Bisnis penambangan Bitcoin menghadapi tantangan yang semakin berat pada 2026. Potensi keuntungan yang dulu dianggap tinggi kini berubah menjadi tekanan besar bagi para operator penambangan.
Berbagai faktor menekan bisnis ini dari berbagai sisi. Salah satunya adalah peristiwa halving Bitcoin yang memaksa perusahaan menambang dengan margin keuntungan yang semakin tipis. Selain itu, keberlanjutan model bisnis penambangan jangka panjang mulai dipertanyakan oleh para analis.
Dampak naiknya infrastruktur AI dan data center besar
Pertumbuhan pesat infrastruktur kecerdasan buatan dan pusat data hyperscale turut menambah kompetisi sumber daya listrik yang digunakan untuk penambangan. Hal ini menambah kompleksitas biaya operasional bagi miner Bitcoin.
Pengaruh geopolitik sebagai ancaman baru
Selain faktor teknis dan ekonomi, geopolitik kini menjadi ancaman serius bagi penambang Bitcoin. Konflik global dan keputusan politik berdampak langsung pada pasar keuangan, termasuk harga Bitcoin. Volatilitas harga ini bisa sangat merugikan karena profitabilitas penambangan sangat bergantung pada harga Bitcoin.
Analisis dari Luxor Technology’s Hashrate Index menyoroti bagaimana perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran dapat menekan para penambang. Terutama lewat volatilitas harga Bitcoin yang dipicu oleh gangguan aliran minyak di Selat Hormuz. Konflik semacam ini lebih berdampak pada harga Bitcoin daripada biaya listrik penambangan yang meningkat.
Pengaruh kenaikan harga minyak terhadap pasar energi dan Bitcoin
Serangan koordinasi terhadap target Iran membuat harga minyak mentah WTI meroket dari sekitar $65 per barel ke atas $100. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang mengalirkan 20% pasokan minyak dunia, sehingga gangguan di area ini sangat mempengaruhi pasar energi global.
Meski demikian, berdasarkan data Cambridge Centre for Alternative Finance dan Bitcoin Mining Council, lebih dari 50% jaringan Bitcoin menggunakan energi terbarukan atau non-fosil. Jadi, fluktuasi harga minyak tidak terlalu signifikan memengaruhi biaya listrik sebagian besar penambang.
Sumber energi utama para penambang Bitcoin
Mayoritas daya listrik yang digunakan penambang berasal dari jaringan listrik yang didominasi gas alam, batu bara, hidroelektrik, dan energi geothermal. Sekitar 90% hashrate global beroperasi di pasar tenaga listrik yang tidak terlalu terkait dengan harga minyak mentah.
Negara dengan konsentrasi penambangan besar mencakup Amerika Serikat, Rusia, dan China. Beberapa pusat tambang utama lainnya ada di Paraguay, Uni Emirat Arab, Oman, Kanada, Ethiopia, dan Kazakhstan. Banyak dari wilayah ini bergantung pada sumber energi yang tidak terkait langsung dengan harga minyak.
Sementara itu, sekitar 6% hashrate global berasal dari wilayah Teluk seperti Uni Emirat Arab dan Oman, yang listriknya lebih sensitif terhadap harga minyak. Jika termasuk Iran, Kuwait, Qatar, dan Libya, total exposure terhadap pasar energi yang mengikuti harga minyak mencapai sekitar 8-10%.
Risiko bukan pada biaya listrik langsung, tapi kondisi makroekonomi global
Para analis menegaskan bahwa kekhawatiran utama bukan pada biaya listrik penambangan yang terkait langsung dengan harga minyak. Melainkan bagaimana gejolak geopolitik mengubah kondisi makroekonomi global yang memengaruhi perilaku investor.
Kenaikan harga minyak dapat mendorong ekspektasi inflasi naik dan memengaruhi outlook suku bunga. Kondisi ini cenderung membuat investor berpindah ke aset yang lebih aman dan meninggalkan aset berisiko tinggi seperti Bitcoin.
Sebagai contoh, saat perang pecah, harga Bitcoin sempat turun 6,4% dalam 24 jam, dari sekitar $67.000 menjadi $63.176. Namun, Bitcoin juga pernah melewati level $70.000 beberapa kali sebelum akhirnya stabil di rentang $64.000 hingga $69.000.
Hashprice dan profitabilitas penambang
Penurunan harga Bitcoin menyebabkan hashprice — metrik pendapatan per satuan kekuatan komputasi — jatuh ke rekor terendah $27,89 per PH/s/hari di bulan Februari setelah harga Bitcoin anjlok hampir 24%. Miner yang melakukan lindung nilai dengan forward contract USD menunjukkan kinerja lebih baik hingga 8,2% dibanding modal spot mining.
Pada waktu terakhir dilaporkan, Bitcoin mengalami kenaikan 4,3% dalam semalam dengan harga diperdagangkan di level $73.108,87. Data ini mencerminkan dinamika pasar yang sangat sensitif terhadap faktor eksternal terutama konflik geopolitik dan perubahan harga minyak.
Dengan kondisi yang demikian kompleks dan penuh ketidakpastian, bisnis penambangan Bitcoin harus terus beradaptasi. Perusahaan yang mampu mengelola risiko dengan efisien dan memanfaatkan energi terbarukan berpeluang bertahan menghadapi tekanan makroekonomi dan geopolitik yang terus berubah.
