
Ketegangan geopolitik yang meningkat antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran membuat pasar Bitcoin menunjukkan volatilitas tajam. Investor kini mencari waktu tepat untuk masuk ke pasar kripto yang penuh ketidakpastian ini.
Arthur Hayes, analis miliarder sekaligus co-founder BitMEX, menyatakan bahwa momen terbaik untuk membeli Bitcoin belum tiba. Pandangannya berdasarkan pola sejarah konflik di wilayah Timur Tengah dan dampak makroekonomi terhadap pasar aset digital.
Harga Bitcoin dan Volatilitas Perang
Pada hari pertama konflik, harga Bitcoin jatuh dari sekitar $67.000 menjadi $63.476, namun berhasil pulih dengan cepat. Dalam beberapa hari berikutnya, harga naik mencapai puncak bulanan di $73.394 sebelum kembali mengalami fluktuasi signifikan. Saat ini, harga Bitcoin bergerak di kisaran $70.600, turun sekitar 0,6 persen dalam 24 jam terakhir.
Hayes mengamati bahwa ketidakpastian pasar global berperan besar dalam dinamika harga tersebut. Bitcoin tampak berosilasi antara $65.000 hingga $69.000, dengan kemampuan untuk sesekali menembus batas atas sebelum kembali turun.
Mengapa Belum Saatnya Membeli Bitcoin?
Menurut Hayes, pemerintah biasanya akan meningkatkan likuiditas untuk mendanai konflik jangka panjang. Pengalaman sebelumnya menunjukkan Federal Reserve kerap mencetak uang guna mendukung pengeluaran perang Amerika Serikat di Timur Tengah.
Dia menegaskan, “Jika saya punya $1 untuk diinvestasikan sekarang, saya tidak akan memasukkannya ke Bitcoin. Saya akan menunggu.” Hayes percaya bahwa ketika likuiditas meningkat akibat kebijakan moneter ekspansif, itulah saat ideal untuk membeli Bitcoin.
Bitcoin sebagai Perlindungan terhadap Pelemahan Mata Uang
Sejarah menunjukkan Bitcoin berkinerja optimal ketika bank sentral menambah pasokan uang, yang berujung pada pelemahan mata uang fiat. Dalam situasi tersebut, investor cenderung beralih ke aset alternatif seperti Bitcoin untuk melindungi nilai kekayaan mereka.
Namun, Hayes juga memperingatkan bahwa sulit memprediksi waktu tepat terjadinya lonjakan likuiditas. Pasar kerap bereaksi berlebihan terhadap berita geopolitik, dan banyak investor mengambil keputusan berdasarkan sentimen yang sama.
Potensi Volatilitas Lanjutan di Pasar
Konflik yang berkepanjangan bisa memicu penurunan tajam di pasar ekuitas, diikuti oleh penurunan harga Bitcoin ke bawah angka $60.000. Hayes menggambarkan skenario ini sebagai “kaskade likuidasi” yang bisa memperburuk volatilitas pasar keuangan secara keseluruhan.
Faktor Likuiditas Global yang Mempengaruhi Bitcoin
Selain faktor geopolitik, Hayes juga menyoroti defisit likuiditas global sebagai penyebab utama momentum kenaikan Bitcoin yang terbatas selama beberapa bulan terakhir.
Dia menyebut Bitcoin sebagai “alarm likuiditas” yang mencerminkan kondisi ketatnya modal di pasar. Investasi besar dalam infrastruktur kecerdasan buatan dan pusat data oleh perusahaan teknologi telah menyerap banyak modal, sehingga mengurangi modal yang masuk ke ranah cryptocurrency.
Hal-hal Penting yang Perlu Diketahui Investor
- Harga Bitcoin rentan terhadap gejolak akibat konflik internasional.
- Likuiditas bank sentral kunci untuk penguatan besar Bitcoin.
- Harga dapat turun lebih jauh sebelum tren bullish kembali.
- Perhatian perlu diberikan pada kebijakan moneter dan berita geopolitik.
- Investasi berbasis kripto harus berhati-hati dan memperhatikan kondisi pasar global.
Pandangan dari Arthur Hayes memberikan perspektif penting bagi investor Bitcoin di tengah ketidakpastian geopolitik saat ini. Kesabaran menjadi kunci utama sebelum melakukan pembelian besar pada aset kripto. Pemahaman terhadap dinamika likuiditas dan politik global sangat penting dalam mengantisipasi pergerakan harga kedepannya.









