Perubahan iklim tidak hanya berdampak pada alam dan cuaca, tetapi juga mengubah kualitas makanan sehari-hari, termasuk keju. Studi terbaru dari Universite Clermont Auvergne, Prancis, menunjukkan bahwa bahan dasar keju, yakni susu sapi, mengalami perubahan rasa dan kandungan gizi akibat perubahan pola makan sapi yang terdampak kekeringan dan panas ekstrem. Temuan ini menjadi sinyal nyata bahwa tanda-tanda kiamat perubahan iklim sudah mulai tampak melalui hal sederhana seperti keju.
Para peneliti menemukan bahwa sapi yang biasanya mengonsumsi rumput kini harus diberi pakan tambahan berupa jagung dan konsentrat. Ini disebabkan rumput alami yang semakin langka karena kekeringan berkepanjangan. Sebagai akibatnya, susu yang dihasilkan sapi mengalami perubahan kualitas. Matthieu Bouchon, peneliti utama, mengatakan, "Kalau perubahan iklim terus berjalan seperti sekarang, kita akan merasakannya dalam rasa keju kita."
Perubahan Pola Makan Sapi dan Dampaknya pada Kualitas Susu
Perbandingan dua kelompok sapi dalam studi tersebut mengungkap perbedaan mencolok. Kelompok pertama diberikan pakan rumput alami, sementara kelompok lain diberi tambahan jagung. Hasilnya menunjukkan sapi yang diberi makanan jagung memproduksi susu dengan volume yang sama dan emisi metana yang lebih rendah. Namun, susu tersebut memiliki rasa yang kurang gurih serta kandungan gizi lebih rendah jika dibandingkan dengan sapi yang makan rumput.
Susu dari sapi yang makan rumput terbukti mengandung asam lemak omega-3 dan asam laktat lebih banyak. Kedua zat ini sangat penting untuk kesehatan jantung dan sistem pencernaan manusia. Kondisi ini menunjukkan bahwa kualitas keju yang dihasilkan dari susu sapi pemberi pakan alami juga lebih berkualitas dan menyehatkan.
Dampak Global Perubahan Iklim terhadap Industri Susu
Fenomena perubahan kualitas susu ini bukan hanya terjadi di Prancis, melainkan meluas ke berbagai wilayah dunia. Gustavo Abijaodi, peternak sapi perah asal Brasil, mengungkapkan bahwa kandungan protein dan lemak dalam susu sapi di wilayahnya menurun drastis akibat suhu panas yang ekstrem. Ia mengatakan, "Kalau kami bisa menstabilkan dampak panas, sapi akan menghasilkan susu yang lebih baik dan bergizi."
Suhu panas yang terus meningkat menyebabkan sapi makan lebih sedikit dari biasanya. Akibatnya, daya tahan tubuh sapi menurun dan mereka lebih rentan terhadap berbagai penyakit. Kondisi ini dapat mengancam keberlangsungan peternakan susu dan tentunya berdampak pada kualitas produk akhir seperti keju.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Susu dan Keju
Menurut studi tersebut, ada beberapa faktor utama yang memengaruhi perubahan kualitas susu, antara lain:
- Jenis pakan: Peralihan dari rumput alami ke pakan jagung atau konsentrat berdampak pada rasa dan kandungan gizi susu.
- Kondisi cuaca: Kekeringan dan panas ekstrem mengurangi ketersediaan rumput dan menyebabkan stres pada sapi.
- Kesehatan sapi: Penurunan daya tahan tubuh akibat pola makan dan lingkungan yang buruk membuat sapi rentan sakit dan menurunkan kualitas susu.
Perubahan kondisi ini memperlihatkan bagaimana efek dari perubahan iklim bisa dirasakan langsung dalam produk pangan yang kita konsumsi sehari-hari.
Masa Depan Keju dan Implikasinya bagi Konsumen
Bila tren perubahan iklim tidak segera dikendalikan, konsumen dapat merasakan dampak penurunan kualitas keju secara nyata. Rasa keju akan berubah, tidak lagi sesegar dan sebergizi sebelumnya. Selain itu, penurunan kandungan nutrisi dalam susu dapat mengurangi manfaat kesehatan dari konsumsi produk olahan susu.
Temuan ini memperingatkan pentingnya pengelolaan lingkungan yang lebih baik dan inovasi dalam sistem peternakan agar produksi susu dan keju dapat tetap terjaga. Upaya pengembangan pakan alternatif yang ramah lingkungan sekaligus memastikan kesehatan sapi menjadi langkah penting ke depan.
Dengan demikian, fenomena yang tampak kecil seperti perubahan rasa keju sebenarnya mencerminkan tantangan besar akibat krisis iklim. Penelitian ini menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat bahwa perubahan iklim telah memasuki fase yang berpengaruh pada aspek kehidupan paling mendasar, termasuk makanan yang dikonsumsi sehari-hari.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.cnbcindonesia.com






