Perdagangan minyak mentah kini menjadi aset dengan volume transaksi terbesar kedua di bursa perdagangan kripto populer, Hyperliquid. Dalam 24 jam terakhir, kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate (WTI) mencatat volume perdagangan sebesar 1,32 miliar dolar AS, hanya kalah dari Bitcoin yang mencatat 3,64 miliar dolar AS.
Hyperliquid merupakan bursa terdesentralisasi yang berfokus pada perdagangan kontrak perpetual futures dengan tingkat leverage tinggi. Kontrak CT-USDC yang terkait dengan harga minyak WTI memungkinkan para trader mempertahankan posisi berjangka tanpa batas waktu kadaluarsa. Hal ini menarik minat besar terutama dari segmen trader ritel yang mulai melebarkan investasinya dari aset kripto menuju komoditas seperti minyak.
Lonjakan Perdagangan Minyak Mendadak
Sebelum konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran, volume harian kontrak minyak ini hanya sekitar 21 juta dolar AS. Namun, sejak perang pecah pada akhir Februari, volume transaksi melonjak drastis mencapai 1,32 miliar dolar AS per hari. Harga minyak juga mengalami fluktuasi tajam, sempat menyentuh 118 dolar per barel pada awal Maret, namun kini berada di kisaran 80 dolar per barel.
Kontrak perpetual futures minyak ini semakin diminati karena sifatnya yang memungkinkan perdagangan sepanjang waktu tanpa menghadapi masalah pengurangan waktu kontrak. Pelaku pasar bisa memanfaatkan volatilitas harga minyak yang tinggi selama masa ketegangan geopolitik ini untuk melakukan spekulasi dengan leverage besar.
Daftar Top 10 Aset dengan Volume Perdagangan Terbesar di Hyperliquid
- Bitcoin (BTC): 3,64 miliar dolar AS
- Kontrak Minyak WTI: 1,32 miliar dolar AS
- Ethereum (ETH): 914 juta dolar AS
- Hyperliquid (HYPE): 509 juta dolar AS
- Nasdaq 100 (XYZ100): 478 juta dolar AS
- Solana (SOL): 291 juta dolar AS
- Perak (Silver): 264 juta dolar AS
- Minyak Brent: 244 juta dolar AS
- S&P 500 (USA500): 95 juta dolar AS
- Emas (Gold): 73 juta dolar AS
Peran Bursa Kripto di Tengah Ketidakpastian Pasar
Ketika pasar tradisional di Wall Street tutup pada akhir pekan, platform seperti Hyperliquid tetap membuka akses bagi para trader untuk melakukan transaksi pada aset yang sedang mengalami volatilitas tinggi. Situasi ini memberikan peluang trading 24/7, khususnya bagi kontrak perpetual seperti minyak.
Kenaikan aktivitas perdagangan minyak tersebut juga berimbas positif pada nilai token asli Hyperliquid, HYPE, yang melonjak sekitar 30% mencapai harga 34 dolar AS setelah perang pecah. Meski harga minyak mulai menurun setelah pernyataan bahwa konflik hampir berakhir, blokade di Selat Hormuz—jalur lalu lintas utama minyak dunia sekitar 20% pasokan global—masih tetap berlangsung signifikan.
Fenomena ini menunjukkan adanya tren baru di kalangan trader aset digital yang mulai menggabungkan investasi mereka dengan komoditas strategis. Minyak, yang selama ini lebih didominasi oleh pasar tradisional, kini meraih posisi penting di ekosistem perdagangan kripto, menambah dimensi baru dalam diversifikasi portofolio.
Dengan terus berkembangnya mekanisme kontrak perpetual dan inovasi decentralized finance (DeFi), perdagangan aset seperti minyak melalui kripto diprediksi akan semakin meningkat dan memberikan dampak signifikan pada dinamika pasar global dan inklusi keuangan digital.
