Bitcoin berhasil mempertahankan harga di atas $70,000 setelah melonjak sekitar 5% dalam 24 jam terakhir, mencapai sedikit di atas $72,000. Kenaikan ini terjadi di tengah rally pasar luas yang juga mengangkat harga emas, minyak, dan dolar AS. Namun, para analis mengingatkan bahwa momentum sebenarnya bagi Bitcoin belum terbukti kuat dan masih penuh ketidakpastian.
Menurut Nicolai Søndergaard, analis riset dari Nansen, kenaikan ini membawa Bitcoin ke level yang sebelumnya menjadi titik jenuh, di mana reli-reli sebelumnya terhenti. “Belum ada konfirmasi yang menunjukkan bahwa kenaikan ini akan berlanjut dengan kuat,” jelasnya dalam catatan kepada investor yang dikutip dari DL News. Harga Bitcoin selama sebulan terakhir banyak bergerak dalam rentang $60,000 hingga $70,000 tanpa ada tren jelas.
Kondisi Pasar dan Sentimen Investor
Søndergaard menilai bahwa lonjakan harga di atas $72,000 lebih banyak dipicu oleh aksi tutup posisi short dan aliran pembelian dari investor ritel, bukan oleh posisi yang didukung keyakinan pasar kuat. Ia mengamati adanya "ketidakcocokan" antara harga yang naik dan sikap risiko dari investor institusional atau “smart money”. Dalam catatannya disebutkan bahwa aliran dana neto dari investor pintar selama tujuh hingga 30 hari terakhir menunjukkan bahwa mereka cenderung mendistribusikan aset DeFi dan token governance, bukan mengakumulasi secara agresif.
Sebaliknya, Livio Weng, CEO Bitfire, melihat kenaikan ini sebagai tanda evolusi struktural Bitcoin dan bukti peranannya sebagai aset safe-haven. Menurutnya, konflik geopolitik yang sedang terjadi antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memperlihatkan bahwa Bitcoin semakin independen dari korelasi pasar saham AS. “Dolar AS dulunya menjadi satu-satunya pilihan, tetapi melemahnya kredibilitas global Amerika dan tren pelemahan dolar memberi ruang bagi Bitcoin dan kripto lain untuk menjadi pilihan utama karena faktor keamanan, likuiditas, portabilitas, dan pembagiannya yang mudah,” ungkap Weng.
Aliran Dana dan Proyeksi Pasar
Data dari DefiLlama menunjukkan dana yang masuk ke Bitcoin exchange-traded funds (ETF) mencapai $462 juta. Ini menandai kemungkinan bahwa bulan berjalan ini menjadi periode inflow positif pertama sejak Oktober. Dalam minggu pertama saja, tercatat dana masuk sebesar $1,4 miliar. Selain Weng, sejumlah analis terkenal seperti Arthur Hayes, Tom Lee, David Brickell, dan Chris Mills juga menunjukkan pandangan optimistis terkait prospek Bitcoin di tengah ketidakpastian geopolitik saat ini.
Namun, ada pula suara waspada yang memperingatkan agar investor tetap berhati-hati. Sean Dawson, kepala riset Derive.xyz, menyatakan bahwa jika konflik di Timur Tengah bisa diselesaikan dalam beberapa minggu, sentimen bearish kemungkinan akan berkurang. Sebaliknya, jika perang berkepanjangan, pasar kripto akan menghadapi volatilitas tinggi dan permintaan perlindungan posisi turun tetap besar.
Faktor yang Harus Diperhatikan Investor
- Ketidakpastian geopolitik yang berpotensi memperpanjang masa volatilitas pasar.
- Minat investor institusional yang masih belum menunjukkan akumulasi berkelanjutan.
- Aliran dana ritel yang mendukung kenaikan jangka pendek akibat tutup posisi short.
- Peran Bitcoin sebagai aset safe-haven dalam konstelasi ekonomi global yang berubah.
Ke depan, penguatan nilai Bitcoin di atas $70,000 akan sangat bergantung pada konfirmasi tren yang didukung aliran dana institusional dan perkembangan geopolitik global. Investor disarankan mengamati dinamika pasar secara erat karena meskipun harga stabil di level tinggi, keyakinan pasar masih relatif rapuh dan rentan terhadap perubahan cepat.
