Vancouver memutuskan untuk menghentikan inisiatif menjadi kota “Bitcoin-friendly” setelah mengevaluasi aturan hukum yang mengatur keuangan kotanya. Rencana yang sempat didukung walikota Ken Sim ini berusaha menjadikan Bitcoin sebagai bagian dari cadangan finansial kota, namun terhalang oleh peraturan pemerintah daerah.
Tim staf kota merekomendasikan untuk menunda dan menghentikan proyek tersebut karena menurut laporan resmi, pemerintah kota tidak diperkenankan memegang Bitcoin sebagai investasi berdasarkan piagam pengelolaan keuangan yang berlaku. Dengan kata lain, keterbatasan hukum membuat kota tidak bisa mengangarkan dana publik dalam bentuk cryptocurrency.
Awal gagasan ini disetujui pada bulan Desember oleh dewan kota Vancouver sebagai langkah inovatif untuk menyambut penggunaan Bitcoin. Salah satu ide utamanya adalah mengkonversi sebagian cadangan keuangan kota ke dalam Bitcoin, memanfaatkan potential hedge terhadap inflasi dengan pasokan Bitcoin yang terbatas dan adopsi global yang terus naik.
Meski semua anggota dari partai walikota mendukung proposal ini, hasil kajian menunjukkan bahwa regulasi kota secara tegas melarang penggunaan Bitcoin dalam portofolio investasi pemerintah daerah. Akibatnya, inisiatif ini masuk daftar prioritas rendah dari berbagai usulan dewan yang bersaing untuk mendapatkan sumber daya dan pembiayaan.
Beberapa pakar kritik terhadap rencana tersebut, menunjuk volatilitas harga Bitcoin dan dampak lingkungan akibat aktivitas penambangan yang sangat intensif energi. Satu-satunya anggota dewan yang menolak inisiatif ini, Pete Fry, menyatakan sudah menganggap proyek tersebut “mati” sebelum rekomendasi resmi muncul.
Sementara Vancouver mundur, sebuah kota kecil di Eropa, Ljubljana, muncul sebagai contoh kota yang sangat ramah terhadap cryptocurrency. Ibukota Slovenia ini telah mengembangkan ekosistem kripto yang maju dengan lebih dari 150 mesin ATM cryptocurrency dan banyak pedagang yang menerima pembayaran menggunakan mata uang digital.
Ljubljana memfasilitasi penggunaan sehari-hari kripto, bukan hanya untuk tujuan perdagangan. Hal ini didukung oleh organisasi lokal yang aktif mengembangkan sektor blockchain, termasuk platform tokenisasi properti Blocksquare yang menjalin kemitraan bernilai $1 miliar dengan perusahaan investasi Amerika Vera Capital untuk memperluas pasar tokenisasi real-estate secara global.
Namun, Ljubljana tidak lepas dari tantangan regulasi. Pemerintah Slovenia menetapkan pajak 25% atas keuntungan pribadi dari kripto mulai tahun 2026 untuk mengumpulkan sekitar €25 juta per tahun. Kebijakan ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar bahwa pajak tinggi dapat menghambat inovasi dan menarik peserta baru.
Secara umum, kisah Vancouver dan Ljubljana menunjukkan kontras antara hambatan hukum di negara maju dengan upaya kreatif kota kecil dalam mengadopsi teknologi blockchain. Pengalaman ini menjadi pelajaran penting tentang bagaimana regulasi dan infrastruktur dapat menentukan arah perkembangan penggunaan cryptocurrency dalam kehidupan sehari-hari.
