Bitcoin mengalami penurunan harga sebesar 20% tahun ini dan kini berada di sekitar angka $70,500 per koin. Meski demikian, analis aset digital Geoffrey Kendrick dari Standard Chartered memperkirakan Bitcoin akan mengalami lonjakan harga yang signifikan dalam jangka panjang.
Kendrick mengamati bahwa volatilitas Bitcoin mirip dengan saham teknologi di Nasdaq, di mana penurunan laba perusahaan teknologi dapat memicu tekanan jual yang berimbas pada Bitcoin. Jika Federal Reserve tidak melonggarkan kebijakan moneter, minat investor terhadap aset berisiko seperti Bitcoin kemungkinan akan tetap rendah.
Dalam jangka pendek, Kendrick memproyeksikan harga Bitcoin bisa turun hingga $50,000, yang berarti potensi penurunan sekitar 32% dari harga saat ini. Angka ini sejalan dengan pola penurunan terdahulu selama beberapa tahun terakhir. Namun, tekanan jual yang terjadi saat ini dianggapnya lebih ringan dibandingkan dengan musim dingin kripto sebelumnya.
Analis tersebut optimistis Bitcoin dapat rebound dan mencapai harga $100,000 pada akhir tahun. Faktor utama yang mendukung prospek ini adalah sifat Bitcoin sebagai aset langka dengan batas maksimum 21 juta koin. Kelangkaan ini membuat Bitcoin sering disebut sebagai “emas digital” oleh para investor.
Berbeda dengan aset langka lainnya seperti seni atau koleksi yang lebih dikuasai oleh investor kaya, Bitcoin selama ini masih banyak diminati oleh komunitas investor ritel. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, portofolio institusional mulai memasukkan Bitcoin sebagai bagian dari aset mereka.
Kemudahan akses ke Bitcoin kian bertambah dengan adanya produk keuangan seperti spot Bitcoin ETF yang diluncurkan oleh sejumlah bank besar. Hal ini memungkinkan para investor mengalokasikan dana dengan risiko tinggi namun potensi keuntungan asimetris ke dalam portofolio mereka secara lebih efisien dan terjangkau.
Kendrick dan juga Cathie Wood dari Ark Invest percaya bahwa aliran modal institusional yang terus meningkat ke Bitcoin berpotensi mendorong ekspansi valuasi secara signifikan. Namun, terdapat risiko besar dari perbandingan nilai Bitcoin terhadap emas yang sebesar $34 triliun, sementara kapitalisasi pasar Bitcoin baru mencapai sekitar $1,4 triliun.
Jika total 21 juta koin Bitcoin sudah ditambang, harga yang menyamai nilai pasar emas bisa mencapai sekitar $1,6 juta per koin — sebuah estimasi yang sangat optimis. Nilai Bitcoin sangat dipengaruhi oleh suku bunga, selera risiko investor, dan regulasi, tidak selalu mengikuti pola aset safe-haven tradisional seperti emas.
Investor perlu memahami bahwa meskipun potensi kenaikan harga Bitcoin hingga $500,000 sangat mungkin terjadi menurut Kendrick, pencapaian tersebut mungkin membutuhkan waktu lebih lama daripada yang diperkirakan banyak orang. Faktor eksternal dan volatilitas pasar menjadi kendala yang harus diperhitungkan.
Berikut beberapa poin penting terkait prospek Bitcoin menurut analis yang kredibel:
1. Harga Bitcoin saat ini sekitar $70,500 per koin dengan tren penurunan jangka pendek hingga ke $50,000.
2. Potensi rebound ke harga $100,000 pada akhir tahun mendorong peluang investasi jangka panjang.
3. Batas suplai Bitcoin hanya sebanyak 21 juta unit, yang menambah kelangkaan dan nilai aset.
4. Aliran dana institusional ke Bitcoin semakin menguat dengan hadirnya ETF dan produk keuangan lainnya.
5. Risiko investasi Bitcoin mencakup ketergantungan pada kebijakan moneter, regulasi, dan sentimen pasar global.
Kendrick menegaskan bahwa Bitcoin memiliki potensi menjadi aset multibagger di masa depan, namun juga menekankan bahwa perjalanan harga akan penuh dinamika dan tantangan tingkat tinggi. Investor disarankan untuk mempertimbangkan faktor risiko tersebut sebelum melakukan pembelian atau pengalokasian dana.
Dengan peran semakin besar institusi dan produk investasi yang mendukung pasar kripto, minat terhadap Bitcoin diperkirakan akan terus tumbuh. Momentum ini membuka kemungkinan Bitcoin mengalami kenaikan harga signifikan hingga menyentuh kisaran $500,000 sesuai dengan proyeksi analis ternama dari Wall Street.
