OpenAI Bantah Keras Klaim Konsumsi Air ChatGPT, Altman Desak Transisi Cepat ke Nuklir dan Energi Terbarukan

Author: Qoo Media

OpenAI CEO Sam Altman menolak klaim bahwa ChatGPT menggunakan air dalam jumlah besar. Menurutnya, tuduhan tersebut sama sekali tidak benar dan tidak sesuai dengan kenyataan operasional pusat data modern.

Dalam acara India AI Impact Summit, Altman menyatakan bahwa klaim tersebut “sepenuhnya salah” dan “sangat tidak masuk akal.” Ia menjelaskan bahwa pusat data terkini jarang menggunakan pendinginan evaporatif yang memerlukan air demi mengatur suhu server.

Fokus pada Konsumsi Listrik AI

Altman menegaskan bahwa isu yang lebih relevan adalah permintaan listrik yang meningkat seiring perkembangan AI. Ia mengatakan, “Kita harus beralih dengan cepat ke energi nuklir, angin, atau surya.” Pendekatan ini dianggap lebih berkelanjutan dan mampu memenuhi kebutuhan energi yang semakin tinggi.

Menurut Altman, energi yang dibutuhkan untuk satu kali pertanyaan ChatGPT sekitar 0,34 watt-jam. Konsumsi ini setara dengan penggunaan listrik oven hanya dalam beberapa detik. Dengan demikian, dampak AI terhadap konsumsi listrik bisa lebih efisien dibandingkan anggapan umum.

Perbandingan Energi AI dengan Manusia

Altman juga membandingkan konsumsi energi ketika melatih manusia dan AI. Ia menyebut bahwa seorang manusia membutuhkan sekitar 20 tahun hidup dan sejumlah makanan untuk mengembangkan kecerdasan. Sementara AI mampu memproses dan menjawab pertanyaan dalam skala energi yang lebih kecil per kueri.

Secara langsung, energi yang dikonsumsi AI untuk menjawab satu pertanyaan kini mendekati efisiensi energi yang diperlukan manusia untuk proses berpikir yang sama. Hal ini menunjukkan potensi AI sebagai teknologi yang ramah energi dalam jangka panjang.

Kenaikan Permintaan Sumber Daya dan Tantangan Energi

Sebuah laporan dari Xylem dan Global Water Intelligence memproyeksikan bahwa konsumsi air terkait AI dapat meningkat hingga 130% pada tahun 2050. Peningkatan ini terutama berasal dari pengoperasian infrastruktur listrik yang mendukung AI. Namun, menurut Altman, masalah ini lebih bersifat pada penggunaan listrik dan bukan air secara langsung.

Sementara itu, Departemen Energi AS mengalokasikan dana sekitar $1,9 miliar untuk mempercepat pembaruan jaringan listrik nasional. Upaya ini bertujuan memenuhi kebutuhan listrik yang melonjak akibat perkembangan AI dan memperkuat infrastruktur jaringan agar lebih andal.

Pentingnya Energi Terbarukan

Altman menekan urgensi peralihan cepat ke sumber energi bersih seperti tenaga nuklir, angin, dan surya. Transisi ini dianggap vital untuk mendukung pertumbuhan teknologi tanpa membebani lingkungan dengan konsumsi listrik fosil yang tinggi.

Pimpinan Xylem, Matthew Pine, menyebut bahwa banyak alat untuk mengatasi tantangan penggunaan air dalam energi sudah ada. Namun, fokus utama perlu dialihkan ke pengembangan energi terbarukan dan efisiensi pengelolaan listrik untuk masa depan AI yang berkelanjutan.

Meningkatnya Perhatian pada Infrastruktur Energi

Perkembangan AI turut menarik perhatian investor pada perusahaan penghasil dan penyedia energi. Kebutuhan listrik yang meningkat seiring ekpansi AI menjadi peluang sekaligus tantangan yang mendorong inovasi dalam infrastruktur energi.

Dari sisi konsumsi air, sebagian besar kenaikan penggunaan terkait dengan pembangkitan listrik. Oleh karena itu, pengelolaan sumber daya air dan listrik perlu terintegrasi agar dampak lingkungan dapat diminimalkan.

Dengan demikian, meskipun klaim konsumsi air ChatGPT berlebihan, kebutuhan energinya tetap menjadi perhatian utama. Percepatan investasi pada energi terbarukan dan teknologi jaringan listrik modern menjadi kunci dalam mendukung era AI yang bertanggung jawab secara lingkungan.

Terbaru