KOSPI, indeks saham utama Korea Selatan, mencatat kenaikan luar biasa lebih dari 11% setelah mencatat penurunan satu hari terburuk dalam sejarahnya. Lonjakan ini terjadi hanya satu hari setelah pasar mengalami penurunan hebat yang dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Pasar saham Korea sangat terpaut erat dengan kondisi politik dan ekonomi global, khususnya dari kawasan Timur Tengah. Stabilitas harga minyak dan kabar kontak rahasia antara Washington dan Tehran berhasil mengangkat sentimen para investor di Asia.
Kenaikan Signifikan KOSPI dan KOSDAQ
Pada sesi perdagangan pagi, KOSPI naik tajam dari posisi penutupan pada 5.093 menjadi 5.682 dan sempat menyentuh level intraday tertinggi di 5.715. KOSDAQ yang fokus pada saham teknologi juga pulih di atas angka 1.000, tumbuh lebih dari 11%. Pembalikan ini berbanding terbalik dengan hari sebelumnya yang membuat pasar dipicu sisi sebelah jual dan circuit breaker sepenuhnya aktif.
Won Korea juga menguat tajam di tengah pemulihan pasar, bergerak dari level terendah 1.505 terhadap dolar AS menjadi sekitar 1.461. Kenaikan nilai tukar ini menunjukkan adanya penguatan mata uang lokal setelah tekanan besar hari sebelumnya.
Peran Saham Teknologi dan Investor Asing
Saham Samsung Electronics dan SK Hynix yang sebelumnya anjlok masing-masing 21% dan 22,75% dari puncak Februari lalu, kini merespons positif dengan rebound sebesar 13-15%. Investor asing yang sebelumnya melepas saham ini sebagai likuiditas utama, kini kembali menjadi pembeli bersih dengan nilai transaksi melebihi 710 miliar won. Investor ritel juga aktif menambah kepemilikan hingga 600 miliar won.
Dampak Geopolitik terhadap Bursa Korea
Penurunan tajam dalam dua hari perdagangan mencapai 18,43% untuk KOSPI dan 17,97% untuk KOSDAQ merupakan yang terburuk secara global, jauh melebihi negara-negara lain di Asia. Kurang lebih 70% kebutuhan energi Korea berasal dari Timur Tengah sehingga tekanan geopolitik terhadap jalur perdagangan energi, khususnya ketakutan penutupan Selat Hormuz, berdampak sangat kuat pada pasar modal Korea.
Penurunan 12,06% pada satu hari perdagangan bahkan melewati penurunan pasca-11 September yang sebelumnya menjadi rekor selama 25 tahun. Kondisi ini memperlihatkan betapa rentannya ekonomi Korea terhadap gejolak eksternal, terutama yang berhubungan dengan energi dan ekspor.
Proyeksi dan Sentimen Pasar ke Depan
Para analis tetap optimistis namun berhati-hati mengingat situasi politik di kawasan masih bisa berubah. Ada pendapat bahwa blokade jangka panjang di Selat Hormuz justru akan merugikan Iran karena memotong pendapatan devisa dan memicu tanggapan militer yang lebih keras. Pihak mediasi menjadi faktor kunci untuk perkembangan berikutnya.
Mirae Asset memproyeksikan target pemulihan jangka pendek KOSPI di angka 5.800. Sementara itu, Kiwoom Securities menyampaikan bahwa penurunan dua hari terakhir sudah mencerminkan sepenuhnya harga risiko perang dalam indeks tersebut.
Perbandingan dengan Pasar Crypto
Selama penurunan pasar saham, beberapa token kripto yang baru terdaftar masih menunjukkan kenaikan signifikan. Namun, kebangkitan pasar saham secara tajam berpotensi menarik kembali modal investor yang sempat mengalir ke aset digital. Volume transaksi kripto Korea sendiri sudah menurun lebih dari 80% selama kenaikan saham KOSPI sebesar 85% sejak terpilihnya Presiden Lee.
Penguatan won mengurangi daya tarik lindung nilai mata uang yang sebelumnya mendorong kenaikan aset digital. Contohnya, Bitcoin naik 6,4% dalam dolar AS namun hanya naik sekitar 5% dalam won, karena penguatan won menyerap sebagian keuntungan tersebut.
Jika ketegangan geopolitik mereda, KOSPI diperkirakan akan terus naik mendekati target Mirae Asset. Kondisi ini kemungkinan akan mengalihkan minat investor ritel dari pasar kripto kembali ke pasar saham, mengukuhkan peran KOSPI sebagai pusat gravitasi investasi Korea secara umum.
