Bitcoin Tahan di $68,500 Saat Emas Hancur Dalam 9 Hari, Saham Asia Terpuruk Terus Menerus

Bitcoin menunjukkan ketahanan kuat di tengah gejolak pasar global terbaru. Harga BTC bertahan di level sekitar $68,500, naik 1,5% dalam 24 jam terakhir, sementara emas melanjutkan penurunan selama sembilan hari berturut-turut, turun ke angka sekitar $4,360.

Penurunan harga emas menjadi yang terpanjang dalam beberapa tahun, mencerminkan anomali karena emas biasanya memperkuat posisi sebagai aset safe haven saat terjadi krisis geopolitik. Di sisi lain, saham Asia juga mengalami tekanan signifikan dengan penurunan untuk sesi ketiga berturut-turut, menekan indeks utama menuju zona koreksi.

Bitcoin Bertahan di Tengah Volatilitas Pasar

Harga Bitcoin relatif stabil, berhasil mempertahankan level support di $66,000 selama beberapa pekan terakhir. Level ini juga bertahan saat aksi jual besar-besaran terkait konflik di Timur Tengah berlangsung. Para pembeli kini fokus mempertahankan posisi di atas $68,500, yang menjadi batas psikologis penting bagi pasar BTC.

Menurut Alexander Blume, CEO Two Prime, pasar derivatif Bitcoin menunjukkan optimisme. Para investor besar atau “whales” aktif menyerap tekanan jual dari spekulan jangka pendek pada harga tersebut. Posisi pendanaan yang meningkat turut mendukung prediksi bahwa pasar crypto berpotensi mengalami kenaikan, bukan penurunan signifikan.

Penurunan Harga Emas yang Dramatis

Emas mengalami tekanan jual yang didorong oleh kenaikan imbal hasil obligasi dan penguatan dolar AS. Kondisi ini mengakibatkan penurunan harga emas hingga 18% dari level tertingginya baru-baru ini. Situasi ini berlawanan dengan ekspektasi tradisional, di mana emas biasanya naik selama ketegangan geopolitik meningkat.

Lebih lanjut, likuiditas menjadi prioritas utama dibandingkan keamanan aset, terutama karena The Fed cenderung mempertahankan sikap hawkish dengan menaikkan suku bunga guna mengendalikan inflasi yang terdorong oleh konflik. Akibatnya, biaya memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas meningkat.

Tekanan di Pasar Saham Asia dan Crypto Lainnya

Indeks saham Asia jatuh untuk hari ketiga beruntun karena kekhawatiran mempertahankan suku bunga tinggi oleh bank sentral. Sentimen risk-off semakin meluas dan turut menekan indeks saham global seperti S&P dan bursa Eropa.

Sementara itu, dalam ranah crypto, Bitcoin dan Ether justru mengalami penguatan harga. Ether naik 2,7% ke sekitar $2,059, sementara beberapa altcoin seperti Solana dan Dogecoin mengalami penurunan harga. Pergerakan ini menunjukkan adanya seleksi modal ke dalam aset crypto yang dipandang lebih aman dan likuid.

Faktor Pemicu dan Prospek ke Depan

Traders kini mengamati perkembangan menjelang tenggat waktu ultimatum terkait ketegangan di jalur perairan strategis Strait of Hormuz. Harga minyak Brent telah mencapai $113 per barel, dan Goldman Sachs menilai potensi gangguan pasokan ini bisa menjadi salah satu shock terbesar dalam sejarah pasokan energi global.

Pergerakan harga Bitcoin di atas $68,000 menjadi kunci utama dalam menghadapi momentum ini. Jika BTC dapat menjaga level support di atas $66,000, maka potensi breakout menuju tren bullish tetap terbuka. Namun jika gagal bertahan, maka tekanan likuiditas dari pasar global dapat memicu koreksi yang lebih dalam di pasar crypto.

Berbanding terbalik dengan emas dan saham, Bitcoin menunjukkan ketahanan yang signifikan dalam kondisi pasar saat ini. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun aset tradisional dan pasar risiko sedang mengalami tekanan besar, Bitcoin tetap dipandang sebagai aset yang mampu menyerap tekanan pasar global dengan lebih baik.

Berita Terkait

Back to top button