Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada awal tahun ini telah memengaruhi pasar cryptocurrency, khususnya harga XRP. Setelah serangan yang diluncurkan pada akhir Februari, harga XRP mengalami penurunan tajam lebih dari 20%, dengan 472 juta XRP senilai $652 juta yang terjual besar-besaran ke Binance dalam gelombang awal pelepasan aset. Sentimen pasar yang bearish akibat konflik ini menjadi pengaruh dominan, mengabaikan berbagai fundamental kuat XRP seperti kemitraan dengan Deutsche Bank, integrasi Aviva, dan masuknya dana ETF yang terus mengalir.
Meski demikian, XRP memulai tahun dengan berbagai katalis positif. Dana ETF yang masuk terus bertambah hingga mencapai total $1,25 miliar sejak peluncuran, Ripple mencatat kemajuan signifikan dengan stablecoin RLUSD yang mendekati kapitalisasi pasar $2 miliar, dan dukungan institusional dari bank besar Eropa. Namun, harga XRP tetap melemah dari level awal $2,40 dan saat ini berkisar antara $1,30 hingga $1,50, terutama karena ketidakpastian yang disebabkan konflik Iran belum menunjukkan tanda-tanda akan segera mereda.
Dampak Konflik Iran pada Pergerakan Harga XRP
Serangan Amerika dan Israel yang menargetkan situs militer Iran dan kematian Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei mempercepat gelombang panik di pasar crypto. Dalam hitungan jam, harga XRP jatuh dari kisaran $1,40 ke $1,27. Penutupan Selat Hormuz oleh Garda Revolusi Iran, serangan lanjutan ke Teheran dan Beirut, serta serangan drone Iran ke kedutaan besar AS di Riyadh semakin memperparah ketegangan yang secara langsung memicu aksi jual besar-besaran. Pada titik terendah, harga sempat menyentuh $1,11 sebelum ada stabilisasi.
Data on-chain mengonfirmasi bahwa pergerakan besar berasal dari whale atau pemegang XRP besar yang melakukan repositioning di tengah situasi pasar yang tidak menentu. Meskipun ada laporan mengenai kontak intelijen Iran ke CIA untuk mengakhiri konflik, yang sempat menaikkan harga XRP ke $1,46, keuntungan tersebut tidak bertahan lama. Dalam seminggu berikutnya, XRP bahkan mencatat arus keluar dana terbesar di antara aset kripto utama, hampir $30 juta keluar dari produk investasi XRP, berbeda dengan lonjakan utama yang terjadi pada Bitcoin.
Fundamental XRP dan Geopolitik: Duel Pengaruh yang Berkelanjutan
Kemitraan strategis Ripple dengan berbagai lembaga keuangan ternama, termasuk Deutsche Bank dan Aviva, menunjukkan potensi besar untuk jangka panjang. Société Générale dengan peluncuran stablecoin euro pada XRPL di bulan yang sama juga merupakan sinyal positif. Namun seluruh kemajuan institusional ini gagal menenangkan pasar yang terpengaruh oleh ketidakpastian geopolitik. XRP saat ini diposisikan sebagai aset berisiko yang sangat sensitif terhadap gelombang ketakutan global.
Salah satu indikator utama yang mencerminkan ketidakseimbangan ini adalah fakta bahwa walau terjadi aliran masuk ETF secara konsisten, harga XRP justru menurun lebih dari 35% sejak Januari. Hal ini menandakan bahwa sentimen geopolitik dan risiko makro secara keseluruhan telah mengalahkan pengaruh fundamental positif XRP.
Proyeksi Harga dan Kondisi Konflik Saat Ini
Iran secara terbuka menolak untuk bernegosiasi kecuali AS menarik tuntutan “penyerahan tanpa syarat”. Sementara Presiden Amerika Serikat menegaskan sikap keras tanpa kompromi. Konflik belum memperlihatkan tanda-tanda segera berakhir dan serangan pun masih berlangsung di pusat-pusat penting seperti Teheran. Jika perang melebar, XRP berpotensi menurun kembali ke support $1,27 bahkan menembus ke kisaran $1,10 hingga $1,00, level terendah setelah lonjakan awal pada konflik.
Setelah konflik berakhir, XRP diprediksi dapat melanjutkan penguatannya ke kisaran $1,60–$1,80 bahkan berpotensi menyentuh $2,00 jika pasar kripto secara umum membaik. Namun tanpa penyelesaian politik yang jelas, harga kemungkinan akan bergerak sideway dalam rentang yang relatif sempit antara $1,30 sampai $1,50 sesuai pola yang telah terlihat sejak kenaikan sementara menunggu kabar damai.
Faktor-faktor yang Perlu Diwaspadai Investor
- Perkembangan konflik di Timur Tengah termasuk kemungkinan intervensi militer AS yang lebih luas.
- Data on-chain yang menunjukkan aktivitas whale serta perubahan aliran dana ETF.
- Pengumuman kemitraan dan pengadopsian teknologi Ripple yang dapat membantu memperkuat fundamental jangka panjang XRP.
- Sentimen pasar makro, terutama pengaruh kebijakan moneter AS dengan pejabat seperti Ketua Fed baru yang dapat memicu volatilitas.
Ketegangan geopolitik ini menunjukkan bagaimana faktor eksternal dapat mendominasi pergerakan harga aset digital, terlepas dari kekuatan teknologi dan adopsi institusional yang terus berkembang. XRP tetap menjadi salah satu aset kripto yang sangat dipantau karena keterkaitannya dengan sentimen risiko global dan potensi pemulihan pasca-konflik.
