
Bitcoin baru-baru ini menembus angka lebih dari $74.000, menghapus posisi short senilai hampir $300 juta. Lonjakan ini menunjukkan adanya tekanan jual jangka pendek yang berkurang secara signifikan.
Namun, analis memperingatkan bahwa kekuatan kenaikan ini tidak bebas risiko. Illia Otychenko, analis utama di platform CEX.IO, menyatakan bahwa ketika harga Bitcoin kembali di atas $72.000, para pemegang jangka pendek rata-rata mengalami profit.
Hal ini penting karena tekanan jual jangka pendek selama ini menjadi hambatan utama bagi momentum kenaikan harga. Jika harga Bitcoin anjlok kembali, pemegang jangka pendek yang baru untung bisa kembali rugi dan melakukan penjualan.
Penjualan ini dapat menambah tekanan pada pasar dan meningkatkan volatilitas dalam jangka pendek. Lonjakan harga Bitcoin terjadi saat pasar menantikan keputusan penting dari Federal Reserve (The Fed) mengenai suku bunga.
Pertemuan The Fed dijadwalkan pada hari Rabu, di mana Ketua Jerome Powell akan mengadakan konferensi pers. Publik dan investor sangat waspada pada nada bicara Powell karena bisa memberikan petunjuk arah kebijakan moneter ke depan.
Presiden AS sebelumnya mengkritik Powell dan lambannya penurunan suku bunga oleh The Fed. Ketidakpastian ekonomi global terutama dipicu oleh konflik yang meningkat di Timur Tengah.
Harga minyak yang melambung tinggi akibat konflik ini dapat berdampak buruk pada kinerja Bitcoin. Harga minyak Brent bahkan berpotensi mencapai level $145 sesuai dengan kontrak yang sudah diperdagangkan.
The Fed diharapkan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5% hingga 3,75% dan tidak ada perubahan besar yang diprediksi. Namun, investor akan sangat memperhatikan bagaimana The Fed menyikapi dampak inflasi dari konflik di Timur Tengah.
Beberapa indikator ekonomi, seperti Producer Price Index, laporan penjualan rumah, dan klaim pengangguran juga akan dirilis pekan ini, menjadi tolok ukur kekuatan ekonomi AS. Selain The Fed, beberapa bank sentral utama dunia juga akan mengumumkan keputusan suku bunga.
Meski perubahan suku bunga jarang terjadi dalam pertemuan tersebut, kebijakan lanjutan akan sangat bergantung pada dinamika geopolitik. Ed Yardeni, presiden Yardeni Research, menyatakan bahwa para pembuat kebijakan memilih menunggu perkembangan perang di wilayah Iran sebelum bertindak lebih jauh.
Di sisi politik, ketegangan antara Gedung Putih dan The Fed makin meningkat. Presiden AS meluncurkan kritik terbuka terhadap Powell melalui media sosial terkait kinerja dan pengeluaran gedung The Fed.
Ketegangan ini menambah risiko ketidakpastian pasar keuangan secara keseluruhan. Pasar saham AS sendiri memulai pekan dengan kondisi beragam karena investor menyimak laporan kuartalan dari beberapa perusahaan besar.
Hasil laporan ini diharapkan memberikan gambaran tentang ketahanan sektor teknologi dan konsumsi di tengah tekanan inflasi serta ketegangan geopolitik. Jika prospek bisnis melemah, teori pasar risiko akan menurun dan berpotensi mempengaruhi aset berisiko seperti Bitcoin.
Meski demikian, Bitcoin menunjukkan pergerakan yang berbeda dari indeks saham utama. Sejak konflik di Timur Tengah dimulai, Bitcoin naik hampir 12% sementara sebagian besar indeks utama masih melemah.
Otychenko menambahkan bahwa performa Bitcoin saat ini tergolong solid dibandingkan dengan saham AS dan juga emas yang belum mampu beranjak positif. Namun, jika Powell memberikan sinyal kebijakan yang lebih ketat (hawkish), tekanan jual bisa meningkat kembali.
Sebaliknya, jika pembuat kebijakan tampak nyaman dengan tingkat inflasi saat ini, momentum penguatan Bitcoin berpotensi berlanjut. Situasi ini menegaskan bahwa harga Bitcoin masih sangat sensitif terhadap keputusan moneter dan perkembangan geopolitik global.
Secara keseluruhan, pergerakan harga Bitcoin yang menembus level $74.000 adalah indikator penting dalam konteks ekonomi makro dan geopolitik saat ini. Namun, volatilitas jangka pendek tetap tinggi dengan berbagai faktor eksternal yang harus diperhatikan oleh pelaku pasar.









