
Bitcoin ETF mencatat aliran dana masuk sebesar $619 juta setelah sempat mencapai $1,44 miliar di awal minggu. Perubahan ini terjadi bersamaan dengan lonjakan harga minyak yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Data dari laporan terbaru CoinShares menunjukkan bahwa inflows awal pekan terpantau tinggi, khususnya dari investor AS, sementara di akhir pekan terjadi outflow signifikan. Lonjakan ini terkait dengan serangan AS terhadap Iran dan eskalasi ketegangan melalui penutupan Selat Hormuz yang mempengaruhi pasar global.
Aliran Dana dan Pergerakan Harga Bitcoin
Bitcoin mendominasi pasar dengan aliran dana masuk sebesar $521 juta, diikuti oleh Ethereum dan Solana yang menunjukkan kenaikan inflow juga. XRP menjadi satu-satunya aset utama yang mengalami outflow signifikan.
Harga Bitcoin melonjak hampir 11% dari $66,356 menjadi $73,648 dalam beberapa hari awal minggu. Namun pada hari-hari berikutnya, harga mengalami penurunan hampir 8% menjadi sekitar $67,777 saat ini.
Menurut Nima Beni dari Bitlease, pola arus dana ini lebih mencerminkan manajemen posisi oleh para portfolio manager. Mereka cenderung meningkatkan eksposur awal minggu untuk memanfaatkan pergerakan harga, lalu mengurangi risiko menjelang akhir pekan agar mengantisipasi ketidakpastian geopolitik.
Dampak Geopolitik terhadap Pasar dan Harga Minyak
Jonatan Randin dari PrimeXBT menjelaskan bahwa eskalasi krisis Iran merupakan faktor utama menurunnya kepercayaan investor. Penutupan Selat Hormuz oleh IRGC dan kenaikan harga minyak mentah yang sempat menyentuh $119 per barel menyebabkan sentimen risiko melemah di seluruh kelas aset, termasuk cryptocurrency.
Harga minyak yang melonjak sekitar 60% pasca serangan akhir Februari ini kemudian terkoreksi hampir 14% pada akhir pekan, namun tetap berada di atas $102 per barel. Hal ini memberi tekanan tambahan pada saham AS dan berdampak pada Bitcoin sebagai aset berisiko.
Georgii Verbitskii dari aplikasi investor crypto TYMIO menilai Bitcoin masih berperilaku seperti aset berisiko. Oleh sebab itu, penurunan pasar saham biasanya diikuti oleh pelemahan pada aset digital tersebut.
Proyeksi dan Respons Investor terhadap Ketidakpastian
Ilia Otychenko dari CEX.IO memperingatkan potensi tekanan jual dalam jangka pendek jika ketegangan geopolitik terus meningkat. Respons pasar keuangan biasanya menunjukan sikap menghindari risiko dengan mengurangi eksposur pada aset yang volatil, termasuk crypto.
Randin menambahkan bahwa bahkan sebelum krisis di Hormuz, Bitcoin sudah menunjukkan kelemahan. Ia menyebutkan bahwa Bitcoin cenderung mengikuti pergerakan saham saat turun, tetapi tidak mendapatkan keuntungan signifikan saat pasar naik, sehingga eskalasi geopolitik membuat Bitcoin dan aset berisiko lainnya menghadapi hambatan.
Sebaliknya, Beni menyoroti bahwa penjualan Bitcoin oleh institusi di periode ketegangan adalah refleksi dari perlawanan terhadap perubahan struktural di pasar keuangan yang sedang berlangsung. Bitcoin tidak bergantung pada kendali entitas tertentu seperti jalur pengiriman minyak, sebuah alasan mengapa pihak-pihak tersebut ingin harga Bitcoin tetap tertekan.
Sentimen Pasar dan Faktor Makro yang Mempengaruhi
Sentimen investor terhadap Bitcoin menurun, dengan prediksi peluang kenaikan harga ke $84,000 turun dari 50% menjadi 41,6%. Para ahli sepakat bahwa jika harga minyak tetap tinggi dalam jangka menengah, risiko untuk Bitcoin juga meningkat.
Kenaikan harga minyak membawa tekanan inflasi dan berpotensi mempengaruhi kebijakan moneter bank sentral agar menjaga suku bunga tetap tinggi. Kondisi ini mematikan selera risiko investor sehingga dana berputar keluar dari aset volatil seperti Bitcoin menuju instrumen yang lebih aman, seperti obligasi dan emas.
Verbitskii memperkirakan bahwa kelemahan struktural yang sudah mulai terlihat pada Bitcoin bisa semakin diperparah oleh tekanan makroekonomi yang berasal dari tekanan harga minyak yang tinggi dan pelemahan pasar yang meluas.









