
Historis menunjukkan bahwa saham seperti Netflix dan Nvidia mampu memberikan return puluhan ribu persen dari waktu rekomendasi mereka. Jadi, seorang investor harus jeli menilai risiko dan peluang di pasar agar portofolio bisa bertumbuh optimal.
Kisah manipulasi pasar Bitcoin oleh Jane Street lebih pantas dilihat sebagai peringatan agar investor berhati-hati. Namun, data menunjukkan bahwa pengaruh perusahaan itu terhadap harga tidak cukup besar untuk menyebabkan crash besar. Sebaliknya, dinamika pasar yang kompleks dan perilaku banyak pelaku pasar lebih menentukan arah harga Bitcoin.







