Bitcoin Mendekati 95 Persen Supply Tercipta, Apakah Harga Melesat Atau Tantangan Baru Menanti?

Bitcoin kini telah menambang hampir 95% dari total pasokannya yang dibatasi sebanyak 21 juta koin. Dengan produksi blok yang terjadi setiap sekitar 10 menit, batas 20 juta koin akan tercapai dalam beberapa hari mendatang.

Mencapai tonggak ini memicu perdebatan di kalangan investor dan analis terkait dinamika pasokan jangka panjang Bitcoin, trajektori harga masa depan, serta keberlangsungan fungsi jaringan dengan melambatnya penerbitan koin baru.

Mekanisme Pasokan Bitcoin dan Dampaknya
Protokol Bitcoin mengatur agar total pasokan tidak melebihi 21 juta koin. Jumlah ini bertambah secara bertahap melalui proses penambangan blok baru. Namun, laju penerbitan koin menurun secara periodik melalui mekanisme "halving" yang terjadi sekitar setiap empat tahun.

Setiap halving, hadiah yang diterima penambang berkurang setengahnya, dengan tujuan mengendalikan inflasi pasokan dan mendorong kelangkaan aset digital ini. Akibatnya, produksi satu juta Bitcoin terakhir diperkirakan baru akan selesai sekitar tahun 2140.

Faktor Pendukung Keberlanjutan Jaringan
Dengan menurunnya imbal hasil dari koin baru, pendapatan penambang di masa depan akan lebih banyak bergantung pada biaya transaksi yang dibayarkan pengguna jaringan. Jika aktivitas transaksi tidak meningkat secara signifikan, kekhawatiran muncul mengenai kelangsungan insentif bagi penambang untuk mengamankan blockchain.

Sebaliknya, para pendukung Bitcoin percaya bahwa kenaikan adopsi, harga Bitcoin yang potensial naik, dan pembentukan pasar biaya transaksi yang kompetitif akan menyeimbangkan penurunan pasokan koin baru. Hal ini penting untuk menjaga keamanan dan keberlangsungan jaringan.

Kelangkaan Bitcoin sebagai Faktor Penentu Harga
Kelangkaan menjadi fitur utama yang membedakan Bitcoin dari aset digital lain. Dengan suplai semakin langka dan permintaan yang berpotensi meningkat, teori ekonomi menyatakan harga bisa terdorong naik.

Sejarah memperlihatkan bahwa peristiwa halving terdahulu menimbulkan volatilitas harga tinggi dan kenaikan signifikan. Contohnya:

  1. Setelah halving 2012, harga Bitcoin naik sekitar 80 kali lipat.
  2. Halving 2016 mendahului kenaikan sekitar 300%.
  3. Dalam 16 bulan setelah halving 2020, harga melonjak lebih dari 600%.

Tantangan dan Kritik terhadap Nilai Bitcoin
Meski begitu, beberapa pihak skeptis menyatakan bahwa kelangkaan saja tidak cukup menjaga nilai Bitcoin. Kolumnis Financial Times, Jemima Kelly, menyebut Bitcoin sebagai aset dengan nilai "nol" karena keberadaan ribuan token digital lain yang juga mengklaim kelangkaan atau fitur serupa.

Namun, keunikan Bitcoin terletak pada batas pasokan yang tetap dan tidak dapat diubah—berbeda dari cryptocurrency lain yang aturan penerbitannya bisa dimodifikasi.

Pasokan Tersedia untuk Perdagangan dan Koin yang Hilang
Meskipun hampir 20 juta Bitcoin sudah ditambang, sebagian besar koin ini tidak selalu aktif diperdagangkan. Blockchain analytics firm Glassnode melaporkan banyak koin yang tersimpan di dompet jangka panjang yang jarang bergerak. Diperkirakan sekitar 13 juta koin termasuk dalam kategori “illiquid,” dikuasai oleh investor institusional atau dompet dingin (cold storage).

Di sisi lain, kurang dari 3 juta Bitcoin ada di bursa untuk transaksi aktif. Ketersediaan terbatas ini berarti permintaan besar, terutama dari investor institusional atau pembelian ETF, dapat memberikan dampak signifikan terhadap harga pasar.

Selain itu, sejumlah peneliti memperkirakan sekitar 1.8 juta Bitcoin hilang secara permanen karena pemilik lupa kunci privat, kehilangan perangkat penyimpanan, atau dompet yang tidak dapat diakses. Hal ini memperkuat kelangkaan efektif Bitcoin dan menyulitkan penambahan pasokan aktif.

Tonggak hampir tercapainya 95% pasokan Bitcoin menunjukkan fase baru dalam siklus hidup aset kripto ini. Ke depan, fokus bergeser pada bagaimana kelangkaan, dinamika pasar, dan keberlanjutan jaringan bersama-sama memengaruhi harga dan adopsi Bitcoin.

Terkait